Growthmates, pemanfaatan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) dalam pendidikan membuka peluang baru untuk mendukung proses belajar mengajar. Namun, penggunaannya juga menuntut pemahaman mengenai keamanan digital, perlindungan data pribadi, dan kemampuan berpikir kritis agar siswa tidak sekadar menerima informasi dari AI tanpa memeriksa kebenarannya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Microsoft bersama Biji-biji Initiative dan Mereka memperkenalkan Microsoft Elevate for Educators, sebuah inisiatif untuk memperkuat kapasitas guru dalam memahami dan menerapkan AI secara aman, etis, dan bertanggung jawab di lingkungan pendidikan.
Program ini menghadirkan komunitas pembelajaran, sumber daya praktis, serta panduan yang dapat membantu pendidik mengintegrasikan AI ke dalam kegiatan belajar mengajar. Melalui pendekatan tersebut, guru diharapkan semakin percaya diri memanfaatkan teknologi sekaligus mampu membimbing siswa menghadapi peluang dan risiko penggunaan AI.
Director Microsoft Elevate Capacity Building Solution ASEAN, Supahrat Juramongkol, mengatakan keberhasilan penerapan AI di dunia pendidikan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga kesiapan guru dalam menggunakannya secara bijak.
“AI membuka berbagai peluang baru dalam dunia pendidikan, tetapi kemajuan yang bermakna bukan sekadar menghadirkan lebih banyak teknologi di ruang kelas. Hal yang terpenting adalah memberdayakan guru agar dapat memanfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab, sekaligus memperkuat kemampuan berpikir kritis, melindungi siswa, dan memastikan pertimbangan manusia tetap menjadi inti dari proses pembelajaran,” terang Supahrat, dikutip dari keterangan resminya, Rabu (28/10/2026).
Supahrat melanjutkan, Microsoft Elevate for Educators ini dirancang untuk membangun kepercayaan diri pendidik dalam memanfaatkan AI sekaligus mendorong terbentuknya komunitas yang memungkinkan guru saling belajar dan berbagi pengalaman.
“Melalui Microsoft Elevate for Educators, kami ingin membangun kepercayaan diri guru dalam memanfaatkan AI serta menciptakan komunitas tempat para pendidik terus belajar, berbagi, dan saling menginspirasi, sehingga mereka dapat mempersiapkan generasi muda untuk berkembang secara bertanggung jawab di dunia yang didukung AI,” katanya.
Adapun, salah satu fokus inisiatif ini adalah memperkenalkan sejumlah sumber belajar untuk membantu guru membangun literasi AI dan meningkatkan kesadaran mengenai keamanan digital di sekolah. Materi tersebut mencakup AI Classroom Toolkit: Unlocking Generative AI Safely and Responsibly, Sumber Daya Literasi AI dan Media Baru, serta Behind the Chat: A Human Guide to Safe AI Conversations.
AI Classroom Toolkit ditujukan bagi pendidik yang mengajar siswa berusia 13–15 tahun. Materi ini membahas keterampilan praktis dalam menggunakan AI generatif, mulai dari menyusun instruksi atau prompt yang efektif, mengenali informasi keliru atau hasil rekaan AI, memeriksa fakta, menjaga privasi, hingga memahami bias yang dapat muncul dalam keluaran AI.
Melalui materi tersebut, guru dapat membantu siswa memahami bahwa jawaban yang dihasilkan AI tidak selalu akurat dan tetap perlu diverifikasi. Siswa juga didorong untuk mempertimbangkan sumber informasi, menilai hasil yang diperoleh, serta memahami pentingnya menjaga data pribadi ketika menggunakan layanan digital.
Sementara itu, Sumber Daya Literasi AI dan Media Baru dirancang untuk mendorong siswa memahami interaksi mereka dengan AI melalui kegiatan verifikasi informasi dan kuis interaktif. Pendekatan ini diharapkan membuat siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran, bukan hanya menerima jawaban yang diberikan teknologi.
