Laporan Global Waste Management Outlook 2024 memperkirakan timbulan sampah perkotaan dunia meningkat dari 2,1 miliar ton pada 2023 menjadi 3,8 miliar ton pada 2050. Kondisi ini menegaskan bahwa komitmen ESG global perlu diterjemahkan menjadi kebijakan, investasi, inovasi, dan langkah nyata yang memberikan dampak terukur di tingkat nasional maupun lokal.
Di tingkat nasional, sekitar 75% sampah nasional atau setara 105.483 ton per hari belum tertangani secara memadai. Kondisi ini menunjukkan pentingnya memperkuat implementasi ESG melalui kebijakan, investasi, inovasi industri, serta kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Baca Juga: SCG Dorong Penerapan Ekonomi Sirkular Indonesia sebagai Strategi Daya Saing Industri
Dalam diskusi panel bertajuk “Beyond Borders: From Global Commitment to Local Impact” pada ESG NOW Leadership Forum 2026 yang diselenggarakan oleh Republika di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (19/10), Peramas Wajananawat selaku Country Director SCG Indonesia,mewakili pelaku industri yang mengimplementasikan ESG dalam strategi bisnis dan dampaknya di tingkat nasional. Berlandaskan tujuan bisnis Inclusive Green Growth, SCG mengintegrasikan prinsip ESG ke dalam operasional perusahaan, termasuk pemanfaatan sumber daya secara efisien, pengelolaan sampah, pengembangan produk ramah lingkungan, dan kolaborasi lintas sektor.
“Bagi SCG, komitmen keberlanjutan global harus diwujudkan melalui langkah nyata yang relevan dengan kebutuhan setiap negara. Selama beroperasi di Indonesia selama lebih dari 30 tahun, kami memiliki kesempatan untuk menghubungkan pengalaman, teknologi, dan inovasi dari berbagai pasar dengan tantangan yang dihadapi. Kami terus berupaya menciptakan pertumbuhan yang memperkuat daya saing perusahaan serta memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat. Kami melihat kolaborasi lintas negara sebagai kunci untuk menghadirkan solusi keberlanjutan yang berdampak dalam jangka panjang,” ujar Peramas Wajananawat, Country Director SCG Indonesia.
Salah satu implementasi ESG SCG di Indonesia diwujudkan melalui pengembangan fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) di TPSA Cimenteng, Kabupaten Sukabumi, oleh anak perusahaannya, PT Semen Jawa, bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Fasilitas ini mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan dalam proses produksi semen sehingga menghubungkan kebutuhan pengelolaan sampah daerah dengan kebutuhan energi industri. Hingga saat ini, fasilitas tersebut telah mengolah lebih dari 91.000 ton sampah sejak beroperasi pada 2025.
Selain RDF, PT Semen Jawa juga menerapkan pemanfaatan Alternative Fuel and Alternative Raw Materials (AF/AR) untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar dan bahan baku konvensional. Penerapan ini telah mencapai 35% substitusi energi panas dari bahan bakar alternatif dan 9,4% penggunaan bahan baku alternatif berdasarkan berat, yang berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 50 kg CO₂ per ton semen. Ke depan, PT Semen Jawa menargetkan peningkatan substitusi bahan bakar alternatif hingga 70% pada 2030.
Dalam menjawab kebutuhan pasar terhadap material konstruksi yang lebih ramah lingkungan, SCG mengembangkan SCG Cement Bezt Eco-Friendly Cement yang telah memperoleh sertifikasi Green Label Gold dari Green Product Council Indonesia (GPCI). Melalui anak perusahaannya di bidang produsen keramik dinding dan keramik lantai, KIA Ceramics, SCG menerapkan pemanfaatan kembali sisa produksi keramik dengan tingkat penggunaan ulang 80–90% limbah internal serta penggantian 10–15% mineral mentah menggunakan material daur ulang. Berbagai inovasi tersebut mencerminkan upaya perusahaan dalam mengintegrasikan manfaat lingkungan dengan kualitas dan performa produk yang dibutuhkan konsumen.
Raih Apresiasi Pengelolaan Sampah
Atas inovasi dan komitmennya dalam mengembangkan pengelolaan limbah berkelanjutan, SCG dianugerahkan penghargaan kategori Waste Management Innovation pada ESG NOW Awards 2026.
“Kami mengapresiasi penghargaan yang ditujukan untuk upaya bersama SCG dan seluruh mitra dalam menghadirkan solusi pengelolaan limbah yang berkelanjutan. Pencapaian ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci penting dalam menciptakan perubahan nyata. Ke depan, kami akan memperkuat inovasi dan kemitraan untuk memperluas penerapan ekonomi sirkular, sejalan dengan prinsip bisnis Inclusive Green Growth serta komitmen kami sebagai mitra pertumbuhan nasional dalam mendukung pertumbuhan Indonesia yang lebih hijau dan inklusif,” tutup Peramas.