Wardah Derma Longevity Lab hadir untuk mengajak konsumen memahami kondisi kulit secara lebih personal, mulai dari mengenali sinyal dan pemicu masalah kulit hingga menentukan langkah perawatan yang sesuai.
Melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi, Wardah menekankan pentingnya membangun skin immunity serta menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang atau skin longevity.
Studi yang dipublikasikan dalam Acta Dermato-Venereologica menyebutkan bahwa reactive skin bukan lagi kondisi yang niche. Sebanyak satu dari dua orang melaporkan memiliki kulit reaktif. Kulit yang merah, kering, terasa panas, gatal, perih, atau mengalami breakout kerap dianggap muncul secara tiba-tiba. Padahal, kondisi tersebut dapat berulang dan membuat proses recovery kulit menjadi semakin kompleks.
Wardah melihat kondisi tersebut sebagai titik awal untuk memahami empat emerging skin concerns, yakni sensitive skin, severe dry skin, acne dry skin, dan acne oily skin. Keempat kondisi tersebut memiliki pola dan kebutuhan skin recovery yang berbeda sehingga membutuhkan assessment serta pendekatan yang berbeda pula.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Wardah menghadirkan Wardah Derma Longevity Lab di Main Atrium Pondok Indah Mall 2, Jakarta, pada 24-27 September 2026.
Melalui acara ini, Wardah memperkenalkan pendekatan “Skin Trigger-to-Personalized Skin Recovery” yang membantu menerjemahkan sinyal dari kulit menjadi langkah perawatan yang lebih relevan.
Berbeda dari skin check konvensional yang umumnya menggambarkan kondisi kulit pada saat pemeriksaan, Wardah menghadirkan AI Personalized Skin Analyzer yang dapat membaca sejumlah parameter kulit dan mengklasifikasikan tingkat kondisinya melalui standardized skin grading.
Hasil analisis tersebut kemudian dikombinasikan dengan lifestyle assessment untuk membantu mengidentifikasi kemungkinan skin problem triggers dan menyusun personalized skin recovery guidance.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari Wardah Derma Longevity IntelligenceTM yang menghubungkan tiga tahapan utama. Pertama, Skin Problem Triggers, yakni mengidentifikasi skin signals dan kaitannya dengan skin exposome, atau keseluruhan paparan eksternal dan internal yang dapat memengaruhi kondisi kulit.
Faktor tersebut meliputi paparan fisik seperti UV, panas, dingin, dan angin; faktor kimia seperti kosmetik, sabun, air, dan polutan; faktor psikologis seperti stres; serta faktor hormonal seperti siklus menstruasi.
Kedua, Diagnostic Assessment, yaitu memahami kondisi kulit secara lebih personal. Hasil pemeriksaan dalam Skin ID Blueprint menghubungkan skin signals, kondisi skin barrier, dan lifestyle. Dermatologist kemudian membantu menginterpretasikan hasil tersebut, dengan pemeriksaan tambahan dilakukan secara selektif sesuai kondisi masing-masing individu.
Ketiga, Personalized Recovery Guidance, yakni menerjemahkan hasil assessment menjadi langkah perawatan yang dapat diterapkan. Konsumen memperoleh skin recovery guidance, mulai dari skin longevity routine guide, rekomendasi bahan berdasarkan kebutuhan kulit, hingga produk Wardah yang relevan.
Pendekatan tersebut berangkat dari pemahaman bahwa kulit yang terlihat baik-baik saja belum tentu benar-benar berada dalam kondisi optimal. Kulit dapat tampak normal, tetapi tetap mengalami sensasi seperti perih, terbakar, gatal, atau tingling. Gejala yang serupa pun belum tentu memiliki pemicu dan membutuhkan penanganan yang sama.
Di Wardah Derma Longevity Lab, pengunjung dapat mencoba rangkaian holistic assessment test yang tergabung dalam Derma Longevity IntelligenceTM. Salah satunya adalah Wardah Advance Personalized Skin Analyzer (AI-PSA), yang membantu memberikan gambaran mengenai kondisi kulit saat ini, area yang perlu diperhatikan, serta lifestyle inputs yang relevan. Hasilnya dirangkum dalam Skin ID Blueprint untuk kemudian diinterpretasikan sebagai dasar pemberian skincare dan lifestyle guidance yang lebih personal.
Terdapat pula Dermascope dan Temperature Provocation Test sebagai pemeriksaan pendukung yang digunakan secara selektif. Dermascope membantu dermatologist melakukan observasi lebih detail ketika terdapat kondisi yang perlu dievaluasi, sementara Temperature Provocation Test dilakukan apabila riwayat dan gejala menunjukkan kemungkinan respons fisik terhadap suhu tertentu.
Wardah Dryness Test juga dihadirkan untuk menerjemahkan tanda-tanda kekeringan menjadi langkah recovery yang lebih konkret. Pemeriksaan ini digunakan ketika kulit menunjukkan tanda kering, terasa tight, atau terdapat indikasi gangguan skin barrier. Hasilnya membantu menunjukkan kebutuhan recovery dan diterjemahkan menjadi tindakan perawatan yang relevan, termasuk penggunaan Wardah Derma Sensitive Moisturizer sebagai bagian dari recovery.
Sementara itu, Dino-Lite digunakan sebagai high-magnification skin surface imaging untuk membandingkan tampilan permukaan kulit sebelum dan sesudah penggunaan moisturizer.
