Prinsip ‘membangun bahtera’ itu juga terasa semakin relevan ketika Berkshire Hathaway memasuki fase baru tanpa Buffett sebagai pemimpin utamanya.
Buffett melepaskan posisi chairman Berkshire pada 18 September, mengakhiri masa jabatannya sebagai ketua yang berlangsung sekitar 56 tahun. Dalam surat kepada para pemegang saham, Buffett menyinggung keterbatasan waktu dengan mengatakan, “Father Time always wins.”
Pergantian tersebut sebenarnya merupakan bagian dari proses suksesi yang telah dipersiapkan selama bertahun-tahun. Buffett sebelumnya telah menyerahkan posisi CEO kepada Greg Abel pada 1 Januari.
Dalam kesempatan tersebut, Buffett mengatakan kepada CNBC bahwa “Greg-lah yang akan menjadi pengambil keputusan”, menegaskan bahwa tanggung jawab atas keputusan operasional dan alokasi modal Berkshire kini berada di tangan Abel.
Peralihan kepemimpinan itu turut menjadi perhatian investor. Harga saham Berkshire sempat tertekan setelah pengumuman suksesi, sementara pasar mulai mencermati bagaimana gaya kepemimpinan Abel akan berbeda dari pendekatan Buffett yang telah membentuk Berkshire selama puluhan tahun.
Posisi chairman kemudian diberikan kepada putra Buffett, Howard Buffett. Perannya lebih diarahkan untuk menjaga budaya dan nilai-nilai Berkshire, bukan menjalankan operasional perusahaan sehari-hari yang kini menjadi tanggung jawab Abel.
Di tengah transisi tersebut, posisi keuangan Berkshire juga menunjukkan betapa pentingnya prinsip likuiditas yang selama ini menjadi bagian dari filosofi Buffett. Berkshire dilaporkan memiliki rekor cadangan kas dan Treasury bills jangka pendek senilai US$397,4 miliar.
Angka tersebut sekaligus menjadi gambaran nyata dari konsep ‘membangun bahtera’ yang telah lama digaungkan Buffett.
Daripada menghabiskan seluruh modal untuk mengejar peluang ketika pasar sedang tenang, Berkshire mempertahankan cadangan besar yang dapat digunakan ketika kesempatan muncul atau ketika kondisi pasar berubah drastis.