Bagi SCG, penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) menjadi salah satu pendekatan strategis untuk memperkuat ketahanan bisnis. Integrasi ESG memberikan akses bagi perusahaan untuk mengidentifikasi dan mengelola risiko lingkungan, sosial, serta tata kelola secara lebih menyeluruh.

SCG menerapkan pendekatan tersebut melalui prinsip Inclusive Green Growth dengan mengintegrasikan ESG ke dalam pengambilan keputusan bisnis, pengelolaan risiko, kepatuhan regulasi, dan kegiatan operasional. Perspektif ini disampaikan dalam Law & Investment Talk 2025/2026 bertema “Business Licensing, Legal Certainty, and the World of Investment” pada 14 Oktober 2026 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Depok. Dalam forum tersebut, SCG menekankan bahwa kepatuhan terhadap regulasi merupakan fondasi penting untuk menjaga kesehatan bisnis, sementara penerapan ESG membantu perusahaan mempertahankan keberlanjutan dan daya saing dalam jangka panjang.

Baca Juga: Langkah SCG Hadapi Masalah Sampah Global yang Diproyeksi Capai 3,8 Miliar Ton pada 2050

Pattaraphon Charttongkum, President Director PT SCG Indonesia, menyampaikan, “Bagi SCG, keberlanjutan bisnis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan perusahaan untuk tumbuh, tetapi juga bagaimana kami mampu mengelola risiko dan beradaptasi terhadap perubahan. Kepatuhan terhadap regulasi menjadi fondasi utama, sementara integrasi ESG membantu kami mengantisipasi tantangan sejak awal, meningkatkan efisiensi operasional, serta membuka peluang inovasi yang menciptakan nilai tambah. Dengan pendekatan ini, kami berupaya memastikan bisnis SCG tetap tangguh, kompetitif, dan berkelanjutan dalam jangka panjang”.

SCG mengintegrasikan ESG sejak tahap perencanaan dan evaluasi bisnis, termasuk dalam proses investasi dan mergers and acquisitions (M&A), hingga pengelolaan operasional setelah akuisisi. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, tata kelola, serta kepatuhan hukum secara menyeluruh dalam pengambilan keputusan, sehingga potensi risiko dapat diidentifikasi lebih awal dan dikelola sebelum berdampak terhadap keberlangsungan bisnis.

Dari aspek lingkungan, SCG menargetkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 25% pada 2030 untuk bisnis semen dan beton serta pencapaian Net Zero Emissions pada 2050. Upaya ini didukung melalui pengembangan produk rendah karbon, efisiensi energi, dan pemanfaatan bahan bakar serta bahan baku alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber daya konvensional.

Dari aspek sosial, SCG memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan pekerja, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta pemberdayaan masyarakat melalui program SCG Sharing the Dream dan SCG GESARI (Gerakan Desa Berdikari). Pendekatan ini bertujuan menciptakan lingkungan kerja yang aman sekaligus memperkuat hubungan berkelanjutan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Sementara itu, dari aspek tata kelola, SCG menerapkan Compliance Management System (CMS), didukung Code of Conduct, kebijakan antikorupsi, mekanisme whistleblowing, serta pemantauan kepatuhan, perubahan regulasi, dan status perizinan secara berkala. Sistem tersebut membantu perusahaan menjaga konsistensi operasional, mengantisipasi risiko hukum, dan memperkuat akuntabilitas bisnis.

Mengubah Risiko ESG Jadi Peluang Inovasi dan Efisiensi Bisnis

SCG menjadikan ESG sebagai pendorong inovasi dan efisiensi operasional untuk menjaga daya saing bisnis jangka panjang. Salah satu penerapannya adalah pemanfaatan teknologi Alternative Fuel dan Alternative Raw Material (AF/AR) oleh PT Semen Jawa di Sukabumi, Jawa Barat, untuk menggantikan sebagian bahan bakar fosil dan bahan baku alam dengan limbah serta produk samping industri. Sepanjang 2025, PT Semen Jawa memanfaatkan 162.563 ton bahan baku alternatif atau sekitar 9,4% substitusi bahan baku, serta mencapai 35% tingkat substitusi energi panas melalui bahan bakar alternatif.

Secara kumulatif, penerapan AF/AR selama 2021–2025 berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 337.000 ton CO2. Inisiatif ini menunjukkan bagaimana pengelolaan risiko lingkungan dapat sekaligus mendukung efisiensi penggunaan sumber daya dan keberlanjutan proses produksi.

Untuk memperluas penerapannya, SCG melalui PT Semen Jawa berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi mengembangkan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) di TPSA Cimenteng, yang mengolah sampah perkotaan menjadi bahan bakar alternatif untuk produksi semen. Sejak beroperasi pada 2025, fasilitas ini telah mengolah lebih dari 91.000 ton sampah.

Melalui berbagai inisiatif tersebut, SCG menunjukkan bahwa penerapan ESG tidak hanya berperan dalam mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga dapat mendukung efisiensi operasional, optimalisasi sumber daya, dan inovasi yang membantu menjaga kesehatan bisnis dalam jangka panjang.