Kesibukan sebagai orang tua membuat waktu bersama keluarga menjadi semakin berharga. Bagi Nikita Willy dan sang suami, Indra Priawan Djokosoetono, momen berkualitas bersama keluarga tidak selalu harus diisi dengan aktivitas besar atau agenda khusus. Justru, kebiasaan sederhana yang dilakukan bersama dapat menjadi cara untuk menjaga kedekatan sekaligus menciptakan kenangan.

Pandangan tersebut dibagikan Nikita dan Indra saat kembali terlibat dalam acara Family Happy Day 2026 yang digelar Lemonilo di Menara Saujana, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu (27/9/2026).

Bagi Indra, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa keluarga perlu memiliki waktu untuk benar-benar terhubung satu sama lain, tanpa harus menunggu adanya kesempatan istimewa.

“Karena kita suka banget konsep dari Family Happy Day ini sendiri sebagai pengingat buat para keluarga di Indonesia bahwa quality time bersama keluarga itu penting banget dan nggak perlu hal yang besar. Hal-hal sederhana yang memang kita suka lakukan bersama-sama dengan keluarga itu sudah benar-benar memorable banget,” tutur Indra.

Menurut Indra, kebersamaan dengan keluarga bukan sekadar menghabiskan waktu, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antaranggotanya. Aktivitas sederhana yang dilakukan bersama dapat menghadirkan rasa dekat sekaligus menjadi kenangan yang melekat.

“Jadi pengingat buat kita semua bahwa quality time itu penting banget, bukan cuma buat diri sendiri tapi sama keluarga, as a family, itu juga penting,” lanjutnya.

Hal serupa diterapkan Nikita dalam kesehariannya bersama anak-anak. Ia tidak menetapkan aktivitas khusus untuk menciptakan quality time. Makan bersama hingga membaca buku pun sudah dianggap cukup selama dilakukan dengan kehadiran dan perhatian penuh.

“Sekecil kita makan bersama dan sekecil kita baca buku bersama, buat kita itu sudah quality time,” kata Nikita.

Di tengah kesibukan keduanya sebagai orang tua sekaligus pekerja, waktu bersama anak memang menjadi sesuatu yang berharga. Karena itu, ketika berada di rumah, Nikita dan Indra berusaha memanfaatkan kesempatan tersebut untuk lebih banyak menikmati kebersamaan.

“Waktu sama anak-anak itu very limited. Kalau aku sama Indra kita dua-duanya bekerja, jadi begitu pulang ke rumah kita maunya lebih banyak quality time, nggak banyak marah-marah, lebih fun sama mereka,” beber Nikita.

Kebersamaan juga tidak hanya dilakukan Nikita dan Indra bersama anak-anak. Sebagai pasangan, keduanya memiliki cara tersendiri untuk menikmati waktu berdua. Olahraga menjadi salah satu aktivitas yang cukup sering mereka lakukan, terutama saat sedang bepergian.

“Kalau berdua, kita suka olahraga bareng. Jadi kalau misalkan travel ke mana-mana, kita pasti melipir sebentar buat lari bareng atau kita nge-gym bareng. Menurut aku itu lumayan quality time buat couple,” ungkap Nikita.

Sementara untuk percakapan yang lebih personal, keduanya biasanya memanfaatkan waktu setelah anak-anak tidur. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi Nikita dan Indra untuk berbincang lebih dalam setelah menjalani aktivitas masing-masing sepanjang hari.

“Kalau misalnya kayak deep talk gitu-gitu, biasanya sebelum tidur ketika anak-anak sudah tidur,” tambah Nikita.

Dalam membangun kedekatan dengan anak, menurut Nikita, tidak ada patokan mutlak mengenai berapa lama orang tua harus menghabiskan waktu bersama. Namun, dalam praktik tertentu, interaksi sekitar 15 hingga 20 menit dapat menjadi salah satu acuan, terutama ketika waktu tersebut benar-benar digunakan untuk melakukan aktivitas yang disukai anak.

