Menurut dr. Karina, proses penyimpanan hingga pengolahan menjadi bagian penting untuk membantu mematikan larva parasit yang mungkin terdapat pada ikan.

Salah satu metode yang dapat digunakan adalah memasak ikan pada suhu 55 derajat Celsius selama lima menit.

Metode lainnya adalah pembekuan pada suhu ekstrem, yakni -20 derajat Celsius selama tujuh hari atau -35 derajat Celsius selama 15 jam untuk daging ikan dengan ketebalan kurang dari 15 sentimeter.

Penerapan standar tersebut bukan hanya menjadi tanggung jawab konsumen, tetapi juga restoran. Pengelola restoran perlu memastikan ikan disimpan pada suhu dan durasi yang sesuai, serta menerapkan prosedur keamanan pangan secara konsisten sejak bahan baku diterima hingga disajikan kepada pelanggan.

Sementara bagi konsumen, terutama kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak dan lansia, memilih menu sushi atau hidangan berbahan ikan yang telah dimasak dapat menjadi langkah pencegahan yang lebih aman.

Konsumen juga perlu mempertimbangkan reputasi dan penerapan standar kebersihan serta keamanan pangan di restoran sebelum memilih makanan berbahan ikan mentah.

Upaya pencegahan pun tidak berhenti pada proses pengolahan makanan. dr. Karina menekankan bahwa sanitasi lingkungan juga memiliki peran penting dalam memutus siklus hidup parasit.

Pengelolaan limbah feses yang baik, termasuk penggunaan septic tank yang memenuhi standar, diperlukan agar telur parasit tidak mencemari lingkungan dan ekosistem perairan.

Dengan demikian, menikmati sushi dan sashimi tetap dapat dilakukan dengan lebih bijak selama aspek keamanan pangan dan kebersihan diperhatikan. Mulai dari pemilihan restoran, penanganan ikan, hingga menjaga sanitasi lingkungan, setiap tahapan memiliki peran dalam mengurangi risiko paparan parasit dari ikan mentah.

Baca Juga: Dokter Ahli Mikrobiologi Klinis Ungkap Bahaya Mencuci Ayam Mentah Sebelum Dimasak, Apa Risikonya?