Dalam panel “Investing in AI for an Inclusive Digital Future” di World Investment Forum 2026 yang diselenggarakan oleh United Nations Trade and Development (UNCTAD), CEO Ant International Peng Yang menyerukan inisiatif re-globalisasi yang baru dan inklusif dengan memanfaatkan AI dan konektivitas digital. Menurutnya, hal ini dapat membuka akses yang lebih luas bagi usaha kecil dan menengah (UMKM) terhadap pasar dan peluang global.

“Globalisasi 1.0 sebagian besar memberikan manfaat bagi perusahaan besar, sementara banyak UMKM hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berpartisipasi dalam perekonomian global. Inklusi sangat penting bagi re-globalisasi, dan AI akan mempercepatnya dengan membuka akses yang setara terhadap peluang," ujar Yang, dikutip dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Baca Juga: Laporan Baru Soroti Biosolusi sebagai Pendorong Utama Ambisi Indonesia Emas 2045

Keterbatasan Globalisation 1.0 dan Peran AI dalam Mengurangi Kesenjangan

Menurut Yang, salah satu keterbatasan terbesar Globalisasi 1.0 adalah pemusatan kekuatan pada perusahaan-perusahaan besar. Usaha kecil, yang mencakup lebih dari 90% bisnis di seluruh dunia, sering kali tertinggal karena adanya kesenjangan dalam teknologi, talenta, dan sumber daya lainnya. Akibatnya, mereka kesulitan ikut serta dalam gelombang globalisasi sebelumnya, yang menuntut pengelolaan berbagai pasar dan kompleksitas perdagangan global.

Menurut laporan World Trade Report 2024 dari WTO, sebanyak 8% perusahaan kecil dan 15% perusahaan menengah melakukan ekspor secara langsung, dibandingkan dengan 30% perusahaan besar. Kesenjangan dalam penggunaan AI semakin memperbesar tantangan tersebut. Survei Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2025 menunjukkan bahwa 52% perusahaan besar telah menggunakan AI, sementara perusahaan kecil baru 17,4%.

Namun, perkembangan AI membuka peluang untuk menciptakan persaingan yang lebih setara dan mempersempit kesenjangan, selama teknologi AI beserta penerapannya dapat diakses secara luas sehingga UMKM memiliki kesempatan yang setara.

“Dalam tiga tahun terakhir, kami melihat pertumbuhan UMKM yang sangat pesat ketika inovasi bertemu dengan inklusi. Ketika kami menawarkan solusi berbasis AI yang komprehensif dan terintegrasi (full-stack AI-native) kepada mereka, volume transaksi lintas negara UMKM di seluruh lini bisnis kami tumbuh sekitar 50% setiap tahun, atau 10 kali lipat dari tingkat pertumbuhan total volume perdagangan global,” ujarnya.

“Hal ini menunjukkan bahwa jika kita dapat melakukan berbagai hal dengan benar, mendorong inovasi, menyediakan teknologi AI, dan membuatnya lebih mudah diakses oleh pelaku usaha kecil, mereka dapat tampil di panggung global untuk tumbuh dan berkembang,” tambah Yang.

Ant International memproses 25 juta transaksi setiap hari melalui layanan pembayaran global, rekening global, pembiayaan tertanam, dan digitalisasi. Sebanyak 95% dari 150 juta merchant dalam basis pelanggan globalnya merupakan UMKM. Pada September 2026, Ant International mengumumkan berbagai solusi full-stack AI-native untuk pembayaran, rekening, valuta asing, pengelolaan kas, dan pertumbuhan bisnis global, yang banyak di antaranya dirancang untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi UMKM.

WorldFirst menggabungkan penerimaan pembayaran lintas negara, pembayaran, valuta asing, dan pengelolaan dana dalam satu rekening global. Hal ini memungkinkan pelaku usaha kecil mengelola operasional internasional, menerima dana dan melakukan pembayaran dengan risiko valas yang lebih rendah, serta mengakses modal kerja dengan biaya lebih terjangkau, bahkan tanpa tim keuangan dan pengelolaan kas khusus. Agen bisnis global berbasis AI Ant International untuk UKM—WorldFirst Autopilot—semakin menyederhanakan operasional dengan mengoptimalkan berbagai tugas keuangan dan menghubungkan pelaku usaha dengan layanan mitra melalui interaksi menggunakan bahasa sehari-hari.

Pada Global Payment, Alipay+, Alipay+, pembayaran digital global milik Ant International, menghubungkan lebih dari 50 dompet digital dengan lebih dari 150 juta merchant di seluruh dunia, dengan lebih dari 95% di antaranya merupakan UKM. Selain memfasilitasi pembayaran lintas negara secara mudah, Alipay+ membantu pelaku usaha kecil menjangkau konsumen global, baik secara online maupun di toko fisik, melalui kampanye pemasaran yang lebih efektif dan tepat sasaran dengan dukungan solusi pemasaran berbasis AI.

Yang juga menekankan bahwa bisnis, termasuk UMKM, perlu yakin bahwa AI dapat digunakan secara aman dan bertanggung jawab, terutama ketika agen AI mulai menangani berbagai tugas finansial dan operasional. Upaya perlindungan yang efektif memerlukan kolaborasi antara industri teknologi dan keuangan, serta regulator dan lembaga internasional.

“Kepercayaan adalah hal yang paling utama dalam layanan pembayaran dan keuangan, dan perannya menjadi semakin penting di era AI. Kita perlu bekerja sama erat dengan organisasi internasional dan regulator untuk mengembangkan kerangka kerja yang tepat, sekaligus membangun sistem perlindungan yang memungkinkan pelaku usaha memanfaatkan agen AI dengan aman. Kolaborasi di sektor swasta juga perlu didukung oleh lembaga internasional dan regulator untuk menetapkan standar bersama serta membangun infrastruktur yang tepercaya,” ujar Yang.

Yang menyampaikan bahwa dengan biaya AI yang semakin terjangkau dan akses yang semakin mudah bagi UMKM, pelaku usaha kecil maupun individu dapat memanfaatkan solusi inovatif berstandar perusahaan, mengotomatiskan operasional mereka sepenuhnya, serta merasakan manfaat dari revolusi ekonomi global berikutnya.

“Kami percaya pada masa depan di mana new normal dari Globalisation tidak akan meninggalkan siapa pun. Ketika inovasi bertemu dengan inklusi, semua orang dapat mengejar peluang mereka seperti yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar di masa lalu,” ujar Yang.

WIF ke-9, forum unggulan PBB yang mempertemukan komunitas investasi global, menghimpun para pembuat kebijakan, investor, dan pemimpin bisnis untuk membahas bagaimana investasi dapat mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan, tangguh, dan inklusif di tengah fragmentasi geopolitik dan pesatnya perubahan teknologi.