“Actually, ini pertanyaan yang bagus karena sebenarnya nggak ada formulasi khusus banget. Tapi kalau ke anak, dalam praktis beberapa terapi, minimal kalau bisa 15–20 menit, tapi benar-benar melakukan sesuatu yang disukai anak bersama keluarga,” jelas Nikita.

Durasi tersebut pun tidak harus dianggap sebagai aturan yang kaku. Waktu yang lebih singkat tetap dapat menjadi quality time selama interaksi yang terjalin membuat anggota keluarga merasa nyaman, bahagia, dan saling terhubung.

“Kalau misalkan selama 20 menit atau kurang, misalnya bisa aja cuma 10–15 menit dulu. Tapi terus interaksinya bikin happy, kitanya semua merasa connected, kitanya semua merasa hangat, kurasa itu cukup,” lanjutnya.

Dengan demikian, ukuran quality time bagi Nikita bukan sekadar jumlah menit yang dihabiskan bersama, melainkan bagaimana orang tua dan anak benar-benar hadir dalam momen tersebut. Kehangatan dan rasa terhubung menjadi bagian yang tidak kalah penting dari durasi.

Baca Juga: Lemonilo Rayakan Family Happy Day Bersama Nikita Willy, Tekankan Pentingnya Quality Time Keluarga

Selain membangun kedekatan melalui kebersamaan, Nikita dan Indra juga menyadari bahwa orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kebiasaan anak, termasuk dalam hal pola konsumsi.

Menurut Indra, anak cenderung belajar dari apa yang mereka lihat dan dilakukan orang tua setiap hari.

Karena itu, ketika ingin membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat pada anak, ia dan Nikita memilih untuk memberikan contoh terlebih dahulu, termasuk melalui pilihan makanan yang tersedia di rumah.

“Anak itu kan mencontoh orang tuanya banget. Jadi kita ingin anak kita makan seperti apa, itu kita lakukan dulu. Kita nggak bisa berharap anak kita nggak mau makan gula-gulaan yang tinggi, tapi sementara di rumah kita makan itu terus dan kita simpan stok-stok makanan yang seperti itu di rumah. It doesn't work like that,” imbuh Indra.

Dikatakan Indra, perubahan kebiasaan perlu dimulai dari orang tua. Ketika anak melihat pola hidup dan pilihan makanan yang diterapkan dalam keseharian, mereka akan lebih mudah memahami sekaligus mengikuti kebiasaan tersebut.

“Jadi menurut aku yang berubah kitanya dulu. Kita pengen anak kita pola makannya seperti apa, hidup sehat seperti apa, kita coba dulu contohkan seperti itu. Jadi kalau misalkan anak sudah melihat orang tuanya seperti itu, kayaknya lebih mudah lagi untuk mengikutinya,” lanjutnya.

Prinsip tersebut juga berusaha diterapkan ketika keluarga sedang berada di luar rumah. Pilihan makanan yang lebih sehat tetap menjadi perhatian, sembari menjadikan kebiasaan tersebut sebagai contoh bagi anak.

Di tengah berbagai cara yang dilakukan untuk menjaga kebersamaan keluarga, Nikita juga mengaku semakin memahami makna kebahagiaan seorang ibu setelah memiliki anak. Baginya, kondisi ibu turut memengaruhi suasana di dalam rumah.

“Happy mom, happy family. Saya juga baru mengerti apa arti kalimat itu semenjak jadi ibu. Saya benar-benar baru merasakan kalau ibu happy, anak-anak jadi lebih happy. Suami juga happy. Jadi, kalau ibunya happy, satu rumah jadi happy,” tandasnya.

Baca Juga: Parenting ala Nikita Willy: Ciptakan Rutinitas yang Konsisten untuk Anak, Ibu Jadi Bisa Me Time