Rangkaian pemeriksaan tersebut dilengkapi Advanced Skin ID Blueprint, yaitu skin insight yang menghubungkan kondisi kulit dengan enam lifestyle inputs, yakni sleep, stress, nutrition, gut health, movement, dan daily exposure. Informasi tersebut membantu konsumen memahami kemungkinan hubungan antara rutinitas sehari-hari dengan sinyal kulit dan kondisi skin barrier, termasuk kulit yang tampak lelah atau kusam, kemerahan, breakout, kekeringan, hingga proses recovery yang terasa kurang optimal.
Baca Juga: Tren Active Morning Lifestyle Makin Populer, Wardah Gelar A.M Club 2026 di Jakarta
Dermatologist dr. Arlene Rainamira, Sp.DVE, mengatakan bahwa kondisi kulit perlu dipahami secara lebih menyeluruh, bukan hanya berdasarkan apa yang terlihat di permukaan.
“Kulit tidak hanya dinilai dari apa yang terlihat di permukaan. Melalui Advanced Personalized Skin Analyzer dan Advanced Skin ID Blueprint yang dihadirkan di Wardah Skin Longevity Lab, memahami sinyal kulit dilakukan secara lebih objektif. Kita dapat menelusuri kemungkinan pemicu kulit bermasalah (skin problem triggers) dengan bantuan interpretasi assessment dari dermatologist dapat menentukan recovery guidance yang lebih tepat untuk membantu menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang,” ungkap dr. Arlene.
Wardah Derma Longevity Lab juga dirancang agar proses memahami kulit tidak terasa seperti pengalaman klinis yang kompleks. Konsumen dapat memulai perjalanan melalui Science Gallery untuk mengenal hubungan antara kulit dan berbagai faktor gaya hidup, dilanjutkan dengan konsultasi, hingga mencoba langsung produk yang relevan dengan kebutuhan kulit.
“Di Wardah Derma Longevity Lab, kami ingin mengedukasi konsumen untuk tidak hanya melihat masalah kulit sebagai sesuatu yang harus segera diperbaiki, tetapi membantu konsumen memahami sinyal yang diberikan kulitnya, mengenali kemungkinan pola yang memengaruhinya, dan mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika kondisi tersebut kembali muncul,” ucap Arum Pratiwi, Head of Wardah Skincare.
Sejalan dengan pendekatan holistik terhadap kesehatan kulit, Wardah juga menggandeng Tropicana Slim sebagai Nutrition Partner for Skin Health from Within. Kolaborasi ini memperkuat pesan bahwa kesehatan kulit tidak hanya dibangun dari perawatan luar, tetapi juga membutuhkan dukungan nutrisi dari dalam.
Kulit dapat menunjukkan reaksi terhadap berbagai tekanan sehari-hari, mulai dari perubahan cuaca dan suhu, polusi, stres, kurang tidur, gesekan, hingga penggunaan makeup atau skincare yang kurang sesuai. Karena tidak semua faktor tersebut dapat dikontrol, perawatan kulit perlu turut mendukung skin barrier dan fungsi perlindungan alami kulit atau skin immunity.
Skin immunity merupakan bagian dari sistem pertahanan kulit dalam menghadapi berbagai pemicu sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Ketika daya tahan kulit melemah, kulit dapat menjadi lebih mudah mengalami inflamasi, terasa lebih reaktif, mengalami breakout atau flare-up berulang, serta membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
Influencer dan Beauty Enthusiast, Tasya Farasya, mengatakan bahwa menjaga daya tahan kulit menjadi bagian penting dari upaya mempertahankan kondisi kulit tetap sehat.
“Buat aku, kulit yang sehat adalah kulit yang punya skin immunity yang kuat untuk menghadapi berbagai skin problems. Saat kulit sedang reaktif, kembali ke basic skincare, Wardah Skin Rescue Moisturizer tepat digunakan karena terasa calming, easily spreadable texture dan cepat mendukung skin recovery supaya kulit kembali sehat,” kata Tasya.
Konsep longevity sendiri menandai perubahan cara pandang terhadap kesehatan. Bukan sekadar hidup lebih lama, tetapi mempertahankan kondisi tubuh yang sehat dalam jangka waktu lebih panjang. Konsep serupa kini berkembang dalam dunia kecantikan melalui skin longevity, yang tidak hanya berfokus pada memperbaiki masalah kulit hari ini, tetapi juga menjaga kesehatan dan resiliensi kulit dalam jangka panjang.
Karena itu, perawatan kulit tidak hanya diarahkan untuk menenangkan reaksi yang sudah terlihat, tetapi juga mendukung proses recovery dan menjaga skin barrier secara konsisten agar kesehatan kulit dapat dipertahankan lebih lama.
“The future of skincare is not simply about correcting what we see today, but strengthening the skin’s ability to recover, adapt, and remain resilient over time. Long-term skin health starts with building resilience, not just repairing damage,” ujar Segolene, Global Paragon Wardah Researcher/Scientific Expert.
Selama penyelenggaraan Wardah Derma Longevity Lab, konsumen juga dapat menikmati sejumlah promo eksklusif, mulai dari Buy 1 Get 1, hadiah langsung untuk minimum pembelian tertentu, hingga special merchandise seperti hologram pouch, foldable bag, tumbler, dan padel bag.
Bagi konsumen yang belum dapat hadir langsung, promo eksklusif juga tersedia secara online melalui platform Shopee. Informasi mengenai pendaftaran dan jadwal Wardah Derma Longevity Lab juga dapat diakses melalui GOERS.
Baca Juga: Sunscreen Mist Baru dari Wardah Diklaim Tak Bikin Makeup Luntur, Ini Keunggulannya