Dokter sekaligus edukator kesehatan, dr. Adam Prabata, MD, Ph.D., membagikan daftar tujuh kondisi yang dapat menimbulkan nyeri paling berat pada manusia berdasarkan penelitian ilmiah.
Dalam daftar tersebut, cluster headache atau sakit kepala cluster menempati posisi pertama dengan skor rata-rata nyeri mencapai 9,7 dari skala 10.
Informasi ini menjadi pengingat bahwa tingkat nyeri tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas bagian tubuh yang mengalami cedera, tetapi juga oleh jenis kondisi dan mekanisme yang memicu rasa sakit.
Beberapa kondisi, seperti batu ginjal, pankreatitis, hingga nyeri persalinan, juga dapat menimbulkan rasa sakit yang sangat intens.
Mengacu pada penelitian Burish (2021) berjudul Cluster Headache Is One of the Most Intensely Painful Human Conditions: Results From the International Cluster Headache Questionnaire, sakit kepala cluster tercatat sebagai kondisi dengan tingkat nyeri tertinggi di antara kondisi yang dibandingkan dalam penelitian tersebut.
“Nyeri terberat yang pernah dirasakan manusia. Ini peringkatnya, skor 0 sampai 10,” tutur dr. Adam, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @adamprabata, Selasa (27/10/2026).
Dan untuk lebih detailnya, berikut tujuh kondisi dengan skor nyeri tertinggi berdasarkan data penelitian yang disampaikan dr. Adam.
Sakit kepala cluster berada di peringkat pertama dengan skor rata-rata 9,7 dari 10. Bahkan, sekitar 72 persen responden penderita kondisi ini memberikan skor maksimal, yakni 10 dari 10. Sakit kepala cluster merupakan jenis sakit kepala yang dapat menyebabkan nyeri sangat hebat, umumnya terasa di sekitar atau di belakang salah satu mata. Serangannya dapat disertai mata berair, hidung tersumbat atau berair, serta kegelisahan selama episode nyeri berlangsung.
Di posisi kedua, nyeri persalinan memperoleh skor rata-rata 7,2 dari 10. Intensitasnya dapat berbeda pada setiap orang, dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk proses persalinan dan respons tubuh terhadap kontraksi. Nyeri ini muncul seiring kontraksi rahim dan perubahan pada leher rahim selama proses persalinan.
Baca Juga: Nyeri Pinggang Belum Tentu Saraf Kejepit, Ini Penjelasan Dokter
Pankreatitis atau peradangan pankreas menempati peringkat ketiga dengan skor 7,0 dari 10. Kondisi ini dapat menyebabkan nyeri perut bagian atas yang berat dan terkadang menjalar hingga punggung. Pankreatitis akut memerlukan penanganan medis karena pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi serius.
Berikutnya, batu ginjal berada di peringkat keempat dengan skor rata-rata 6,9 dari 10. Nyeri dapat muncul ketika batu menghambat aliran urine atau bergerak di saluran kemih. Rasa sakitnya sering dirasakan di sisi tubuh atau punggung bagian bawah dan dapat menjalar ke perut bagian bawah hingga selangkangan.
Luka tembak menempati posisi kelima dengan skor 6,0 dari 10. Tingkat nyerinya dapat bervariasi, bergantung pada lokasi, tingkat kerusakan jaringan, serta kondisi korban. Meski skor rata-ratanya berada di bawah beberapa kondisi lain dalam daftar, luka tembak tetap merupakan cedera serius yang membutuhkan pertolongan medis darurat.
Migrain berada di peringkat keenam dengan skor 5,4 dari 10. Kondisi ini dapat menyebabkan sakit kepala berdenyut, sering kali pada satu sisi kepala, dan dapat disertai mual serta kepekaan terhadap cahaya atau suara. Pada sebagian penderita, serangan migrain dapat mengganggu aktivitas sehari-hari secara signifikan.
Sementara itu, patah tulang berada di peringkat ketujuh dengan skor rata-rata 5,2 dari 10. Rasa sakit yang muncul dapat dipengaruhi oleh lokasi dan jenis patah tulang, tingkat kerusakan jaringan di sekitarnya, serta kondisi cedera yang menyertai.
Meski daftar tersebut memberikan gambaran mengenai intensitas nyeri pada sejumlah kondisi, skor yang tercantum tidak berarti setiap orang akan mengalami rasa sakit dengan tingkat yang sama.
Persepsi nyeri bersifat subjektif dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, sehingga angka tersebut perlu dipahami dalam konteks populasi dan metode penelitian yang digunakan.
Baca Juga: Nyeri Dada GERD vs Nyeri Dada Jantung, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Dokter