Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengatakan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) sempat melakukan upaya negosiasi kepada Presiden Prabowo Subianto terkait pencopotan Listyo Sigit Prabowo dari jabatan Kapolri.
Jokowi kata Mahfud melakukan itu dua kali dan semuanya berhasil, keinginan Prabowo yang sebenarnya telah lama mau merombak pucuk pimpinan Korps Bhayangkara itu akhirnya urung.
“Pernah mau diganti lagi. Lalu tiba-tiba tidak jadi, karena beritanya itu Gibran datang menghadap. Yang selama ini tidak pernah menghadap, lalu menghadap kok. Kira-kira bulan Juni lah ya, itu kan ada peristiwa tuh," kata Mahfud saat berbincang dengan Rizal Mustary di podcast Terus Terang dilansir Kamis (8/10/2026).
Tak hanya itu, ketika Prabowo kembali ingin mendepak Listyo Sigit, Jokowi dan istrinya Iriana Jokowi kembali mendatangi Prabowo, hasilnya rencana pergantian Kapolri itu kembali urung terlaksana.
"Habis itu hilang lagi berita tentang (pergantian) Listyo ini. Analisis yang muncul, Pak Jokowi yang tidak setuju," beber pakar hukum tata negara tersebut.
Menurut Mahfud, rangkaian penundaan tersebut kemudian membuat Prabowo mengubah cara dalam mengeksekusi pergantian Kapolri. Ia menilai Presiden memilih menjaga rencana tersebut tetap tertutup agar tidak kembali mengalami kegagalan.
Pergantian akhirnya dilakukan secara mendadak hingga Jenderal Suyudi Ario Seto ditetapkan sebagai Kapolri baru pada 1 Oktober. Mahfud menilai strategi tersebut merupakan pelajaran dari sejumlah rencana sebelumnya yang gagal terlaksana.
"Sehingga kesimpulannya, ini kalau dibicarakan panjang-panjang dan ramai, tidak jadi terus. Pak Prabowo mengambil taktik ini tidak usah diberitahu dulu, makanya pemberitahuannya mendadak... Jangan sampai berulang tiga kali sebelumnya yang selalu gagal," tutup Mahfud.