Growthmates, sunscreen kini tak hanya bicara soal perlindungan dari sinar matahari. Seiring berkembangnya produk skincare, sejumlah sunscreen mulai menghadirkan kandungan aktif yang diklaim dapat memberikan manfaat tambahan bagi kulit, salah satunya PDRN.

Namun, sebenarnya apa yang membedakan sunscreen dengan kandungan aktif seperti PDRN dari sunscreen konvensional? Apakah kandungan tersebut benar-benar memberikan perlindungan lebih, dan apakah penggunaan sunscreen yang dilengkapi UV serta heat protection masih bermanfaat jika baru mulai digunakan ketika usia sudah 30-an?

Dokter sekaligus Content Creator dr. Ayman Alatas, Sp.MK, menuturkan, hal pertama yang perlu dipahami adalah adanya kandungan aktif dalam produk tersebut. Salah satunya adalah PDRN yang menjadi bagian dari formula sunscreen.

“Yang perlu dipahami adalah ini sunscreen yang punya zat aktif. Jadi gampangnya kayak gitu dulu, zat aktif yang salah satunya PDRN,” tutur dr. Ayman, saat sesi talkshow ‘Can Sunscreen Do More Than Protect?’, yang menjadi bagian dari Wardah Skin Longevity Clinic di SPAC8 ASHTA, Jakarta, Sabtu (3/10/2026).

Meski begitu, dr. Ayman mengingatkan agar konsumen tidak langsung menganggap PDRN sebagai kandungan yang secara otomatis mampu memberikan efek regenerasi atau meningkatkan kolagen secara signifikan ketika diaplikasikan melalui skincare.

Kata dia, karakteristik molekul PDRN perlu dipahami terlebih dahulu.

“Secara teori, yang nggak mungkin menyerap ke kulit. PDRN ini lebih untuk melembapkan,” jelasnya.

Menurut dr. Ayman, menjaga kelembapan merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga fungsi kulit.

Kulit perlu mempertahankan kadar airnya agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga kandungan yang membantu menjaga kelembapan dapat menjadi nilai tambah dalam produk perawatan kulit.

“Karena salah satu fungsi kulit adalah kulit itu harus dijaga airnya, kelembapannya. Kita juga bahas bahwa tubuh kita mayoritas itu air. Dengan adanya PDRN itu, kelembapannya jadi lebih baik dan lebih terjaga,” katanya.

Selain PDRN, dr. Ayman menyebut sejumlah kandungan aktif lain juga dapat memberikan manfaat tambahan, tergantung pada formulasi produk.

Misalnya, antioksidan yang dapat membantu menghadapi radikal bebas yang terbentuk akibat berbagai paparan lingkungan, termasuk sinar UV.

“UV ini kan ada radikal bebas. Tubuh kita bisa menghasilkan antioksidan, tapi kalau kita ditambah antioksidan dari luar, itu lebih efektif lagi dan bagus,” tukas dr. Ayman.

Baca Juga: Pakai Sunscreen di Luar vs Dalam Ruangan, Apa Bedanya? Ini Penjelasan Dokter

Ada pula kandungan yang ditujukan untuk membantu menenangkan kulit. Hal tersebut menurutnya dapat menjadi pertimbangan, terutama bagi orang yang kulitnya mudah mengalami kemerahan atau terasa sensitif setelah terpapar berbagai faktor dari lingkungan.

“Misalkan, kulitnya mungkin gampang merah dan lain-lain, ada zat aktif tersebut sehingga lebih menenangkan kulit, terutama yang gampang kemerahan,” lanjutnya.

Lantas, bagaimana dengan mereka yang selama ini hanya menggunakan sunscreen konvensional dan baru mengetahui pentingnya perlindungan terhadap UV sekaligus panas? Apakah semuanya sudah terlambat jika baru mulai memperhatikan hal tersebut di usia 30-an? Menurut dr. Ayman, tidak ada kata terlambat.

“Kalau baru sekarang itu terlambat nggak sih? Nggak ada kata terlambat. Daripada nanti mungkin baru ngeh sekarang, karena udah ngeh ya udah mulai dari sekarang, biar proses penuaannya bisa lebih terlambat lagi,” imbuhnya.

Ia menilai, kesadaran untuk mulai melindungi kulit tetap memberikan manfaat, berapa pun usia seseorang saat mulai membangun kebiasaan tersebut. Justru, semakin cepat seseorang menyadari pentingnya perlindungan kulit, semakin baik untuk kebiasaan jangka panjang.

“Jadi nggak bisa dibilang, ‘Oh yaudah, udah terlanjur.’ Karena sekarang udah sadar, nggak ada kata terlambat,” kata dr. Ayman.

dr. Ayman juga bilang, kondisi kulit seseorang di masa depan tetap akan dipengaruhi oleh kebiasaan yang dilakukan sejak sekarang.

Karena itu, daripada menganggap paparan sebelumnya sebagai sesuatu yang tidak bisa diperbaiki, lebih baik mulai membangun kebiasaan perlindungan kulit secara konsisten.

“Kan nanti pasti beda. Umurnya sekarang, tambah 20 tahun lagi pasti kulitnya sudah beda. Jadi mulai dari sekarang, jangan sampai nanti kehidupannya tambah parah lagi,” tuturnya.

Lebih jauh, dr. Ayman menjelaskan bahwa keberadaan PDRN dalam sunscreen sebaiknya dilihat sebagai salah satu bagian dari keseluruhan formulasi, bukan sebagai satu-satunya alasan untuk memilih sebuah produk.

Manfaat yang diberikan tetap bergantung pada kombinasi berbagai kandungan aktif di dalamnya.

Dalam konteks sunscreen, fungsi utama tetap berkaitan dengan perlindungan terhadap paparan sinar UV. Sementara kandungan seperti PDRN, antioksidan, maupun bahan yang membantu menenangkan kulit dapat menjadi pelengkap untuk mendukung kondisi kulit secara keseluruhan.

Secara sederhana, dr. Ayman juga menjelaskan PDRN sebagai materi yang berkaitan dengan DNA. Sementara, pada produk yang menggunakan istilah vegan PDRN, sumber bahan tersebut berasal dari tumbuhan, berbeda dengan PDRN yang secara umum dikenal berasal dari sumber hewani.

“Gampangnya, PDRN itu sebenarnya materi genetik atau DNA sesuatu. Kalau vegan berarti misalnya dari tumbuh-tumbuhan. Yang banyak di luar sana pakai salmon, berarti itu DNA dari hewan. DNA dari tumbuh-tumbuhan,” jelasnya.

Baca Juga: Bukan Cuma SPF, Ini yang Perlu Diperhatikan saat Memilih Sunscreen Menurut Ricky Skinoppa