Selain kondisi atmosfer lokal, bediding juga dipengaruhi oleh pola angin musiman. Pada musim kemarau, Indonesia bagian selatan khatulistiwa, termasuk Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, mendapat pengaruh angin monsun Australia.
Pada periode tersebut, Australia sedang mengalami musim dingin sehingga massa udara yang bergerak menuju Indonesia memiliki karakter yang relatif lebih sejuk dan kering.
“Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas,” urainya.
Dr. Givo juga menyebut, perkembangan El Niño dapat turut memperkuat kondisi kemarau di Indonesia. Curah hujan yang lebih rendah, kelembapan udara yang menurun, serta frekuensi langit cerah yang lebih tinggi pada malam hari dapat membuat pendinginan radiasi berlangsung lebih optimal. Kondisi tersebut pada akhirnya meningkatkan peluang terjadinya suhu malam yang lebih rendah.
Meski bediding merupakan fenomena musiman yang normal, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan ketika suhu malam dan pagi terasa lebih dingin dari biasanya.
Anak-anak, lansia, serta orang dengan penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian lebih karena udara yang dingin dan kering dapat memperburuk sejumlah gejala gangguan pernapasan.
Masyarakat juga tetap disarankan memenuhi kebutuhan cairan tubuh meskipun tidak merasa terlalu haus saat cuaca dingin. Di sisi lain, musim kemarau juga perlu diwaspadai karena kondisi yang kering dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Menurut Dr. Givo, bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman sehingga masyarakat tidak perlu meresponsnya dengan kekhawatiran berlebihan.
Pemantauan informasi cuaca tetap penting agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi atmosfer yang berkembang.
“Masyarakat tidak perlu khawatir berlebihan karena bediding merupakan bagian dari siklus iklim musiman. Yang terpenting adalah terus mengikuti informasi prakiraan cuaca dan iklim dari BMKG agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca secara lebih baik,” pungkasnya.
Baca Juga: Makan Malam Sebelum Tidur, Berapa Jam Jarak yang Ideal? Ini Kata Dokter