Di sisi lain, persoalan konsumsi serat di Indonesia justru lebih banyak berkaitan dengan masih rendahnya konsumsi sayur dan buah.
Prof. Ali mengungkapkan, berdasarkan berbagai survei, sekitar 90 persen masyarakat belum memenuhi kebutuhan konsumsi sayur dan buah. Kondisi tersebut turut membuat asupan serat masyarakat menjadi rendah.
Padahal, sumber serat alami relatif mudah ditemukan dalam makanan sehari-hari. Beragam sayuran dan buah dapat menjadi pilihan, termasuk apel dan pir yang dapat dikonsumsi bersama kulitnya setelah dicuci hingga bersih.
“Pada kulit apel dan pir terdapat serat larut yang baik untuk membantu mengendalikan kolesterol sekaligus menjaga kesehatan saluran cerna,” jelasnya.
Prof. Ali juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mengikuti tren kesehatan yang hanya berfokus pada satu jenis zat gizi.
lih-alih mengejar asupan serat dalam jumlah sangat tinggi, pola makan beragam dan seimbang tetap menjadi dasar pemenuhan kebutuhan gizi.
Menurut Prof. Ali, pedoman Gizi Seimbang dan konsep “Isi Piringku” dari Kementerian Kesehatan dapat menjadi acuan dalam mengatur pola makan sehari-hari.
Dengan mengonsumsi sayur dan buah secara cukup serta memilih sumber makanan yang beragam, kebutuhan serat dapat dipenuhi tanpa harus bergantung pada suplemen.
“Minimal konsumsi lima porsi sayur dan buah setiap hari atau sekitar 400 gram sesuai anjuran WHO. Dengan pola makan yang beragam, kebutuhan serat akan lebih mudah terpenuhi dan kesehatan dapat terjaga secara berkelanjutan,” tutup Prof. Ali.
Baca Juga: 5 Olahan Plant-Based Kaya Protein dan Serat untuk Menu Harian Sehat