Memiliki mobil impian masih menjadi salah satu target finansial banyak masyarakat Indonesia. Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal harga kendaraan, melainkan bagaimana menabung secara realistis sesuai kemampuan pendapatan, bahkan bagi mereka dengan gaji terbatas. Dengan strategi yang tepat, impian memiliki mobil tetap dapat dicapai tanpa mengorbankan kesehatan keuangan.

Untuk memulai perjalanan tersebut, diperlukan langkah-langkah sistematis yang mencakup perencanaan dasar hingga eksekusi harian. Berikut panduan yang dapat membantu mengatur keuangan secara lebih bijak, sekaligus memastikan setiap keputusan mendukung tujuan jangka panjang.

Menentukan Target dan Menghitung Biaya

Langkah pertama adalah memilih mobil berdasarkan kebutuhan, bukan sekadar gengsi. Misalnya, kendaraan kategori Low Cost Green Car (LCGC) dengan harga sekitar Rp100–180 juta bisa menjadi pilihan awal bagi pembeli pertama.

Baca Juga: BYD Perkuat Percepatan Transisi Menuju Mobilitas Berkelanjutan di IIMS 2026

Selain harga kendaraan, calon pembeli perlu menghitung keseluruhan biaya kepemilikan, seperti harga on the road (OTR), pajak kendaraan yang berkisar 2–12% tergantung daerah, asuransi, biaya perawatan, hingga pengeluaran bahan bakar bulanan. Perhitungan ini penting agar tabungan memiliki target yang jelas.

Sebagai ilustrasi, untuk membeli mobil senilai Rp60 juta dalam waktu lima tahun, diperlukan tabungan sekitar Rp1 juta per bulan. Target ini harus disesuaikan dengan kemampuan pendapatan agar tetap realistis. Penggunaan rekening khusus untuk dana pajak atau perawatan juga disarankan agar anggaran tidak tercampur dengan kebutuhan lain.

Menyusun Anggaran dan Menambah Penghasilan

Pengelolaan keuangan dapat dimulai dengan metode anggaran 50/30/20, yakni 50% untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan. Menyisihkan tabungan melalui sistem auto-debit ke rekening terpisah saat gaji masuk dapat membantu menjaga konsistensi menabung.

Baca Juga: Tips Liburan Akhir Pekan dengan Mobil PHEV

Audit pengeluaran rutin juga menjadi langkah penting. Misalnya, mengurangi makan di luar yang mencapai Rp500 ribu per bulan dengan memasak di rumah dapat menghemat sekitar Rp300 ribu. Pembatasan langganan hiburan digital atau optimalisasi transportasi umum juga bisa memangkas pengeluaran tambahan.

Selain menekan biaya, menambah pemasukan melalui pekerjaan sampingan seperti freelance, jualan online, atau proyek tambahan dapat mempercepat pencapaian target. Bahkan, menjual barang yang tidak terpakai pun dapat menjadi sumber dana tambahan.

Memanfaatkan Investasi dan Riset Harga

Tabungan untuk membeli mobil juga dapat dioptimalkan melalui investasi, seperti reksa dana atau emas, yang berpotensi memberikan pertumbuhan sekitar 5–10% per tahun untuk jangka waktu lebih dari dua tahun. Beberapa layanan digital juga menawarkan instrumen investasi dengan nominal awal terjangkau.

Namun, penting memahami risiko dan mempertimbangkan konsultasi dengan ahli sebelum berinvestasi.

Baca Juga: Daftar Kolektor Mobil Terkaya di Indonesia, dari Pengusaha hingga Selebritas

Dalam mencari kendaraan, calon pembeli dapat melakukan riset melalui berbagai platform, termasuk sistem lelang mobil daring seperti Mobil Online Auction System (MOAS) untuk mendapatkan harga kompetitif, maupun fasilitas pembiayaan seperti BSI OTO dari Bank Syariah Indonesia yang menyediakan opsi kredit berbasis prinsip syariah dengan uang muka sekitar 20–30% dan tenor 3–5 tahun.

Menjaga Disiplin dan Memantau Progres

Kunci utama keberhasilan adalah disiplin menerapkan prinsip pay yourself first, yakni menempatkan tabungan sebagai prioritas utama sebelum membelanjakan pendapatan. Penggunaan aplikasi pencatat arus kas dapat membantu memantau perkembangan tabungan serta mengevaluasi kondisi keuangan secara berkala.

Dengan konsistensi, bahkan pendapatan terbatas sekalipun berpotensi mewujudkan pembelian mobil secara tunai dalam kurun tiga hingga lima tahun. Tentu, strategi ini perlu disesuaikan dengan kondisi finansial masing-masing individu.

Pada akhirnya, memiliki mobil bukanlah mimpi yang mustahil jika direncanakan secara matang. Dengan pendekatan yang realistis dan bertahap, masyarakat dapat mencapai kemandirian mobilitas tanpa terbebani utang berlebihan, sekaligus menjaga stabilitas keuangan jangka panjang.