Growthmates, tren blind box yang semakin populer di berbagai kalangan masyarakat mulai mendapat perhatian dari sisi kesehatan. Di balik keseruan membuka kotak berisi karakter atau barang yang belum diketahui, terdapat mekanisme psikologis yang dapat mendorong seseorang untuk terus melakukan pembelian.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Samuel Stemi, MBiomed, AIFO-K, Dipl AAAM, mengingatkan bahwa kebiasaan membeli blind box sebenarnya masih dapat menjadi bentuk hiburan selama dilakukan secara wajar. Namun, jika dilakukan berulang kali tanpa kontrol, aktivitas tersebut berpotensi berkembang menjadi perilaku yang sulit dihentikan.

“Selama masih dalam batas wajar, blind box dapat menjadi hiburan. Namun jika dilakukan berulang tanpa kontrol, kebiasaan ini dapat berkembang menjadi perilaku yang sulit dihentikan karena adanya dorongan untuk terus mendapatkan item atau karakter tertentu yang diinginkan,” imbuh dr. Samuel, dikutip dari laman IPB Universoty, Kamis (8/10/2026).

dr. Samuel melanjutkan, salah satu daya tarik utama blind box adalah unsur kejutan. Pembeli tidak mengetahui secara pasti isi kotak sebelum membukanya.

Ketidakpastian tersebut menciptakan rasa penasaran sekaligus ekspektasi yang dapat memicu perasaan senang ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Mekanisme ini berkaitan dengan pelepasan hormon dopamin yang berperan dalam sistem penghargaan atau reward di otak. Sensasi yang muncul dari hasil yang tidak pasti bahkan dapat terasa lebih kuat dibandingkan ketika seseorang sudah mengetahui hadiah yang akan diperolehnya.

Karena itu, pengalaman mendapatkan karakter atau item yang diincar dapat mendorong seseorang untuk mengulangi pembelian. Sebaliknya, ketika yang didapat justru barang yang tidak diinginkan atau produk duplikat, rasa kecewa dapat muncul dan mendorong keinginan untuk mencoba lagi.

Dalam kondisi tersebut, seseorang dapat mengalami apa yang disebut reward chasing behavior, yakni dorongan untuk kembali membeli demi memperoleh hasil yang dianggap lebih memuaskan.

Pola inilah yang menurut dr. Samuel perlu diwaspadai ketika pembelian blind box mulai dilakukan secara berlebihan.

“Dorongan untuk memperbaiki hasil inilah yang berpotensi memperkuat siklus adiksi,” jelasnya.

Dari perspektif kesehatan psikologis, kebiasaan membeli blind box secara berlebihan juga berpotensi berkaitan dengan meningkatnya impulsivitas dan menurunnya kemampuan menunda keinginan atau delayed gratification.

Pengeluaran yang tidak terkendali pun dapat menjadi sumber stres tersendiri, terutama ketika seseorang terus membeli untuk mendapatkan item tertentu.

Baca Juga: Tren Bed Rotting pada Gen Z, Pakar Ingatkan Batas Sehat Istirahat

dr. Samuel menjelaskan, mekanisme psikologis dalam fenomena tersebut memiliki sejumlah kemiripan dengan perilaku adiktif lainnya, termasuk perjudian.

Kesamaannya antara lain terletak pada adanya uncertain reward atau sistem hadiah yang hasilnya tidak dapat dipastikan, aktivasi jalur dopamin, serta dorongan untuk mengulangi perilaku demi mendapatkan hasil yang diharapkan.

“Meskipun tidak identik secara klinis dengan judi, pola ini berada dalam spektrum perilaku adiktif yang perlu diwaspadai,” katanya.

Dampaknya juga tidak hanya berkaitan dengan kondisi psikologis. Dalam perspektif kesehatan dan anti-aging, stres yang berlangsung dalam jangka panjang dapat meningkatkan kadar hormon kortisol.

Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan berbagai proses dalam tubuh, termasuk inflamasi dan gangguan metabolik, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.

Karena itu, dr. Samuel menyarankan masyarakat untuk tidak hanya melihat blind box sebagai tren atau hiburan, tetapi juga memahami mekanisme psikologis yang membuat aktivitas tersebut terasa menyenangkan dan mendorong pembelian berulang.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menerapkan mindful buying dengan menetapkan batas anggaran serta frekuensi pembelian. Literasi finansial dan kemampuan mengendalikan impuls juga dinilai penting, terutama bagi remaja yang mungkin lebih mudah terdorong oleh tren dan keinginan untuk mengoleksi karakter tertentu.

dr. Samuel menambahkan, peran orang tua pun menjadi penting dalam membantu anak dan remaja membangun pola konsumsi yang sehat.

Pengawasan bukan hanya soal melarang pembelian, tetapi juga membantu mereka memahami alasan di balik keinginan membeli dan membedakan antara kebutuhan, hiburan, serta dorongan impulsif.

Jika kebiasaan membeli mulai bersifat kompulsif, sulit dikendalikan, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau menyebabkan masalah keuangan maupun psikologis, dr. Samuel menyarankan agar individu tidak ragu mencari bantuan profesional dengan berkonsultasi kepada psikolog atau psikiater.

“Blind box tidak sepenuhnya negatif jika dilakukan secara sadar dan terkontrol. Namun tanpa regulasi diri yang baik, terdapat potensi dampak terhadap kesehatan mental dan secara tidak langsung terhadap proses penuaan karena eratnya hubungan antara stres, hormon, dan kesehatan jangka panjang,” tutupnya.

Baca Juga: Tren Fiber Maxxing Ramai di Media Sosial, Berapa Banyak Serat yang Dibutuhkan Tubuh? Ini Kata Pakar