Growthmates, olahraga lari dan bersepeda semakin digemari karena dinilai praktis untuk menjaga kebugaran tubuh. Namun, di balik manfaatnya, olahraga dengan intensitas tinggi juga memiliki risiko kesehatan, terutama bagi orang yang memiliki gangguan jantung tetapi belum terdiagnosis.

Dokter Spesialis Jantung Konsultan Kardiologi Intervensi, dr. Bobby Arfhan Anwar, SpJP(K), mengingatkan pentingnya melakukan pemeriksaan kesehatan sebelum rutin mengikuti olahraga lari atau bersepeda, terutama untuk jarak jauh dan intensitas tinggi.

Pemeriksaan ini diperlukan untuk menilai kondisi jantung sekaligus mendeteksi kemungkinan gangguan yang dapat meningkatkan risiko kejadian serius saat berolahraga.

“Olahraga lari ataupun sepedaan itu memang sederhana. Tapi tidak sesederhana itu kalau kalian ingin olahraga dengan nadi yang tinggi, wajib medical check-up sebelumnya,” papar dr. Bobby, dikutip dari laman Instagram pribadinya, Senin (19/10/2026).

dr. Bobby memaparkan, setidaknya ada 5 pemeriksaan yang dapat dipertimbangkan untuk membantu memastikan kesiapan tubuh sebelum menjalani olahraga intensitas tinggi. Pemeriksaan tersebut meliputi pengukuran tekanan darah, elektrokardiogram (EKG), USG jantung atau ekokardiografi, tes treadmill, hingga Cardiopulmonary Exercise Test (CPET).

Pemeriksaan pertama adalah tekanan darah. Menurut dr. Bobby, tekanan darah menjadi salah satu indikator dasar yang perlu diperhatikan sebelum seseorang menjalani aktivitas fisik berat.

“Yang pertama, tekanan darah. Ini wajib. Kalau tekanan darahnya masih tinggi, kontrol dulu. Kalau belum terkontrol, tidak disarankan untuk ikut olahraga lari ataupun sepedaan jarak jauh,” katanya.

Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko komplikasi kardiovaskular, terlebih ketika tubuh menerima beban fisik yang besar. Karena itu, orang dengan hipertensi perlu berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan tekanan darahnya terkendali dan menentukan tingkat aktivitas fisik yang aman.

Pemeriksaan kedua adalah elektrokardiogram atau EKG, yakni pemeriksaan yang merekam aktivitas listrik jantung. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai irama jantung dan mengidentifikasi kelainan tertentu yang mungkin memerlukan evaluasi lebih lanjut.

“Yang kedua, EKG atau rekam jantung. Ini berfungsi untuk mengetahui irama dasar kita. Ada atau tidaknya potensi gangguan irama jantung, ataupun tanda-tanda pernah mengalami serangan jantung sebelumnya,” jelas dr. Bobby.

EKG dapat membantu mendeteksi gangguan irama jantung serta sejumlah perubahan yang mengarah pada masalah jantung. Namun, hasil EKG yang normal tidak selalu menyingkirkan seluruh kemungkinan penyakit jantung. Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan tambahan sesuai dengan gejala, riwayat kesehatan, dan faktor risiko seseorang.

Pemeriksaan ketiga adalah USG jantung atau ekokardiografi. Pemeriksaan ini menggunakan gelombang suara untuk melihat struktur dan fungsi jantung, termasuk ukuran ruang jantung, ketebalan dinding otot, serta kemampuan jantung memompa darah.

Menurut dr. Bobby, pemeriksaan tersebut penting untuk mengetahui apakah terdapat kelainan pada struktur jantung yang perlu diwaspadai ketika seseorang melakukan aktivitas fisik berat.

“Ini penting banget untuk melihat apakah jantung kalian itu anatominya normal atau ada kelainan. Ada beberapa kasus di mana dinding jantung seseorang itu tidak simetris,” imbuhnya.

Baca Juga: Dokter Bagikan Tips Jalan Kaki 30 Menit di Rumah agar Jantung Tetap Sehat

Lebih jauh, dr. Bobby pun mengingatkan bahwa kelainan struktur jantung tertentu dapat meningkatkan risiko gangguan serius ketika seseorang melakukan olahraga intensitas tinggi.

Salah satu contohnya adalah kondisi ketika otot jantung menebal secara abnormal, yang pada sebagian orang dapat berkaitan dengan risiko gangguan irama jantung berbahaya.

Pemeriksaan keempat adalah tes treadmill, yaitu pemeriksaan untuk mengevaluasi respons jantung ketika tubuh melakukan aktivitas fisik dengan beban yang meningkat secara bertahap. Selama pemeriksaan, tenaga medis memantau sejumlah indikator, termasuk aktivitas listrik jantung, tekanan darah, dan gejala yang muncul.

“Empat, tes treadmill. Ini merupakan tes yang berfungsi untuk mengetahui tingkat kebugaran jantung kalian dan juga untuk screening ada atau tidaknya penyempitan pembuluh darah penyebab serangan jantung pada saat berlari,” kata dr. Bobby.

Tes treadmill dapat membantu mendeteksi tanda-tanda gangguan aliran darah ke otot jantung pada kondisi tertentu. Meski demikian, pemeriksaan ini tidak selalu diperlukan bagi setiap orang yang berolahraga. Dokter akan mempertimbangkan usia, faktor risiko, gejala, serta tujuan pemeriksaan sebelum merekomendasikannya.

Pemeriksaan kelima yang disebut dr. Bobby adalah Cardiopulmonary Exercise Test (CPET), yakni tes latihan yang mengevaluasi respons sistem kardiovaskular dan pernapasan selama aktivitas fisik. Pemeriksaan ini dilakukan dengan pemantauan medis dan pengukuran konsumsi oksigen serta produksi karbon dioksida untuk menilai kemampuan tubuh menggunakan oksigen saat berolahraga.

“Yang terbaik dilakukan CPET atau Cardiopulmonary Exercise Test. Ini yang lebih profesional lagi seperti treadmill. Tapi kita juga bisa mengetahui VO2 max kita, tingkat kebugaran, dan juga sekaligus screening penyakit jantung,” tutur dr. Bobby.

VO2 max merupakan ukuran kapasitas maksimal tubuh dalam menggunakan oksigen selama aktivitas fisik. Informasi ini dapat membantu menilai kebugaran kardiorespirasi sekaligus menjadi pertimbangan dalam menyusun program latihan yang sesuai dengan kemampuan seseorang.

Meski begitu, CPET bukan pemeriksaan wajib bagi semua pelari atau pesepeda. Kebutuhannya ditentukan berdasarkan kondisi kesehatan dan tujuan evaluasi, sementara pemeriksaan lain dapat lebih sesuai untuk orang dengan faktor risiko atau keluhan tertentu.

Terakhir, dr. Bobby menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan sebelum berolahraga penting untuk membantu mengidentifikasi risiko dan menentukan jenis serta intensitas aktivitas fisik yang aman. Hal ini terutama perlu diperhatikan oleh orang yang berencana mengikuti lomba lari, bersepeda jarak jauh, atau latihan dengan intensitas tinggi.

“Karena risiko terbesar dari sebuah olahraga dengan intensitas tinggi adalah kematian atau henti jantung mendadak. Tetap jaga kesehatan dan keselamatan,” pungkasnya.

Baca Juga: Dokter Ungkap Bahaya Sleep Apnea, Sering Mendengkur Ternyata Bisa Tingkatkan Risiko Serangan Jantung!