Suara dentuman keras yang terdengar di wilayah Bojonegoro dan sekitarnya pada Oktober 2026 memicu beragam spekulasi di tengah masyarakat. Rekaman yang memperlihatkan kilatan cahaya di langit turut memunculkan dugaan mengenai kemungkinan jatuhnya meteor, aktivitas geologi, hingga fenomena atmosfer. Namun, hingga penyebabnya terverifikasi, sumber dentuman tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Dr. Givo Alsepan, menjelaskan bahwa suara dentuman yang belum diketahui sumbernya tidak bisa langsung dikaitkan dengan fenomena tertentu hanya berdasarkan kemiripan suara atau rekaman yang beredar di media sosial.
Menurutnya, penelusuran perlu dilakukan melalui kajian lintas disiplin yang melibatkan fisika atmosfer, geofisika, dan astronomi. Berbagai bukti harus dikumpulkan dan dicocokkan untuk menentukan kemungkinan penyebab kejadian tersebut.
“Kemiripan suara bukan bukti kesamaan penyebab. Untuk mengetahui sumbernya, kita perlu menggabungkan bukti dari berbagai bidang ilmu, bukan hanya mengandalkan kesaksian atau rekaman yang beredar di media sosial,” jelas Givo, dikutip dari laman resmi IPB Universoty, Kamis (29/10/2026).
Salah satu kemungkinan yang dapat ditelusuri adalah meteor yang memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi. Ketika benda antariksa bergerak menembus atmosfer, interaksi dengan udara dapat menghasilkan pemanasan intensif. Dalam kondisi tertentu, peristiwa tersebut juga dapat menimbulkan gelombang kejut yang terdengar sebagai dentuman di permukaan Bumi.
Meski demikian, kemunculan kilatan cahaya yang berdekatan dengan suara dentuman belum cukup untuk memastikan bahwa peristiwa di Bojonegoro disebabkan oleh meteor. Rekaman visual perlu diperiksa untuk mengetahui keaslian, waktu kejadian, lokasi pengambilan gambar, serta kemungkinan lintasan objek yang terlihat.
“Rekaman visual perlu diverifikasi, termasuk waktu kejadian, lokasi pengambilan gambar, dan lintasan objek yang terlihat,” tutur Dr. Givo.
Selain meteor, fenomena atmosfer juga menjadi salah satu kemungkinan yang perlu diperiksa. Aktivitas petir, misalnya, dapat menghasilkan suara keras yang terdengar hingga wilayah yang cukup jauh dari sumbernya. Kondisi atmosfer tertentu juga dapat memengaruhi cara gelombang suara merambat.
Salah satunya adalah inversi suhu, yakni kondisi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan atmosfer tertentu. Kondisi ini dapat membelokkan gelombang suara sehingga bunyi dari sumber yang jauh terdengar lebih jelas di wilayah tertentu.
Kemungkinan lain berkaitan dengan aktivitas tektonik atau geologi. Pelepasan energi akibat pergerakan batuan dapat menghasilkan gelombang seismik yang terdeteksi oleh instrumen pemantau gempa. Namun, suara dentuman keras tidak serta-merta menjadi bukti bahwa telah terjadi gempa bumi.
Baca Juga: Fenomena Matahari Tepat di Atas Pulau Jawa, Mengapa Jakarta Panas dan Bogor Masih Hujan?
Dalam pemberitaan pada 19–20 Oktober 2026, BMKG Nganjuk dilaporkan tidak mendeteksi aktivitas kegempaan di sekitar Gunung Pandan yang dapat langsung dikaitkan dengan peristiwa tersebut.
Dr. Givo menegaskan, tidak ditemukannya aktivitas kegempaan yang relevan dapat menjadi salah satu bahan evaluasi untuk menilai dugaan aktivitas tektonik. Namun, informasi tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa dentuman berasal dari meteor ataupun fenomena atmosfer.
“Informasi ini dapat mengurangi dukungan terhadap dugaan gempa tektonik, tetapi belum membuktikan bahwa penyebabnya adalah meteor atau fenomena atmosfer,” tambahnya.
Untuk memperoleh kesimpulan yang lebih kuat, Dr. Givo menyebut diperlukan pemeriksaan berbagai data pendukung. Bukti tersebut antara lain rekaman kamera dari beberapa lokasi, data seismograf, informasi aktivitas petir, serta kondisi cuaca ketika dentuman terdengar.
Keterangan warga juga dapat membantu proses penelusuran, terutama jika disertai informasi mengenai waktu dan lokasi kejadian, arah datangnya suara, serta jeda waktu antara kilatan cahaya dan dentuman. Data dari berbagai sumber tersebut perlu dicocokkan agar peneliti dapat menyusun gambaran kejadian secara lebih akurat.
“Sampai penyebabnya terverifikasi, penjelasan yang paling tepat adalah bahwa sumber dentuman tersebut belum dapat dipastikan secara ilmiah. Kesimpulan harus mengikuti kekuatan bukti yang tersedia,” tegas Dr. Givo.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru menyebarkan dugaan sebagai fakta. Warga yang memiliki rekaman kejadian disarankan menyimpan berkas asli beserta informasi waktu dan lokasi pengambilan gambar agar dapat membantu proses verifikasi.
Apabila menemukan benda asing atau lokasi yang diduga terdampak, masyarakat diminta menjaga jarak dan tidak menyentuh benda yang belum diketahui asalnya.
“Jika menemukan benda asing atau lokasi yang diduga terdampak, jaga jarak dan jangan sentuh benda yang belum diketahui asalnya,” tutupnya.
Penelusuran dentuman misterius di Bojonegoro membutuhkan bukti yang dapat diuji, bukan sekadar dugaan berdasarkan suara atau kilatan cahaya. Dengan menggabungkan data atmosfer, seismik, rekaman visual, dan kesaksian warga, sumber kejadian diharapkan dapat diketahui secara lebih akurat tanpa mendahului hasil kajian ilmiah.