Perluasan bisnis menjadi salah satu langkah Erajaya Group memasuki usia ke-30. Namun, di tengah ekspansi jaringan ritel dan penambahan berbagai kategori bisnis, perusahaan juga memperkuat agenda keberlanjutan melalui pengelolaan limbah elektronik, pendidikan vokasi, hingga konservasi lingkungan.

Salah satu fokusnya adalah persoalan limbah elektronik atau e-waste yang ikut meningkat seiring penggunaan perangkat elektronik oleh masyarakat.

Melalui program Erajaya Sustainable Gadget, perusahaan mendorong pengelolaan perangkat elektronik yang sudah rusak maupun tidak digunakan melalui skema ekonomi sirkular dan rantai daur ulang.

Program tersebut antara lain dijalankan melalui erafone Jaga Bumi dan Urban Republic Zero Waste. Keduanya menyediakan titik pengumpulan limbah elektronik di sejumlah lokasi ritel maupun dalam berbagai kegiatan perusahaan.

Baca Juga: Perjalanan 30 Tahun Erajaya: Bawa Identitas Bisnis Baru untuk Fase Pertumbuhan Berikutnya

Sejak diluncurkan pada 2024, sebanyak 4.238 gadget rusak atau perangkat yang sudah tidak digunakan telah didaur ulang melalui mitra daur ulang.

President Director & Group CEO Erajaya, Budiarto Halim, mengatakan keberlanjutan ditempatkan sebagai bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan.

“Bagi kami, keberlanjutan merupakan bagian tak terpisahkan dari strategi pertumbuhan Erajaya menciptakan nilai dan dampak yang lebih luas,” ujar Budiarto.

Tak berhenti pada pengelolaan limbah, perusahaan juga menjalankan program yang menyasar pengembangan sumber daya manusia melalui Program Penguatan & Kerjasama Vokasi Erajaya.

Program yang telah berjalan sejak 2019 tersebut mempertemukan dunia pendidikan dengan kebutuhan industri ritel. Hingga kini, program tersebut telah menjangkau lebih dari 3.000 siswa melalui pelatihan vokasi serta membangun kemitraan dengan 221 sekolah di 29 provinsi.

Selain pendidikan, Erajaya menjalankan Wana Erajaya sebagai inisiatif konservasi dan carbon offsetting. Program ini berfokus pada restorasi ekosistem, perlindungan keanekaragaman hayati, mitigasi perubahan iklim melalui reforestasi, serta pengelolaan hutan berkelanjutan.

Program tersebut berpotensi memberikan kontribusi carbon emissions offset sekitar 1.922 tCO2e.

Langkah keberlanjutan tersebut berjalan beriringan dengan ekspansi bisnis Erajaya. Hingga Semester I 2026, perusahaan mengoperasikan lebih dari 2.500 gerai di Indonesia, Singapura, dan Malaysia dengan dukungan lebih dari 22.000 karyawan.

Baca Juga: 30 Tahun Erajaya Group: Merayakan Metamorfosis Gaya Hidup Aktif Sebagai Identitas Masyarakat Urban

Sepanjang periode tersebut, Erajaya juga menambah 173 gerai baru. Bisnis perusahaan kini tidak hanya bertumpu pada kategori digital, tetapi berkembang ke active lifestyle serta food & nourishment.

Diversifikasi itu mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan. Bisnis di luar kategori digital menyumbang sekitar 12 persen dari total penjualan Erajaya pada Semester I 2026. Sebelumnya, pada FY2025, perusahaan membukukan penjualan tahunan sebesar Rp76 triliun.

Menurut Budiarto, pertumbuhan bisnis perlu berjalan seiring dengan upaya menciptakan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

“Melalui inisiatif lingkungan, pendidikan vokasi, dan pengelolaan limbah elektronik, kami ingin memastikan fondasi serta kapabilitas bisnis yang telah dibangun selama 30 tahun dapat juga memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” katanya.

Baca Juga: Satu Layar, Banyak Peran: Bagaimana Erajaya Group Membaca Perubahan Gaya Hidup Digital?

Memasuki dekade berikutnya, Erajaya menyatakan akan terus mengembangkan berbagai inisiatif tersebut dengan mempertimbangkan arah pertumbuhan bisnis, perkembangan regulasi, dan ekspektasi para pemangku kepentingan.

Momentum 30 tahun Erajaya sendiri mengusung tema “Towards the Next Era – A Legacy of Innovation, a Future of Possibilities” dengan semangat #EranyaKita.