Dalam pemberitaan pada 19–20 Oktober 2026, BMKG Nganjuk dilaporkan tidak mendeteksi aktivitas kegempaan di sekitar Gunung Pandan yang dapat langsung dikaitkan dengan peristiwa tersebut.

Dr. Givo menegaskan, tidak ditemukannya aktivitas kegempaan yang relevan dapat menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menilai dugaan aktivitas tektonik. Namun, informasi tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa dentuman berasal dari meteor ataupun fenomena atmosfer.

“Informasi ini dapat mengurangi dukungan terhadap dugaan gempa tektonik, tetapi belum membuktikan bahwa penyebabnya adalah meteor atau fenomena atmosfer,” tambahnya.

Untuk memperoleh kesimpulan yang lebih kuat, Dr. Givo menyebut diperlukan pemeriksaan berbagai data pendukung. Bukti tersebut antara lain rekaman kamera dari beberapa lokasi, data seismograf, informasi aktivitas petir, serta kondisi cuaca ketika dentuman terdengar.

Keterangan warga juga dapat membantu proses penelusuran, terutama jika disertai informasi mengenai waktu dan lokasi kejadian, arah datangnya suara, serta jeda waktu antara kilatan cahaya dan dentuman. Data dari berbagai sumber tersebut perlu dicocokkan agar peneliti dapat menyusun gambaran kejadian secara lebih akurat.

“Sampai penyebabnya terverifikasi, penjelasan yang paling tepat adalah bahwa sumber dentuman tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah. Kesimpulan harus mengikuti kekuatan bukti yang tersedia,” tegas Dr. Givo.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyebarkan dugaan sebagai fakta. Warga yang memiliki rekaman kejadian disarankan menyimpan berkas asli beserta informasi waktu dan lokasi pengambilan gambar agar dapat membantu proses verifikasi.

Apabila menemukan benda asing atau lokasi yang diduga terdampak, masyarakat diminta menjaga jarak dan tidak menyentuh benda yang belum diketahui asalnya.

“Jika menemukan benda asing atau lokasi yang diduga terdampak, jaga jarak dan jangan sentuh benda yang belum diketahui asalnya,” tutupnya.

Penelusuran dentuman misterius di Bojonegoro membutuhkan bukti yang dapat diuji, bukan sekadar dugaan berdasarkan suara atau kilatan cahaya. Dengan menggabungkan data atmosfer, seismik, rekaman visual, dan kesaksian warga, sumber kejadian diharapkan dapat diketahui secara lebih akurat tanpa mendahului hasil kajian ilmiah.

Baca Juga: Memahami Fenomena 'Checklist Fatigue': Rasa Lelah saat Mencari Pasangan yang Cocok, Kamu Merasakannya?