Anak yang sulit mengikuti instruksi kerap dianggap tidak mendengarkan, kurang fokus, atau sulit diatur. Padahal, kemampuan memahami dan merespons arahan melibatkan berbagai aspek perkembangan, mulai dari kemampuan bahasa, perhatian, memori, regulasi emosi, hingga pemrosesan sensorik.
Memahami penyebab di balik perilaku tersebut menjadi langkah penting agar orang tua dapat memberikan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Melalui edukasi mengenai peran psikolog dan terapis okupasi (occupational therapist), Atelier of Minds, student care dan enrichment center inklusif di Jakarta Selatan, mengajak orang tua melihat kesulitan anak mengikuti instruksi dari perspektif perkembangan, bukan semata-mata persoalan perilaku.
Erna Yulianti, S.Psi., M.Psi., Psikolog Atelier of Minds, memaparkan, psikolog dapat membantu memahami aspek perkembangan psikologis anak, termasuk perhatian, regulasi emosi, perilaku, serta kemampuan memproses dan merespons instruksi.
Psikolog juga dapat mengevaluasi fungsi eksekutif (executive function), yakni serangkaian kemampuan yang membantu anak mengingat arahan, mempertahankan perhatian, mengatur respons, dan menyelesaikan tugas.
“Melalui asesmen dan observasi sesuai kebutuhan, psikolog dapat mengidentifikasi faktor yang mungkin memengaruhi perilaku anak sekaligus memberikan rekomendasi bagi orang tua dan lingkungan belajar,” papar Erna, dikutip dari keterangan resminya, Kamis (29/10/2026).
Sementara itu, terapis okupasi memiliki fokus pada kemampuan anak berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari. Dwi Ayu Nur Komariyah, M.Sc.OT, Occupational Therapist Atelier of Minds, menjelaskan bahwa pemrosesan sensorik, perhatian, serta respons tubuh terhadap lingkungan dapat memengaruhi kemampuan anak mengikuti arahan, baik saat bermain, belajar, maupun menjalani rutinitas harian.
“Dalam terapi okupasi, kami melihat bagaimana pemrosesan sensorik dan perhatian terhadap lingkungan memengaruhi kemampuan anak mengikuti arahan dan berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari,” tambah Dwi.
Kedua profesi tersebut memiliki pendekatan berbeda, tetapi dapat saling melengkapi sesuai kebutuhan anak. Psikolog membantu memahami aspek psikologis dan perilaku, sedangkan terapis okupasi berfokus pada keterampilan fungsional serta partisipasi anak dalam kesehariannya.
Kemampuan mengikuti instruksi sendiri berkembang secara bertahap seiring pertambahan usia. Perkembangan ini turut dipengaruhi bahasa reseptif atau kemampuan memahami kata-kata, perhatian (attention), memori kerja (working memory), serta regulasi perilaku.
Baca Juga: Orang Tua Ungkap Harapan untuk Anak Neurodivergent: Masyarakat Perlu Lebih Aware dan Empati
Secara umum, pada usia 9–12 bulan, bayi mulai merespons nama dan memahami kata-kata sederhana. Memasuki usia 12–18 bulan, anak mulai dapat mengikuti instruksi sederhana dengan bantuan gestur. Kemampuan tersebut kemudian berkembang hingga anak mulai memahami instruksi tanpa gestur pada usia 18–24 bulan.
Pada rentang usia 2–3 tahun, anak mulai belajar mengikuti instruksi dua langkah. Sementara itu, pada usia 3–4 tahun, anak dapat mulai mengikuti arahan tiga langkah dan instruksi yang lebih kompleks. Meski demikian, rentang usia tersebut merupakan gambaran umum, bukan patokan mutlak, karena perkembangan setiap anak dapat berbeda.
“Ketika anak belum dapat mengikuti instruksi, kita perlu melihat apakah arahan yang diberikan sudah sesuai dengan kemampuannya, apakah anak memahami kata-kata yang digunakan, dan apakah ia siap memproses informasi tersebut,” jelas Erna.
Karena itu, orang tua dapat mencoba menyesuaikan cara berkomunikasi dengan kebutuhan anak. Berikan instruksi secara singkat dan jelas, sampaikan satu arahan dalam satu waktu, serta gunakan gestur atau contoh langsung jika diperlukan.
Orang tua juga dapat memberikan jeda agar anak memiliki waktu untuk memproses informasi sebelum instruksi diulang. Lingkungan yang lebih tenang dapat membantu anak yang mudah terdistraksi oleh suara, gerakan, atau rangsangan di sekitarnya.
Selain mencoba strategi tersebut, orang tua perlu memperhatikan pola kesulitan yang dialami anak. Misalnya, apakah anak hanya kesulitan mengikuti instruksi dalam situasi tertentu, apakah arahan yang diberikan terlalu panjang, atau apakah kesulitan juga muncul dalam aktivitas sehari-hari.
Orang tua sebaiknya mempertimbangkan konsultasi dengan tenaga profesional apabila anak terus mengalami kesulitan memahami instruksi yang sesuai dengan tahap perkembangannya, jarang merespons ketika dipanggil, atau kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai.
Tanda-tanda tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya gangguan perkembangan. Namun, jika terjadi berulang, menetap, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, evaluasi profesional dapat membantu mengidentifikasi kebutuhan anak. Jika anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya dikuasai, orang tua sebaiknya segera mencari evaluasi medis dan perkembangan.
“Orang tua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan perkembangan karena sulit mengikuti instruksi. Namun, jika kesulitan terus berulang atau anak kehilangan kemampuan yang sebelumnya dikuasai, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga profesional agar anak mendapatkan dukungan yang sesuai,” pungkas Erna.
Baca Juga: Jangan Salah Respons, Ini 5 Perbedaan Tantrum, Meltdown, dan Overload pada Anak