Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Access Partnership bersama Tencent tertuang dalam white paper berjudul “The video game industry: Unlocking the next level of economic and social development in Southeast Asia”, industri gim diproyeksikan akan menyumbang nilai tambah sebesar 12,2 miliar dolar AS (setara Rp219,6 triliun) pada 2030 dan mendukung sekitar 1,01 juta lapangan kerja di Asia Tenggara. Potensi pertumbuhan industri gim di kawasan ini dapat meningkat lebih jauh jika didukung oleh kebijakan strategis dan kondisi pasar yang kondusif.

Di lima negara di Asia Tenggara, laporan ini menunjukkan bahwa industri gim telah memberikan kontribusi berarti terhadap lapangan kerja dengan porsi pendapatan yang signifikan berasal dari ekspor. Ekosistem yang lebih luas ini juga didukung oleh perusahaan gim internasional yang beroperasi secara lokal, termasuk melalui fungsi penerbitan regional dan global.

Baca Juga: 5 Tahun IA-CEPA, Ini Tantangan Indonesia-Australia di Era Ekonomi Digital hingga Transisi Hijau

Peluang Indonesia

Indonesia telah memiliki industri gim yang cukup besar. Pada 2025, industri ini diperkirakan menghasilkan pendapatan sebesar 1,3 miliar dolar AS (setara Rp23,4 triliun), yang berkontribusi sebesar 1,8 miliar dolar AS (setara Rp32,4 triliun) terhadap perekonomian, dan mendukung sekitar 257.400 lapangan kerja.

Namun, sebagian besar nilai tersebut berasal dari perangkat keras dan periferal (47%), disusul esports (24%) dan ritel (22%), sedangkan pengembangan dan perilisan gim menyumbang sebesar 7%. Indonesia memiliki peluang besar untuk melangkah lebih jauh dari sekadar menjadi pasar gim yang besar, dengan mengambil peran lebih besar dalam bagian-bagian ekosistem yang menciptakan nilai jangka panjang. Ini mencakup IP lokal, pengembangan gim, teknologi, talenta, dan akses ke pasar internasional.

Dengan kondisi yang tepat, laporan ini memproyeksikan industri gim Indonesia bahkan dapat menghasilkan nilai tambah hingga 3,3 miliar dolar AS (setara Rp59 triliun) dan mendukung 476.600 lapangan kerja pada 2030 dalam skenario pertumbuhan yang dipercepat. Dalam skenario moderat, nilai tambah diproyeksikan mencapai sekitar 2,8 miliar dolar AS dan mendukung sekitar 416.600 lapangan kerja.

Laporan ini mengidentifikasi tiga area kebijakan yang dapat mendorong pertumbuhan lebih lanjut di Indonesia:

  1. Perluasan akses pembiayaan bagi studio lokal. Akses ke berbagai instrumen, seperti hibah prototipe, pendanaan pendamping, dan pinjaman berbunga ringan, dapat membantu pengembang Indonesia membawa lebih banyak gim buatan lokal ke pasar dan mendukung pertumbuhan studio;
  2. Penciptaan peluang untuk mengoptimalkan nilai IP lokal. Proses pendaftaran, penilaian, dan pembiayaan IP terkait gim yang lebih sederhana dapat membantu studio mengembangkan gim yang sukses secara komersial, mempertahankan lebih banyak nilai, dan membangun bisnis penerbitan yang berkelanjutan;
  3. Penguatan jalur pengembangan talenta dan ekspansi internasional. Kurikulum khusus, penempatan kerja di industri, dan inisiatif penjajakan bisnis dapat membantu studio Indonesia meningkatkan kapabilitas, terhubung dengan mitra industri, dan menjangkau pasar yang lebih luas.

Director of Global Public Affairs (APAC), Tencent, Monrawee Ampolpittayanant (Lynn), mengatakan, “Peluang saat ini adalah mengubah kekuatan pasar Indonesia menjadi ekosistem kreatif dan produksi yang lebih kuat. Di dalamnya, studio lokal dapat mengembangkan IP orisinal, membangun bisnis yang berkelanjutan, dan terhubung dengan audiens di seluruh dunia. Kami berharap riset ini dapat mendorong dialog lebih lanjut antara pemerintah, industri, dan komunitas kreatif mengenai kondisi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan tersebut.”

Secara lebih luas, laporan ini mendorong pendekatan yang seimbang dan berbasis data. Pendekatan ini mencakup pengakuan terhadap nilai ekonomi dan budaya industri gim, penguatan dialog terstruktur antara pemerintah dan industri, serta perluasan peluang bagi pengembang dan talenta lokal. Dengan kondisi pendukung yang tepat, Asia Tenggara memiliki peluang untuk berkembang dari pasar konsumen menjadi pusat pengembangan gim, inovasi, dan karya kreatif yang kompetitif secara global.