Salah satu kondisi yang dapat terjadi adalah hyperarousal, yaitu ketika tubuh sudah merasa lelah tetapi otak dan sistem saraf masih berada dalam kondisi aktif. Akibatnya, mekanisme tubuh untuk memasuki fase tidur tidak berjalan secara optimal.

“Gangguan tidur dapat dipicu berbagai faktor,” jelas dr. Yunita.

Faktor tersebut antara lain stres, kecemasan, overthinking, kebiasaan menggunakan gawai hingga larut malam, jadwal tidur yang tidak konsisten, serta kondisi kamar dengan cahaya yang terlalu terang.

Konsumsi kopi, teh pekat, minuman energi, dan nikotin juga dapat berpengaruh terhadap kualitas tidur.

Selain faktor gaya hidup, gangguan tidur juga dapat berkaitan dengan perubahan hormonal, penyakit tertentu, gangguan tidur seperti obstructive sleep apnea dan restless legs syndrome, hingga penggunaan obat-obatan tertentu.

Karena itu, memperbaiki kualitas tidur tidak cukup hanya dengan mengandalkan suplemen magnesium.

Menurut dr. Yunita, pendekatan yang lebih menyeluruh diperlukan, termasuk mengonsumsi makanan yang kaya magnesium, melakukan aktivitas fisik secara teratur, menjaga pola tidur yang konsisten, serta memastikan kebutuhan vitamin dan mineral lain terpenuhi.

“Bukan hanya mengejar tidur lebih nyenyak, tetapi juga bagaimana meningkatkan quality of life,” pungkas dr. Yunita.

Baca Juga: Tidur 8 Jam tapi Bangun Tetap Lelah? Dokter Ungkap 6 Penyebab yang Jarang Disadari