Growthmates, banyak pelaku usaha, terutama startup, terlalu fokus mencari pendanaan agar bisnis bisa terus berjalan.
Padahal, menurut Pakar Keuangan dan Investasi, Prof. Ir. Roy H.M. Sembel, MBA, Ph.D, CSA, CIB, fondasi utama sebuah bisnis yang sehat justru dimulai dari pengelolaan arus kas (cash flow) yang baik.
Prof. Roy menegaskan bahwa setiap pebisnis harus memahami dasar-dasar manajemen keuangan sebelum berbicara mengenai ekspansi atau mencari investor.
"Yang paling basic adalah cash flow management. Uang masuk dan uang keluar tetap harus dicatat. Tinggal nanti dikategorikan, uang masuknya dari mana dan keluarnya untuk apa. Dari situ paling tidak fondasinya sudah terbentuk," tegas Prof. Roy, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram @bigthinkers.id, Rabu (1/7/2026).
Menurut Prof. Roy, setelah memiliki pencatatan arus kas yang rapi, pelaku usaha perlu mempelajari prinsip-prinsip dasar manajemen keuangan agar kondisi bisnis dapat dipantau secara lebih terstruktur.
"Setelah itu baru belajar yang basic dari financial management, bagaimana pencatatannya supaya lebih terstruktur," katanya.
Prof. Roy menilai, masih banyak startup yang mengabaikan prinsip dasar bisnis yang sebenarnya sudah lama diajarkan oleh para pakar. Akibatnya, bisnis tampak berkembang, tetapi belum memiliki fondasi yang kuat.
Ia menyebut, setidaknya ada lima prinsip yang harus diperhatikan setiap pelaku usaha agar bisnis dapat bertahan dan berkembang secara sehat.
Prinsip pertama adalah memastikan bisnis mampu menghasilkan arus kas dari kegiatan operasional (cash flow from operations), bukan bergantung pada suntikan dana dari investor atau pinjaman.
"Banyak startup justru mengharapkan cash flow dari financing. Padahal yang paling penting adalah apakah bisnisnya menghasilkan cash flow from operation, bukan dari financing atau investment," jelasnya.
Baca Juga: Belajar dari Kesuksesan Amazon, Guru Besar SBM ITB Ungkap Kunci Transformasi Bisnis yang Tepat
Prinsip kedua, kata Prof. Roy, adalah memastikan bisnis benar-benar menghasilkan keuntungan. Menurut Prof. Roy, selisih antara harga jual dan biaya harus cukup sehingga usaha memiliki profit yang sehat.
Selanjutnya, bisnis juga harus memiliki penjualan yang terus bergerak. Tingginya penjualan atau turnover menjadi indikator bahwa produk atau layanan benar-benar diterima oleh pasar.
Selain itu, lanjut dia, pertumbuhan bisnis harus berlangsung secara berkelanjutan, bukan hanya melonjak sesaat lalu meredup.
"Bisnis harus bertumbuh secara sustainable, bukan seperti shooting star yang sebentar naik lalu hilang. Pertumbuhannya harus bertanggung jawab dan berkelanjutan," terangnya.
Namun, seluruh prinsip tersebut tidak akan berjalan tanpa memahami pasar dan pelanggan.
Prof. Roy menekankan bahwa sumber utama arus kas operasional berasal dari pelanggan, sehingga pebisnis harus benar-benar mengenali siapa konsumennya, apa kebutuhan mereka saat ini, hingga perubahan kebutuhan yang mungkin muncul di masa depan.
"Anda harus tahu market Anda, customer Anda, seleranya seperti apa, potensi kebutuhannya di masa depan seperti apa, termasuk latent needs-nya. Karena pada akhirnya cash flow from operation itu datang dari klien, baik klien retail maupun B2B," tutur Prof. Roy.
Prof. Roy pun menegaskan bahwa memahami pelanggan bukan hanya membantu meningkatkan penjualan, tetapi juga menjadi kunci agar bisnis mampu bertahan dalam jangka panjang.
“Dengan fondasi berupa pengelolaan arus kas yang baik, pencatatan keuangan yang rapi, profitabilitas, penjualan yang sehat, pertumbuhan berkelanjutan, serta pemahaman mendalam terhadap pasar, sebuah bisnis akan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara konsisten,” tandasnya.
Baca Juga: Theo Derick Ungkap Kunci Bisnis Bertumbuh: Founder Jangan Hanya Diam di Kantor