Growthmates, menikmati hasil kerja dengan membeli sesuatu yang disukai tentu sah-sah saja. Namun, pengeluaran untuk hobi, shopping, atau kebutuhan tersier sebaiknya tetap memiliki tempat tersendiri dalam perencanaan keuangan agar tidak mengganggu kebutuhan utama.
Financial Trainer sekaligus Founder QM Financial, Ligwina Hananto, menyarankan, masyarakat memiliki rekening khusus yang memang diperuntukkan bagi kebutuhan bersenang-senang.Menurutnya, rekening tersebut dapat menjadi ruang untuk menikmati hasil kerja tanpa harus mengorbankan pos keuangan lainnya.
"Kita perlu namanya sebuah rekening hobi, atau aku nyebutnya rekening shopping. Kalau aku bahkan aku kasih nama, 'hidup tanpa hanya bekerja'. Nama rekeningnya gitu, karena kan kerja melulu ya, Pak," terang Ligwina, dikutip dari laman Instagram @qm_financial, Selasa (6/10/2026).
Ligwina melanjutkan, bekerja dan memenuhi berbagai kewajiban finansial memang penting, tetapi kehidupan juga perlu memiliki ruang untuk menikmati hal-hal yang disukai. Karena itu, rekening hobi atau shopping dapat diperlakukan seperti pos keuangan lainnya yang diisi secara rutin.
"Ada loh, hidup tuh buat bersenang-senang juga. Nah ini, kita nabung setiap bulan ke rekening ini. Jadi rekeningnya diisi, seperti kita ngisi dana darurat, seperti kita ngisi dana pendidikan anak, dana pensiun," jelasnya.
Dengan memisahkan dana tersebut sejak awal, kata Ligwina, seseorang dapat mengetahui secara lebih jelas berapa banyak uang yang memang tersedia untuk kebutuhan tersier.
Ketika ada barang atau pengalaman yang ingin dibeli, kata dia, dananya diambil dari rekening tersebut, bukan dari uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan rutin.
"Ada sebuah rekening yang memang kita isi, rutin. Eh, ada sesuatu yang aku mau beli, beli dari rekening itu. Jadi dia tidak mengganggu pengeluaran bulanan kita," kata Ligwina.
Cara ini juga membantu menjaga pos-pos penting agar tidak ikut terkuras demi memenuhi keinginan sesaat. Dana untuk cicilan, biaya sekolah anak, hingga kebutuhan rumah tangga tetap berada pada jalurnya karena sudah dipisahkan dari awal.
"Dia tidak mengganggu pos yang mau dipakai untuk cicilan, bayar SPP sekolah anak, bayar grocery shopping, itu tidak mengganggu. Karena dia udah dipisahin, udah ditabung duluan. Jadi udah numpuk nih uangnya, baru boleh dipakai," jelasnya.
Baca Juga: Tips Atur Keuangan untuk Gaji UMR ala Financial Planner
Bagi Ligwina, kunci untuk menikmati pengeluaran tersier sebenarnya simple, yaitu memastikan uangnya memang tersedia. Artinya, seseorang tidak perlu memaksakan diri membeli sesuatu hanya karena menginginkannya saat ini.
"Jadi syarat mau bersenang-senang dengan si pengeluaran tersier itu, syaratnya cuma sederhana aja, ada duitnya," tuturnya.
Ligwina melanjutkan, prinsip tersebut juga berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk jujur terhadap kondisi finansialnya.
Jika belum memiliki cukup uang untuk membeli sesuatu, bukan berarti barang tersebut semata-mata terlalu mahal. Bisa jadi, memang belum waktunya membeli karena dana yang tersedia belum mencukupi.
"Makanya aku bilang, jangan deh lulu, jangan bohong sama diri sendiri. Kalau memang kamu nggak mampu, bilang nggak mampu. Jangan bilang itu harganya mahal, terus nggak usah, nggak usah. No, no, no, emang nggak punya uangnya," imbuh Ligwina.
Dikatakan Ligwina, daripada memaksakan pembelian atau mengorbankan kebutuhan lain, ia menyarankan adanya proses menunggu sambil mengumpulkan dana hingga jumlah yang dibutuhkan tercapai.
"Jadi aku perlu menunggu ngumpulin dulu untuk sampai uangnya nyampe, baru dibeli gitu. Ada proses menunggu yang kadang orang suka lupa," pungkasnya.
Baca Juga: 4 Prinsip Keuangan Warren Buffett yang Bisa Bantu Anda Jadi Lebih Kaya