Growthmates, istilah bed rotting belakangan ramai dikaitkan dengan kebiasaan remaja dan Gen Z yang memilih menghabiskan waktu di tempat tidur sembari bermain gawai, scrolling media sosial, atau menonton tayangan.
Meski sering dipandang sebagai perilaku malas atau tidak produktif, kebiasaan tersebut ternyata tidak sesederhana itu karena dapat berkaitan dengan kebutuhan memulihkan energi hingga cara seseorang merespons tekanan sosial.
Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University, Dr. Yulina Eva Riany, memaparkan, fenomena bed rotting tidak bisa dinilai hanya dari kebiasaan seseorang berlama-lama di tempat tidur. Perilaku ini perlu dipahami berdasarkan alasan, pola, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
“Fenomena ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,” papar Dr. Yulina, dikutip dari laman IPB Universoty, Rabu (7/10/2026).
Menurut Dr. Yulina, remaja berada dalam fase identity vs role confusion, yaitu tahap perkembangan ketika seseorang berusaha menemukan jati diri dan memahami perannya di lingkungan sosial. Pada fase ini, dunia digital menjadi salah satu ruang bagi remaja untuk mengeksplorasi minat, mencari referensi, dan membentuk pemahaman tentang dirinya.
Dalam konteks tersebut, bed rotting tidak selalu menunjukkan perilaku pasif. Pada kondisi tertentu, kebiasaan ini dapat menjadi kesempatan untuk mengambil jeda dari rutinitas dan tekanan yang dihadapi sehari-hari.
“Bed rotting tidak selalu bisa dibaca sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi ‘ruang jeda’ sekaligus ‘ruang eksplorasi’ bagi remaja,” jelasnya.
Meski demikian, Dr. Yulina mengingatkan bahwa kebiasaan ini memiliki dua sisi. Beristirahat sejenak dari aktivitas yang melelahkan dapat membantu seseorang memulihkan energi.
Namun, jika dilakukan berlebihan sambil terus mengakses media sosial, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang semakin sering membandingkan kehidupannya dengan gambaran ideal yang ditampilkan orang lain. Kondisi ini berpotensi memicu kecemasan dan tekanan psikologis.
“Bed rotting bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan,” tambahnya.
Oleh karena itu, lanjut Dr. Yulina, penting untuk memahami batas antara self-care atau perawatan diri dan perilaku yang justru merugikan. Ketika dilakukan secara sadar, memiliki batas waktu, dan bertujuan memulihkan energi, bed rotting dapat menjadi bagian dari upaya mengelola diri.
Sebaliknya, jika terus dilakukan untuk menghindari masalah atau tekanan, kebiasaan ini dapat mengarah pada avoidance coping, yakni strategi menghadapi stres dengan menghindari sumber masalah.
“Jika individu masih memiliki kendali, tahu kapan harus berhenti dan mampu kembali beraktivitas, maka ini bisa menjadi bentuk self-care. Namun, ketika kontrol mulai hilang, dampaknya bisa serius,” ujar Dr. Yulina.
Baca Juga: Tren Fiber Maxxing Ramai di Media Sosial, Berapa Banyak Serat yang Dibutuhkan Tubuh? Ini Kata Pakar
Lebih lanjut, Dr. Yulinajuga mengingatkan bahwa kebiasaan berdiam diri terlalu lama di tempat tidur, terutama jika disertai perubahan perilaku dan penurunan fungsi sehari-hari, perlu mendapat perhatian.
Dalam kondisi tertentu, perilaku tersebut dapat berkaitan dengan kelelahan emosional atau burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi. Meski demikian, bed rotting saja tidak dapat dijadikan patokan untuk menentukan apakah seseorang mengalami gangguan kesehatan mental.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta menurunnya kemampuan menjalankan tanggung jawab akademik atau pekerjaan.
Apabila kondisi tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, mencari bantuan profesional dapat menjadi langkah yang tepat.
Untuk menjaga agar waktu istirahat tetap sehat, Dr. Yulina menekankan pentingnya membangun kebiasaan beristirahat secara sadar dan terukur.
Menurutnya, istirahat bukan sekadar berhenti beraktivitas, tetapi juga harus memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk memulihkan energi.
“Istirahat yang sehat bukan sekadar tidak melakukan apa-apa, tetapi dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu, dan benar-benar memulihkan energi,” tuturnya.
Dr. Yulinapun menyarankan remaja dan Gen Z untuk menetapkan batas waktu istirahat, mengurangi penggunaan gawai ketika berada di tempat tidur, serta menyelingi waktu santai dengan aktivitas ringan.
Berjalan kaki, melakukan peregangan, atau menikmati kegiatan sederhana di luar kamar dapat menjadi alternatif agar tubuh kembali aktif.
“Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,” pungkas Dr. Yulina.
Baca Juga: Tren 'Man in Finance' Bikin Pria Mapan Jadi Idaman, Benarkah Gaji Besar Bikin Hubungan Bahagia?