PT Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna) mencatatkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga akhir 2025 sebesar Rp13,44 triliun dengan komposisi dana murah (CASA) mencapai 22,73% dibandingkan dengan akhir tahun 2024 sebesar 16,12%. Peningkatan tersebut berkontribusi untuk memperkuat komposisi rasio dana murah korporasi yang mencerminkan meningkatnya kepercayaan nasabah.

Adapun, total aset Bank Sampoerna juga mengalami peningkatan sepanjang tahun 2025 sebesar 2,69% menjadi Rp18,2 triliun. Pertumbuhan ini juga diiringi dengan penguatan di sisi permodalan, dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 29,72%, mencerminkan kesiapan modal untuk pertumbuhan secara berkelanjutan.

Baca Juga: Laba Bersih ARKO Tumbuh 52,9% selama 2025

"Situasi saat ini tidak mudah, terutama di tengah kondisi global dan domestik yang masih dipenuhi tantangan serta perlambatan permintaan di dalam negeri yang tercermin dari moderasi konsumsi rumah tangga dan pertumbuhan kredit yang lebih terbatas, khususnya pada sektor UMKM. Namun, Bank Sampoerna berkomitmen untuk terus memberikan dukungan, baik melalui pembiayaan maupun pendampingan, serta berkolaborasi dengan mitra-mitra strategis guna mendorong pertumbuhan UMKM yang berkelanjutan," ujar Direktur Finance & Business Planning Bank Sampoerna, Henky Suryaputra, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Per Desember 2025, komposisi penyaluran kredit UMKM oleh Bank Sampoerna mencapai 57,16% dari total kredit yang disalurkan. Tidak hanya itu, perusahaan juga berhasil menjaga rasio Non- Performing Loan/NPL Gross sebesar 3,79% dengan NPL Net sebesar 2,28%, lebih baik dari posisi akhir tahun 2024.

CEO Bank Sampoerna, Ali Yong, menegaskan bahwa adopsi teknologi dalam sistem perbankan menjadi hal yang esensial. Pihaknya mendukung penguatan digitalisasi sistem korporasi dengan menyediakan infrastruktur yang andal berbasis Bank as a Service (BaaS).

“Dalam menjangkau nasabah dan pelaku UMKM secara lebih luas, kami menyadari tidak bisa berjalan sendiri. Oleh karena itu, kami terus membuka peluang kolaborasi guna memberikan nilai tambah bagi nasabah hingga ke pelosok negeri. Melalui layanan BaaS, saat ini sudah lebih dari 50 perusahaan fintech, multifinance, koperasi, dan institusi keuangan lainnya yang terlibat untuk menjembatani nasabah masuk dalam ekosistem keuangan digital,” ungkapnya.

Berkat layanan BaaS, aktivitas transaksi digital menunjukkan peningkatan yang signifikan di sepanjang tahun 2025. Hal tersebut tercermin dari volume transaksi yang tumbuh 21% yoy dari Rp144 triliun pada Desember 2024 menjadi Rp174 triliun pada Desember 2025. Sementara itu, frekuensi transaksi juga mengalami lonjakan lebih dari 1.000%, dari 42 juta transaksi menjadi 643 juta transaksi. Infrastruktur tersebut memberikan peluang bagi para mitra untuk mengembangkan potensi bisnis sekaligus memperkuat ekosistem keuangan yang inklusif.

Selain memperkuat sistem internal, Bank Sampoerna juga secara konsisten menyelenggarakan kegiatan literasi keuangan bertajuk SampoernaFest. Dalam dua tahun penyelenggaraannya, acara ini telah memperkenalkan layanan digital Sampoerna Mobile Banking kepada ribuan nasabah baru dan melibatkan 79 mitra UMKM lokal dari berbagai sektor, mulai dari kuliner hingga lifestyle.

"Melalui berbagai upaya ini, Bank Sampoerna terus berkomitmen menyalurkan pembiayaan untuk mendukung pertumbuhan UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional. Selain itu, melalui kolaborasi dengan mitra strategis, kami berkomitmen untuk menjangkau lebih banyak nasabah dan pelaku UMKM, sekaligus memperkuat ekosistem keuangan berkelanjutan," tutup Ali.