3. Flourish: A Visionary New Understanding of Happiness and Well-being Karya Martin Seligman
Sebagai salah satu tokoh pendiri bidang psikologi positif, Martin Seligman menghadirkan perspektif berbeda tentang kebahagiaan melalui Flourish.
Alih-alih melihat kebahagiaan hanya sebagai perasaan positif, Seligman memperkenalkan konsep kesejahteraan melalui lima elemen utama: emosi positif, keterlibatan, hubungan, makna, dan pencapaian.
Kerangka ini tidak dibangun dari satu ide populer, melainkan dari berbagai penelitian psikologi. Buku ini cocok bagi pembaca yang ingin memahami bahwa hidup yang baik bukan hanya tentang merasa bahagia, tetapi juga tentang memiliki tujuan dan pertumbuhan.
4. The How of Happiness: A Scientific Approach to Getting the Life You Want Karya Sonja Lyubomirsky
Buku karya psikolog dan peneliti kebahagiaan Sonja Lyubomirsky ini menjadi salah satu contoh paling jelas dari pengembangan diri berbasis penelitian.
Setiap strategi yang ditawarkan dalam buku ini berasal dari penelitian mengenai kebahagiaan dan intervensi psikologi, bukan sekadar asumsi atau nasihat umum.
Lyubomirsky juga membahas secara realistis batasan perubahan manusia. Ia menjelaskan bahwa kondisi hidup memang berpengaruh, tetapi cara seseorang berpikir dan bertindak juga memainkan peran besar dalam membentuk tingkat kepuasan hidup.
Praktis namun tetap ilmiah, buku ini memberikan panduan yang bisa diterapkan tanpa menjanjikan perubahan instan.
5. Chatter: The Voice in Our Head, Why It Matters, and How to Harness It Karya Ethan Kross
Buku terbaru dalam daftar ini membahas sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: suara di dalam kepala kita sendiri.
Psikolog dan ahli saraf Ethan Kross meneliti bagaimana dialog batin dapat memengaruhi emosi, kecemasan, dan cara seseorang menghadapi tekanan.
Dalam Chatter, Kross menjelaskan mengapa pikiran yang terus berputar dapat membuat seseorang terjebak dalam kekhawatiran, sekaligus menawarkan teknik berbasis penelitian untuk mengelolanya.
Salah satu pendekatan yang dibahas adalah menciptakan jarak psikologis dengan berbicara kepada diri sendiri menggunakan nama sendiri, sebuah teknik yang terbukti membantu mengatur emosi.
Baca Juga: 10 Buku Berbasis Psikologi yang Membantu Anda Meraih Potensi Sejati