Dalam laporan tersebut, keyakinan terhadap masa depan perusahaan menjadi pendorong utama employee engagement di Indonesia. Faktor berikutnya adalah kesempatan bagi karyawan untuk mencapai aspirasi karier jangka panjang.
Temuan ini mengindikasikan bahwa keterikatan karyawan tidak hanya dipengaruhi kondisi pekerjaan saat ini, tetapi juga keyakinan mereka terhadap prospek perusahaan dan peluang untuk berkembang di dalamnya.
Komunikasi dari atasan juga menjadi salah satu aspek yang menunjukkan hasil positif. Sebanyak 93% karyawan di Indonesia menyatakan atasan mereka menjelaskan secara jelas bagaimana perubahan di perusahaan memengaruhi pekerjaan masing-masing. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Tenggara yang mencapai 81%.
Data tersebut memperlihatkan bahwa komunikasi mengenai perubahan telah berjalan cukup baik di tingkat tim. Meski demikian, perusahaan masih memiliki ruang untuk memperkuat keterlibatan karyawan, terutama dengan memberikan keleluasaan lebih besar dalam menentukan cara mereka menyelesaikan pekerjaan.
Isdar menilai, tingginya tingkat keterikatan karyawan perlu diimbangi dengan langkah konkret dari perusahaan, termasuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung otonomi dan kesejahteraan.
“Tingkat employee engagement setinggi ini memang patut dibanggakan, tetapi juga perlu terus dijaga. Perusahaan yang akan melangkah paling jauh adalah yang memberi karyawan ruang lebih banyak untuk membentuk cara kerja mereka, dan terus berinvestasi pada dukungan kesejahteraan yang nyata,” ujarnya.
Dukungan tersebut mencakup penyediaan sarana dan sumber daya untuk membantu karyawan mengelola stres serta menjaga kesejahteraan (wellbeing). Dalam laporan Marsh, sebanyak 83% karyawan di Indonesia menyatakan perusahaan mereka telah menyediakan dukungan tersebut, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Asia Tenggara sebesar 71%.
“Langkah kecil yang dilakukan secara konsisten di area-area ini dapat memberikan dampak yang berarti,” tandas Isdar.
Baca Juga: 5 BUMN dengan Karyawan Terbanyak, BRI Tembus 82 Ribu Orang