Adapun, Behind the Chat: A Human Guide to Safe AI Conversations membantu pendidik memahami isu penggunaan AI sebagai pendamping atau AI companionship. Materi ini membahas sejumlah risiko, termasuk keterikatan emosional terhadap AI, ketergantungan berlebihan, privasi, kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan, serta pentingnya menilai informasi AI secara kritis.
Director Public Policy, Digital Safety Microsoft, Madeline Shepherd, menegaskan bahwa literasi digital menjadi landasan penting agar siswa mampu memanfaatkan AI dengan aman dan bertanggung jawab.
“Literasi digital merupakan salah satu fondasi terpenting dalam penggunaan AI yang bertanggung jawab. Terlepas dari apakah siswa sudah menggunakan AI saat ini, mereka perlu memiliki keterampilan untuk menilai informasi secara kritis, mengenali konten yang direkayasa, memeriksa fakta, dan memahami risiko ketergantungan berlebihan pada AI,” ujar Madeline.
Menurut dia, materi pembelajaran tersebut disusun agar dapat digunakan secara praktis oleh guru dengan tingkat pemahaman AI yang beragam.
“Rangkaian sumber belajar AI Classroom Toolkit kami dirancang untuk membantu pendidik membahas hal-hal tersebut secara praktis dan mudah dipahami, di mana pun posisi mereka dalam perjalanan memahami AI. Kami antusias melihat para guru di seluruh Indonesia menerapkan materi ini dalam pembelajaran,” katanya.
Peluncuran Microsoft Elevate for Educators melibatkan sekitar 100 guru, tenaga kependidikan, dan pegiat pendidikan yang diundang secara terbuka, termasuk anggota komunitas mitra program. Para peserta mengikuti diskusi dan lokakarya mengenai penerapan AI dalam pembelajaran, termasuk cara memeriksa akurasi informasi, memahami risiko privasi, serta membangun kebiasaan penggunaan teknologi yang aman di ruang kelas.
Group CEO Biji-biji Initiative dan Mereka, Rashvin Pal Singh, menuturkan, penguatan kompetensi AI di lingkungan pendidikan perlu dilakukan melalui pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga pembangunan komunitas pendidik.
“Bagi kami, penguatan kompetensi AI dalam dunia pendidikan tidak sekadar memperkenalkan teknologi baru. Melalui Microsoft Elevate for Educators, kami ingin membangun komunitas pendidik yang kuat dan saling terhubung, tempat para pendidik belajar satu sama lain, berbagi praktik baik, serta menjadi penggerak pemanfaatan AI yang bermakna, inklusif, dan bertanggung jawab sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan realitas pembelajaran di kelas,” tutur Rashvin.
Acara tersebut juga menghadirkan diskusi panel yang melibatkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), UNICEF Indonesia, Microsoft, serta para pimpinan sekolah. Diskusi membahas pengalaman guru dan siswa dalam menggunakan AI, kesenjangan keterampilan digital, serta tantangan menyeimbangkan inovasi teknologi dengan keselamatan, kesejahteraan, dan kemampuan berpikir kritis siswa.
Direktorat Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kemkomdigi, Okky Robiana Sulaeman, menyampaikan bahwa pemanfaatan AI di sektor pendidikan harus diimbangi dengan pemahaman mengenai keamanan digital dan perlindungan data pribadi.
“Pemanfaatan AI di lingkungan pendidikan perlu diiringi dengan pemahaman mengenai keamanan digital, perlindungan data pribadi, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi. Guru memiliki peran penting dalam membantu siswa mengenali peluang sekaligus risiko di ruang digital,” ujar Okky.
Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, industri, dan mitra pendidikan diperlukan untuk memastikan perkembangan teknologi berjalan seiring dengan upaya melindungi peserta didik.
“Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, industri, dan mitra pendidikan menjadi langkah penting untuk membangun lingkungan belajar yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus melindungi kepentingan peserta didik,” tandasnya.