Otak tidak selalu membedakan ancaman fisik dengan tekanan psikologis. Stres akibat pekerjaan, konflik, maupun kecemasan dapat mengaktifkan sistem respons tubuh yang serupa. Pada orang dengan riwayat kecemasan atau trauma, respons tersebut bahkan dapat muncul lebih mudah.
“Pada orang yang memiliki riwayat kecemasan atau trauma, respons ini dapat muncul lebih mudah karena sistem alarm di otak menjadi lebih sensitif,” ujarnya.
Menariknya, merinding tidak selalu berkaitan dengan rasa takut. Sensasi yang sama dapat muncul ketika seseorang mendengarkan musik yang menyentuh, menyaksikan sesuatu yang mengagumkan, atau mengalami momen emosional yang mendalam.
Dalam situasi tersebut, otak dapat melepaskan dopamin yang berkaitan dengan rasa senang dan sistem penghargaan. Karena itu, mekanisme merinding sebenarnya dapat muncul sebagai respons terhadap emosi yang sangat kuat, baik emosi negatif maupun positif.
Sensasi merinding juga terkadang muncul ketika seseorang berada di tempat tertentu tanpa mengetahui secara pasti apa pemicunya. Menurut dr. Yeni, kondisi tersebut dapat berkaitan dengan cara otak memproses berbagai informasi dari lingkungan, mulai dari suara, cahaya, suhu, aroma, hingga pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam memori.
“Ini bukan berarti seseorang sedang menerima sinyal gaib. Otak memang terus memindai lingkungan dan sering kali bekerja lebih cepat daripada kesadaran kita,” terangnya.
Meski umumnya merupakan respons tubuh yang normal, dr. Yeni mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan apabila merinding terjadi berulang kali tanpa pemicu yang jelas, terlebih jika disertai gejala lain seperti pusing, jantung berdebar, keringat berlebih, atau nyeri kepala yang muncul secara mendadak.
“Merinding bukan tanda otak mendeteksi sesuatu yang tak terlihat. Justru fenomena ini menunjukkan betapa canggihnya sistem saraf manusia dalam merespons emosi dan lingkungan sekitar,” pungkasnya.
Baca Juga: Benarkah Paha Besar Bikin Panjang Umur? Ini Faktanya