Tim stunt menggabungkan beragam disiplin bela diri, mulai dari Shotokan, Goju-Ryu, Judo, Wushu, dan Tai Chi hingga Kung Fu. Perpaduan tersebut digunakan untuk menerjemahkan gerakan khas dalam gim menjadi koreografi aksi yang dinamis dan meyakinkan di layar lebar.

Untuk mendukung kebutuhan adegan tersebut, para pemeran juga menjalani persiapan fisik yang intensif. Callina Liang, pemeran Chun-Li, berlatih lima hingga enam hari dalam seminggu demi menguasai gerakan khas karakter yang dikenal dengan tendangan cepat dan kuat.

Latihan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan Chun-Li yang tetap mempertahankan ciri khasnya, sekaligus tampil meyakinkan dalam format film aksi langsung.

Antusiasme terhadap kembalinya Street Fighter juga menjadi perhatian Paramount Pictures Indonesia. Julius Daniel Suhakri, Head of Marketing Paramount Pictures Indonesia, menilai, kekuatan franchise ini terletak pada kenangan personal yang dimiliki para penggemarnya terhadap karakter dan pengalaman bermain.

“Street Fighter memiliki hubungan yang kuat dengan berbagai generasi karena setiap orang memiliki preferensi karakter dan kenangannya masing-masing dari game ini. Melalui filmnya, kami ingin membawa kembali energi tersebut ke layar lebar sekaligus memberikan pengalaman baru bagi penonton yang mungkin baru mengenal Street Fighter,” terang Julius.

Semangat tersebut tidak hanya dihadirkan melalui film, tetapi juga lewat berbagai aktivitas yang mengajak penggemar di Indonesia berinteraksi langsung dengan dunia Street Fighter. Salah satunya adalah Smash the Car di Indonesia Comic Con 2026, sebuah tantangan yang terinspirasi dari bonus stage Street Fighter II.

Dalam tantangan klasik tersebut, pemain harus menghancurkan sebuah mobil sebelum waktu habis. Konsep yang identik dengan gim ini kemudian dihadirkan kembali sebagai aktivitas langsung untuk membawa pengalaman bermain ke luar layar.

Keseruan juga berlanjut melalui parade cosplay Street Fighter di Car Free Day (CFD) Jakarta, yang diramaikan dengan aktivitas olahraga bersama FTL Gym. Berbagai kegiatan tersebut menjadi ruang bagi penggemar untuk merayakan karakter favorit sekaligus merasakan energi kompetisi yang selama ini menjadi bagian dari identitas Street Fighter.

Setelah hampir empat dekade menjadi bagian dari budaya populer, Street Fighter kembali membuka arena pertarungannya melalui format sinematik. Perpaduan karakter ikonis, koreografi bela diri yang intens, sentuhan visual yang terinspirasi dari era klasik, serta nostalgia lintas generasi menjadi daya tarik film ini.

Bagi penggemar lama, film tersebut menawarkan kesempatan untuk kembali menyaksikan karakter favorit dalam pengalaman berbeda. Sementara itu, penonton baru dapat mengenal dunia para Fighter melalui kisah dan aksi yang dihadirkan di layar lebar. 

Baca Juga: Rekomendasi Film Drama Keluarga yang Siap Temani Akhir Pekanmu, Intip Yuk!