Lebih dari 25 tahun, Rudi Soewardjo telah melalang buana dengan profesinya di panggung perfilman Tanah Air. Ia dikenal sebagai sutradara, produser, dan juga penulis naskah yang telah melahirkan banyak karya.
Di antara karya terbaiknya adalah film populer Ada Apa Dengan Cinta? hingga Rangga & Cinta yang baru saja tayang Oktober 2025 lalu yang membuatnya semakin dikenal luas oleh khalayak. Kecintaannya pada dunia film turut dituangkannya dengan mengabdi sebagai pengajar di sekolah film yang didirikannya bersama Monty Tiwa, Reload Film Center.
Berikut telah olenka rangkum dari berbagai sumber, Minggu (25/1/2026), untuk megenal lebih lanjut sosok dan perjalanan karier Rudi Soedjarwo.
Baca Juga: Salman Aristo dan Perjalanan Kariernya dari Penulis hingga Sutradara Film
Profil Rudi Soedjarwo
Pemilik nama lengkap Andi Rudianto Soedjarwo in lahir di Bogor pada 9 November 1971. Saat ini, usianya sudah genap menginjak angka 54 tahun. Rudi merupakan putra dari Anton Soedjarwo, yang dikenal sebagai mantan Kapolri 1982-1986.
Rudi Soedjarwo menempuh studi menengah di SMA Kolese Gonzaga, Jakarta, dan lulus pada 1990. Ia kemudian melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Negeri San Diego dengan mengambil jurusan Manajemen hingga 1994.
Ketertarikan suami Rere Soedjarwo pada dunia kreatif juga membawanya memperdalam bidang seni di Academy of Art University, San Francisco, yang diselesaikannya pada 1996.
Perjalanan Karir
Rudi Soedjarwo dikenal sebagai sutradara yang berhasil membangun film remaja. Sebabnya, ia disebut-sebut sebagai sutradara yang ikut menandai bangkitnya industri perfilman Indonesia setelah sempat mengalami kemandekan.
Karya terpopulernya tak lain adalah Ada Apa dengan Cinta? yang mengantarkannya memeroleh penghargaan sebagai sutradara terbaik dan juga mengantarkan Dian Sastrowardoyo sebagai pemeran utama menerima anugerah Festival Film Indonesia pada perhelatan Festival Film Indonesia (FFI) 2004.
Rudi Soedjarwo debut sebagai sutradara lewat film Bintang Jatuh (2000). Namanya semakin dikenal luas setelah menyutradarai film ikonis Ada Apa dengan Cinta? (2002), disusul sederet judul seperti Rumah Ketujuh, Mengejar Matahari, Tentang Dia, Mendadak Dangdut, 9 Naga, Pocong 2, Cintapuccino, Kambing Jantan, Garuda di Dadaku 2, hingga 5 Elang.
Baca Juga: Deretan Komika yang Sukses Jadi Sutradara
Pada tahun-tahun berikutnya, Rudi terus aktif lewat film Batas, Stay with Me, Algojo: Perang Santet, 13: The Haunted, Denting Kematian, Sayap-Sayap Patah, Primbon, Saat Menghadap Tuhan, dan Bila Esok Ibu Tiada.
Selain menyutradarai, Rudi juga kerap terlibat sebagai penulis skenario, produser, penyunting, hingga sinematografer, menunjukkan kiprahnya yang serbabisa di balik layar perfilman Indonesia.
Pada 2026, Rudi Soedjarwo kembali menyiapkan proyek film baru bersama produser Denny Siregar, setelah sebelumnya sukses lewat Sayap-Sayap Patah (2022) yang meraih lebih dari satu juta penonton. Film yang diduga berjudul Tanah Runtuh ini disebut mengusung pendekatan lirih dan intim dengan sudut pandang anak-anak sebagai pusat cerita.
Kisahnya menyoroti perjalanan batin para karakter dan hubungan saling ketergantungan, tentang bagaimana mereka tetap menemukan harapan dan kekuatan untuk bertahan meski dunia di sekeliling terasa runtuh.
Penghargaan dan Nominasi
Perjalanan karier Rudi Soedjarwo tak selalu mulus di dunia film. Jatuh bangun telah ia rasakan, bahkan sempat mengalami kebangkrutan sebelum akhirnya kembali bangkit dan membuktikan konsistensinya sebagai sineas. Berbekal ketekunan dan kecintaannya pada perfilman, Rudi terus melahirkan karya-karya yang mendapat apresiasi luas, baik dari penonton maupun kritikus.
Sepanjang kariernya, Rudi telah meraih berbagai penghargaan bergengsi. Ia memenangkan gelar Sutradara Terpuji di Festival Film Bandung 2002 lewat Ada Apa dengan Cinta?, serta menyabet Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2004 dan Festival Film Internasional Balinale.
Baca Juga: Berkenalan dengan Muhadkly Acho, Intip Perjalanan Kariernya dari Komika hingga Sutradara
Ia kembali meraih kemenangan di Festival Film Bandung 2005, Piala Vidia FTV 2006 untuk Ujang Pantry 2, hingga Sutradara Indonesia Terbaik di Jakarta International Film Festival melalui 9 Naga.
Selain itu, sejumlah karyanya juga masuk nominasi, seperti Mengejar Matahari, Tentang Dia, Mengejar Mas Mas, hingga Sayap-Sayap Patah. Pada 2012, film Garuda di Dadaku 2 bahkan berhasil membawa pulang penghargaan Film Terfavorit di Indonesian Movie Awards, menegaskan posisinya sebagai salah satu sutradara berpengaruh di perfilman Indonesia.