Masyarakat Indonesia kini makin cermat dan kritis dalam memilih produk kecantikan. Konsumen digital tidak lagi sekadar tergiur dengan merek ternama, melainkan mulai berburu produk dengan formulasi kelas atas (high-end formulation), namun tetap dipatok dengan harga yang rasional dan terjangkau di kantong.

Berdasarkan riset pasar terbaru dari Compas.co.id (PT Telunjuk Komputasi Indonesia), nilai transaksi sektor Fast-Moving Consumer Goods (FMCG) nasional di e-commerce berhasil menembus angka Rp88,4 triliun pada Semester I (H1) 2026, tumbuh pesat +29,4% secara tahunan (year-on-year).

Menariknya, produk kecantikan di bawah harga Rp200.000 saat ini mendominasi hingga 81,0% dari total nilai pasar kecantikan di Indonesia.

Dua Tren Utama: Extrait de Parfum dan Serum PDRN Laris Manis

Pergeseran pola konsumsi "naik kelas secara formula" ini terlihat sangat mencolok pada dua kategori favorit: parfum dan perawatan wajah (face care).

  • Extrait de Parfum: Jenis minyak wangi dengan konsentrasi tertinggi ini mengalami peningkatan market share fantastis, dari hanya 8,1% pada awal 2024 menjadi 26,4% di Kuartal II 2026, dengan nilai transaksi mencapai Rp534 miliar per kuartal. Pemicu utamanya adalah makin banyaknya pilihan Extrait de Parfum di rentang harga Rp50.000–Rp100.000.
  • Serum PDRN (Polydeoxyribonucleotide): Tren bahan aktif high-end seperti PDRN, yang dulunya identik dengan perawatan klinik mahal, kini makin mudah dijangkau. Nilai penjualan serum PDRN melesat 42 kali lipat menjadi Rp25,9 miliar per kuartal. Volume penjualannya meroket dari 1.958 unit menjadi 199.430 unit setelah harga rata-rata produknya terkoreksi dari Rp315.000 menjadi lebih terjangkau, yaitu Rp130.000 per botol.

"Pergeseran pasar kecantikan saat ini sering kali salah ditafsitkan. Konsumen tidak sedang menurunkan standar produk mereka. Yang terjadi adalah mereka naik kelas secara formula. Seperti memilih Extrait de Parfum atau serum PDRN, namun menunggu hingga produk tersebut tersedia di titik harga yang lebih terjangkau," jelas Hanindia Narendrata, CEO Compas.co.id.

Baca Juga: LABORÉ Bawa Riset Profil Kulit Indonesia ke EADV 2026

Persaingan Brand dan Tren Beauty Supplements

Laporan Compas.co.id juga mengungkapkan peta persaingan bisnis yang makin hangat di ranah digital:

  • Resiliensi Brand Mapan vs Brand Baru: Walau terdapat 4.219 brand kecantikan baru yang hadir di H1 2026 dan menyumbang penjualan Rp0,6 triliun, porsi terbesar pertumbuhan pasar (+Rp6,8 triliun atau 92%) tetap diamankan oleh 16.158 brand mapan (existing brands) berkat basis konsumen yang setia.
  • Tren Beauty Supplements: Industri kecantikan dan kesehatan kini makin beririsan (beauty-to-wellness). Sub-kategori suplemen kecantikan tumbuh +41% YoY mencapai Rp1,37 triliun, dengan volume unit terjual melesat 79% (mencapai 14,0 juta unit). Hal ini terdorong oleh penurunan harga rata-rata suplemen dari Rp124.000 menjadi Rp98.000.

Peta Platform dan Kanal Distribusi

Dari sisi kanal penjualan digital, Shopee masih memimpin pasar kecantikan dengan nilai transaksi Rp22,4 triliun (pangsa pasar 52%). Namun, ShopTokopedia tampil sangat agresif menempel di posisi kedua dengan transaksi Rp20,1 triliun (pangsa pasar 47%), memangkas jarak hanya menjadi 5%.

Uniknya lagi, untuk produk kecantikan, brand yang memiliki jaringan reseller kuat tumbuh lebih cepat (+17,7%) dibandingkan Official Store (+10,1%), disinyalir karena iming-iming harga di kanal reseller yang sering kali lebih kompetitif.

Fenomena pergeseran perilaku belanja ini membuktikan bahwa batas antara kualitas premium dan harga yang ramah di kantong kini makin tipis di pasar kecantikan digital tanah air.