Interaksi antara faktor genetik dan lingkungan juga berperan dalam kemunculan penyakit autoimun.
Prof. Ronny menjelaskan bahwa keberadaan gen yang meningkatkan kerentanan tidak selalu berarti seseorang pasti mengalami penyakit autoimun. Faktor lingkungan dapat memengaruhi aktivitas gen melalui mekanisme epigenetik, termasuk metilasi deoxyribonucleic acid (DNA).
“Sebagai contoh, seseorang yang memiliki gen HLA tertentu mungkin tidak akan sakit tanpa adanya infeksi yang memicu. Begitu pula, wanita yang berpotensi terkena lupus bisa mengalami flare setelah terpapar sinar ultraviolet (UV) atau mengalami tekanan mental,” jelasnya.
Karena itu, ketika seseorang telah didiagnosis mengalami penyakit autoimun, penanganannya tidak hanya bergantung pada pengobatan, tetapi juga perlu disertai pengelolaan gaya hidup dan dukungan psikososial.
Prof. Ronny menyarankan penderita melakukan konsultasi secara rutin dengan dokter yang sesuai dengan kondisi penyakitnya, termasuk dokter reumatologi atau imunologi.
Jenis pengobatan akan disesuaikan dengan diagnosis dan kondisi masing-masing pasien. Terapi dapat mencakup obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID (non-steroidal anti-inflammatory drugs), kortikosteroid, imunomodulator, hingga terapi khusus seperti insulin pada pasien diabetes tipe 1.
Selain menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, penerapan gaya hidup sehat juga menjadi bagian penting dalam membantu menjaga kondisi tubuh.
“Penderita autoimun disarankan mulai menerapkan gaya hidup sehat, seperti memiliki pola makan yang baik, pola makan antiinflamasi, menghindari rokok, mengelola stres, tidur yang cukup, serta mencatat pemicu gejala. Selain itu, langkah kecil ini membantu merasa lebih baik tiap hari,” pungkas Prof. Ronny.
Baca Juga: Mengapa Penyakit Autoimun Lebih Rentan Menyerang Perempuan?