Di sisi lain, obesitas juga kerap disertai dengan sejumlah faktor risiko metabolik, seperti kadar gula darah, tekanan darah, dan kolesterol yang meningkat.

Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan pada pembuluh darah jantung, termasuk penyumbatan yang dapat berujung pada serangan jantung.

"Gula naik, tensi naik, kolesterol naik. Kombo ini dapat meningkatkan sumbatan di pembuluh darah jantung yang akan berujung pada serangan jantung," jelasnya.

Berbeda dengan gagal jantung yang dapat berkembang secara bertahap, serangan jantung umumnya muncul sebagai kondisi akut yang membutuhkan penanganan segera.

Dikatakan dr. Vardian, gejalanya dapat berupa nyeri atau tekanan kuat di dada yang dapat menjalar ke punggung, leher, atau lengan, disertai mual, muntah, keringat dingin, sesak napas, bahkan kehilangan kesadaran.

"Kalau serangan jantung, gejalanya lebih akut dan lebih berat. Dada kayak ditimpa, bukan berat, menembus ke punggung, jalar ke leher, ke tangan kiri, mual, muntah, keringat dingin, sesak, bahkan sampai hilang kesadaran," ujar dr. Vardian.

Karena itu, obesitas tidak sebaiknya hanya dilihat dari angka pada timbangan. Menurut dr. Vardian, pengelolaan berat badan juga merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan jantung dan metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Namun, dr. Vardian menegaskan, risiko tersebut dapat ditekan melalui perubahan gaya hidup dan pengelolaan obesitas yang tepat. Langkah awal dapat dilakukan dengan melakukan skrining kesehatan atau medical check-up untuk mengetahui kondisi gula darah, kolesterol, dan tekanan darah.

Penurunan berat badan juga sebaiknya dilakukan secara bertahap, bukan dengan cara ekstrem atau instan. Pola makan perlu diperhatikan dengan membatasi asupan gula, garam, dan lemak, sekaligus meningkatkan aktivitas fisik sesuai kemampuan dan dilakukan secara konsisten.

Selain itu, kata dr. Vardian, berhenti merokok dan menghindari vape juga penting untuk menjaga kesehatan pembuluh darah dan jantung.

"Kalau diet dan olahraga belum optimal untuk menurunkan berat badan, cari dokter kalian untuk mendapatkan pengobatan seperti GLP-1 RA," kata dr. Vardian.

Terakhir, dr. Vardian pun mengingatkan agar berbagai gejala yang mengarah pada gangguan jantung tidak dianggap sebagai hal yang normal, terutama jika muncul berulang atau semakin berat.

Menurutnya, ealuasi medis diperlukan untuk mengetahui penyebab keluhan sekaligus menentukan langkah penanganan yang sesuai.

"Karena target kita bukan cuma turun berat badan, tapi bikin jantung, metabolisme, dan hidup kita lebih ringan dan lebih berkualitas," tutup dr. Vardian.

Baca Juga: Memuntahkan Makanan untuk Menjaga Berat Badan, Ini Risiko yang Perlu Diwaspadai