Growthmates, belajar sering dipahami sekadar sebagai kombinasi antara usaha keras dan disiplin tinggi. Namun, dalam buku How We Learn, penulis sekaligus Ahli Saraf Kognitif, Stanislas Dehaene, menawarkan pemahaman yang jauh lebih mendalam.
Ia menjelaskan bagaimana otak sebenarnya memperoleh pengetahuan, mengapa metode pengajaran tertentu kurang efektif, serta bagaimana perhatian, kesalahan, rasa ingin tahu, dan tidur membentuk proses belajar manusia.
Alih-alih menghadirkan slogan motivasi, buku ini menyajikan temuan ilmiah yang mengubah cara kita memahami belajar, mengajar, dan berpikir itu sendiri.
Dan, dikutip dari Times Now News, Kamis (5/2/2026), berikut 10 pelajaran penting yang bisa dipetik dari buku tersebut.
1. Belajar Menuntut Keterlibatan Aktif
Menurut Dehaene, belajar tidak terjadi hanya karena seseorang terpapar informasi. Otak perlu terlibat secara aktif: membangun makna, menguji dugaan, lalu merevisinya.
Membaca ulang atau mendengarkan secara pasif hanya menimbulkan rasa familiar, bukan pemahaman mendalam.
Proses belajar menjadi efektif ketika kita mencoba mengingat kembali materi, memecahkan soal, atau menjelaskan konsep dengan kata-kata sendiri.
Dengan kata lain, otak berkembang lewat partisipasi aktif, bukan sekadar observasi.
2. Perhatian Adalah Gerbang Pembelajaran
Tanpa perhatian, pembelajaran hampir mustahil terjadi. Perhatian membantu otak memperkuat sinyal informasi penting sekaligus menyingkirkan gangguan.
Inilah sebabnya multitasking justru merusak proses belajar. Ketika perhatian terpecah, informasi sulit masuk ke memori jangka panjang.
Fokus bukan sekadar kebiasaan baik, tetapi kebutuhan biologis agar pengetahuan benar-benar tertanam di otak.
3. Otak Selalu Membuat Prediksi
Menurut Dehaene, otak bekerja sebagai mesin prediksi. Ia terus menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, lalu memperbarui dirinya saat prediksi itu keliru.
Pembelajaran paling cepat terjadi ketika harapan kita dilanggar saat ada kejutan atau tantangan baru.
Jika informasi sepenuhnya sesuai dengan apa yang sudah kita yakini, perubahan pengetahuan menjadi sangat kecil. Karena itu, pembelajaran yang efektif sering kali melibatkan rasa ingin tahu dan ketidakpastian.
4. Kesalahan Adalah Bagian Penting dari Belajar
Menurut Dehaene, kesalahan bukan hambatan, melainkan pendorong pembelajaran. Otak memiliki mekanisme khusus untuk mendeteksi kesalahan dan menggunakannya sebagai bahan perbaikan pemahaman.
Ketika kesalahan ditakuti atau dihukum, proses belajar justru terhambat. Sebaliknya, lingkungan belajar yang aman terhadap kesalahan membuat otak tetap fleksibel dan terbuka terhadap koreksi.
5. Umpan Balik Harus Cepat dan Jelas
Otak belajar paling efektif ketika umpan balik diberikan segera setelah sebuah usaha dilakukan. Jika koreksi datang terlambat atau tidak jelas, sinyal pembelajaran menjadi lemah.
Mengetahui kesalahan apa yang terjadi dan mengapa jauh lebih bermanfaat daripada sekadar menerima nilai atau pujian setelah waktu berlalu. Prinsip ini berlaku baik di ruang kelas maupun saat belajar mandiri.
Baca Juga: 10 Pelajaran dari Buku 'The Comfort Crisis' tentang Bahaya Hidup Terlalu Nyaman
6. Latihan Mengubah Struktur Otak
Belajar bukan sekadar menambah informasi, tetapi membangun ulang jalur saraf di otak. Latihan yang berulang dan bermakna memperkuat jalur-jalur tersebut secara bertahap.
Namun, latihan harus dilakukan dengan kesadaran dan usaha. Mengulang tanpa berpikir hanya menciptakan rasa akrab, bukan penguasaan.
Itulah sebabnya latihan yang menantang justru lebih efektif dibandingkan latihan yang terlalu mudah.
7. Tidur Adalah Bagian dari Proses Belajar
Belajar tidak berhenti ketika sesi belajar selesai. Saat tidur, otak memutar ulang dan memperkuat koneksi saraf yang baru terbentuk.
Kurang tidur justru melemahkan hasil belajar, tak peduli seberapa keras usaha yang dilakukan sebelumnya. Temuan ini menantang budaya yang memuliakan begadang.
Dikatakan Dehaene, tidur bukan sekadar pemulihan, melainkan bagian inti dari proses belajar itu sendiri.
8. Motivasi Mengarahkan Perhatian dan Memori
Otak cenderung memprioritaskan hal-hal yang dianggap bermakna. Ketika seseorang memahami mengapa sesuatu penting, perhatian meningkat dan pembentukan memori menjadi lebih kuat.
Motivasi tidak selalu harus berupa kegembiraan besar. Tujuan yang jelas atau relevansi materi sudah cukup membuat otak mengalokasikan energi untuk belajar.
9. Anak-Anak Adalah Ilmuwan Alami
Sejak kecil, manusia secara alami melakukan eksperimen, seperti mencoba, mengamati hasil, lalu memperbaiki pemahaman. Anak-anak secara intuitif bertindak seperti ilmuwan kecil.
Kemampuan ini berkembang ketika rasa ingin tahu didukung, bukan ditekan. Pendidikan yang terlalu kaku justru bisa menghambat eksplorasi alami tersebut.
Menurut Dehaene, pembelajaran efektif mendorong pertanyaan, permainan, dan eksperimen.
10. Pengajaran Harus Mengikuti Cara Otak Bekerja
Pelajaran terpenting dari buku ini adalah bahwa pendidikan perlu selaras dengan ilmu kognitif. Banyak metode pengajaran tetap digunakan meski bukti menunjukkan ketidakefektifannya.
Ketika pengajaran dirancang sesuai cara kerja otak, memanfaatkan perhatian, umpan balik kesalahan, latihan, dan motivasi, maka hasil belajar menjadi jauh lebih baik.
Menurut Dehaene, kemajuan tidak muncul dari tekanan, melainkan dari desain pembelajaran yang sejalan dengan arsitektur alami otak.
Nah Growthmates, buku How We Learn tidak menawarkan jalan pintas menuju kecerdasan instan. Sebaliknya, buku ini memberikan sesuatu yang lebih berharga, yakni kejelasan tentang bagaimana pembelajaran benar-benar bekerja di dalam otak.
Dengan memahami mekanismenya, kita bisa meninggalkan kebiasaan belajar yang tidak efektif dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih manusiawi.
Ketika usaha belajar selaras dengan biologi otak, kemajuan terasa lebih stabil, lebih dalam, dan jauh lebih berkelanjutan.
Baca Juga: 13 Prinsip Penentu Kekayaan dan Kesuksesan dari Buku 'Think and Grow Rich' Karya Napoleon Hill