Tren low buy semakin banyak diterapkan oleh mereka yang ingin mengelola keuangan dengan lebih bijak tanpa harus mengorbankan gaya berpakaian.

Bagi Model, Mompreneur, sekaligus Founder Maison Garnet, Sabrina Anggraini, menjalani gaya hidup low buy bukan berarti berhenti berbelanja atau kehilangan identitas diri.

Menurut istri Pendiri dan CEO Ruangguru, Adamas Belva Syah Devara atau yang akrab dikenal Belva Devara ini, kunci utamanya adalah membeli barang dengan lebih sadar (intentional), memilih produk yang benar-benar memberikan nilai, dan mengutamakan kualitas dibanding kuantitas.

Dan, berikut 3 prinsip belanja yang kini ia terapkan, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinga @sabrinaanggraini, Kamis (23/7/2026).

1. Beli Lebih Sedikit, tetapi Mudah Dipadupadankan

Sabrina mengaku kini lebih memilih membeli pakaian dengan warna dan model yang netral sehingga mudah dipakai berulang kali dalam berbagai kombinasi.

Menurut Puteri Indonesia Riau 2019 ini, memiliki lemari penuh pakaian belum tentu membuat seseorang lebih stylish. Sebaliknya, terlalu banyak pilihan justru bisa membuat bingung saat menentukan outfit setiap hari.

Ia juga menekankan bahwa pakaian maupun makeup seharusnya dipakai untuk membuat diri sendiri merasa bahagia, bukan semata-mata untuk mengesankan orang lain.

"Makin ke sini aku sadar kalau low buy itu bukan berarti berhenti jadi stylish, tapi lebih tentang menjadi lebih intentional. Punya banyak baju belum tentu bikin kita lebih stylish, kadang malah bikin pagi-pagi makin pusing harus buat keputusan. Jadi buatku, baju yang menang adalah yang bisa dipakai berulang tanpa kita merasa 'itu lagi, itu lagi’,” ungkapnya.

Karena itu, Sabrina kini lebih banyak berinvestasi pada outfit basic, celana yang nyaman, hingga outer netral yang mudah dipadukan untuk berbagai kesempatan.

Baca Juga: Jadi Tantangan Nyata di Era Konsumtif, Apa Itu Doom Spending? Istilah Populer di Kalangan Gen Z

2. Jangan Membeli karena Rasa Bersalah

Sebagai ibu dari balita, Sabrina mengaku tantangan terbesar justru datang saat berbelanja kebutuhan anak.

Sabrina memahami keinginan orang tua untuk selalu memenuhi permintaan buah hati, tetapi menurutnya setiap pembelian tetap perlu dipikirkan manfaat jangka panjangnya.

Alih-alih langsung membeli semua barang yang terlihat lucu, Sabrina selalu bertanya pada dirinya sendiri apakah barang tersebut benar-benar memberikan nilai bagi perkembangan anak atau justru hanya menjadi barang yang menumpuk di rumah.

"Aku coba tanya dulu ke diri sendiri, apakah ini ngasih value pembelajaran buat anak? Apakah bikin hidup kita lebih smooth? Atau ini cuma sesuatu yang bikin aku merasa jadi orang tua yang baik selama 10 menit karena beliin, lalu numpuk di rumah selama tiga bulan?,” bebernya.

Meski demikian, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua mainan itu sia-sia. Beberapa mainan, seperti boneka, justru dapat membantu anak belajar empati melalui aktivitas bermain peran.

3. Pilih Barang Berkualitas yang Awet Dipakai

Untuk kategori seperti tas dan sepatu, Sabrina lebih memilih membeli produk berkualitas tinggi yang tahan lama. Menurutnya, barang seperti tas bukan hanya harus awet, tetapi juga mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa menghilangkan identitas pribadi.

Sebagai seorang ibu, ia membutuhkan tas yang dapat membawa laptop sekaligus perlengkapan anak. Namun, tas tersebut juga tetap harus mencerminkan gaya personalnya.

"Pas beli tas, aku benar-benar keep in mind, ini muat banyak hal enggak ya? Enggak cuma muat laptop, tapi juga muat barang-barang anak. Tapi di saat yang sama, tas ini bikin aku tetap merasa ini adalah diriku. Jadi pilih item yang awet, muat banyak, tapi enggak bikin kita merasa kehilangan diri,” tuturnya.

Bagi Sabrina, prinsip belanja yang lebih selektif bukan berarti menghilangkan kesenangan berbelanja. Ia mengaku tetap menikmati aktivitas shopping, tetapi kini lebih fokus membeli barang-barang yang benar-benar fungsional, berkualitas, dan bisa digunakan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Tips Belanja Pintar Agar Tidak Konsumtif ala Tasya Kamila, Apa Saja?