Growthmates, cuaca panas pada siang hari tetapi berubah menjadi sangat dingin pada malam hingga pagi hari belakangan dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Kondisi tersebut dikenal masyarakat Jawa dengan istilah bediding atau bedhidhing, yang umumnya ditandai dengan penurunan suhu udara secara signifikan pada malam hingga pagi hari.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr. Givo Alsepan, menjelaskan bahwa bediding merupakan fenomena atmosfer yang lazim terjadi pada musim kemarau.
Fenomena ini tidak secara langsung disebabkan oleh perubahan iklim, meskipun perubahan iklim dapat memengaruhi karakteristiknya.
“Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Ia tidak berdiri sendiri melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif,” jelasnya, dikutip dari laman IPB University, Selasa (22/9/2026).
Menurut Dr. Givo, salah satu faktor utama yang membuat suhu turun drastis pada malam hari adalah kondisi langit yang cenderung cerah. Minimnya tutupan awan memungkinkan panas yang tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer dan luar angkasa.
“Minimnya tutupan awan membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa sehingga suhu udara di dekat permukaan turun lebih cepat,” ungkapnya.
Kondisi tersebut semakin kuat ketika udara berada dalam keadaan lebih kering. Pada musim kemarau, kandungan uap air di atmosfer umumnya lebih rendah dibandingkan musim hujan. Padahal, uap air berperan dalam menahan sebagian panas di atmosfer. Ketika kandungannya berkurang, proses pelepasan panas dari permukaan bumi menjadi lebih efektif.
“Ketika udara lebih kering, pelepasan panas dari permukaan bumi berlangsung lebih efektif. Akibatnya, udara pada malam hingga pagi hari terasa jauh lebih dingin,” ujarnya.
Sensasi dingin akibat bediding juga tidak dirasakan dengan intensitas yang sama di setiap wilayah. Daerah pegunungan dan dataran tinggi cenderung mengalami suhu yang lebih rendah karena faktor ketinggian. Udara dingin juga dapat mengalir dan berkumpul di wilayah lembah sehingga suhu setempat terasa semakin rendah.
Di kawasan tertentu seperti Dataran Tinggi Dieng, kondisi suhu yang sangat dingin bahkan dapat menyebabkan terbentuknya embun beku atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai embun upas.
Baca Juga: Benarkah Kurma, Bit, dan Daun Kelor Bermanfaat untuk Anemia? Ini Kata Dokter Ahli
Selain kondisi atmosfer lokal, bediding juga dipengaruhi oleh pola angin musiman. Pada musim kemarau, Indonesia bagian selatan khatulistiwa, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, mendapat pengaruh angin monsun Australia.
Pada periode tersebut, Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia memiliki karakter yang relatif lebih sejuk dan kering.
“Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas,” urainya.
Dr. Givo juga menyebut, perkembangan El Niño dapat turut memperkuat kondisi kemarau di Indonesia. Curah hujan yang lebih rendah, kelembapan udara yang menurun, serta frekuensi langit cerah yang lebih tinggi pada malam hari dapat membuat pendinginan radiasi berlangsung lebih optimal. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan peluang terjadinya suhu malam yang lebih rendah.
Meski bediding merupakan fenomena musiman yang normal, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan ketika suhu malam dan pagi terasa lebih dingin dari biasanya.
Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian lebih karena udara yang dingin dan kering dapat memperburuk sejumlah gejala gangguan pernapasan.
Masyarakat juga tetap disarankan memenuhi kebutuhan cairan tubuh meskipun tidak merasa terlalu haus saat cuaca dingin. Di sisi lain, musim kemarau juga perlu diwaspadai karena kondisi yang kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Dr. Givo, bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman sehingga masyarakat tidak perlu meresponsnya dengan kekhawatiran berlebihan.
Pemantauan informasi cuaca tetap penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi atmosfer yang berkembang.
“Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik,” pungkasnya.
Baca Juga: Makan Malam Sebelum Tidur, Berapa Jam Jarak yang Ideal? Ini Kata Dokter