Akademisi sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali, menyoroti perdebatan mengenai keberadaan gerbong khusus perempuan di transportasi umum. Menurutnya, fasilitas tersebut memang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi penumpang perempuan, tetapi pemisahan berdasarkan gender bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi pelecehan seksual di transportasi publik.

Rhenald menilai, keberadaan gerbong khusus perempuan perlu dilihat dari kebutuhan penumpang serta keseimbangan antara kapasitas yang tersedia dan jumlah pengguna. Jika jumlah gerbong tidak sebanding dengan permintaan, kepadatan tetap akan terjadi dan berpotensi memicu persoalan lain di dalam perjalanan.

“Tentu gerbong perempuan itu akan menjadi tempat yang nyaman. Kita tidak perlu sebagai perempuan mengatur posisi duduk. Tidak takut disentuh oleh lawan jenis. Tidak perlu takut ada harassment dan lain sebagainya,” kata Rhenald, sebagaimana Olenka kutip dari laman Instagram pribadinya @rhenald.kasali, Selasa (27/10/2026).

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sejumlah negara pernah menerapkan gerbong khusus perempuan, tetapi kemudian menghapus kebijakan tersebut. Ia mencontohkan Jerman dan Inggris sebagai negara yang pernah menerapkan pemisahan penumpang berdasarkan gender sebelum kebijakan itu dihapuskan.

Menurut Rhenald, perdebatan mengenai gerbong khusus perempuan tidak terlepas dari persoalan pelecehan seksual yang masih terjadi di transportasi publik. Namun, ia berpandangan bahwa penanganan masalah tersebut seharusnya berfokus pada pelaku, bukan semata-mata memisahkan penumpang laki-laki dan perempuan.

“Kalau terjadi harassment, sebetulnya yang harus dilakukan bukan segregasi, bukan pemisahan. Pelaku harassment-nya saja yang ditangkap, yang diadili mereka. Bukan berarti kemudian kita menghilangkan kesetaraan gender,” tegasnya.

Rhenald menambahkan, kesetaraan gender perlu tetap menjadi pertimbangan dalam merancang kebijakan transportasi publik. Menurutnya, penyediaan ruang khusus bagi perempuan memang dapat menjadi salah satu upaya menciptakan kenyamanan, tetapi kebijakan tersebut perlu diimbangi dengan penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pelecehan.

“Kan perlu kita kesetaraan gender. Kesetaraan gender itu tidak terjadi ketika ada segregasi, ketika ada pemisahan. Jadi memang betul di satu pihak kita menyelesaikan masalah kenyamanan,” katanya.

Selain persoalan keamanan, Rhenald menyoroti kepadatan penumpang yang kerap terjadi pada jam sibuk. Ia menjelaskan, ketika jumlah penumpang jauh melampaui kapasitas gerbong, perilaku manusia dapat berubah akibat dorongan untuk mendapatkan ruang dan bertahan dalam situasi yang sesak.

Dikatakannya, manusia pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk berinteraksi dan mempertimbangkan kepentingan orang lain. Namun, kondisi yang terlalu padat dapat membuat seseorang lebih berfokus pada kepentingan pribadi, bahkan bersikap agresif terhadap penumpang lain.

“Jadi gerbong itu kalau sudah penuh orang akan beralih itu dari tadinya dia social mood. Di otaknya ada social mood, ada individual mood. Social mood itu artinya kita makhluk sosial. Permisi, numpang lewat. Lalu begitu jumlahnya sangat padat orang akan switch menjadi individual mood,” jelas Rhenald.

Baca Juga: Rhenald Kasali Ingatkan Bank Mandiri soal Pemblokiran Rekening: Jangan Kehilangan Trust!

Founder Rumah Perubahan itu melanjutkan, tekanan akibat kepadatan dapat membuat penumpang lebih mudah terdorong, menyikut, atau berebut ruang. Perubahan perilaku tersebut, menurutnya, tidak hanya dialami perempuan, tetapi juga laki-laki.

“Menjadi agresif mood. Orang yang penting survive lalu kemudian mulai bermainlah itu. Siku, dorong, agresif. Kemudian tiba-tiba kita bisa kehilangan kesadaran kita. Kesadaran sebagai makhluk sosial. Itu terjadi pada semuanya, bukan hanya pada perempuan. Laki-laki juga bisa begitu,” ungkapnya.

Karena itu, Rhenald menilai, penyedia layanan kereta api perlu memastikan kapasitas angkutan sebanding dengan kebutuhan penumpang. Penambahan kapasitas dan pengaturan distribusi penumpang dinilai penting agar pengguna transportasi publik dapat bepergian dengan lebih nyaman, terutama pada jam berangkat dan pulang kerja.

Ia juga menyinggung penerapan gerbong khusus perempuan pada layanan kereta komuter di Indonesia. Menurut pengamatannya, sebagian penumpang perempuan tetap memilih gerbong campuran meskipun gerbong khusus perempuan tersedia.

Rhenald menduga, pilihan tersebut berkaitan dengan kebutuhan praktis penumpang ketika menghadapi kepadatan. Pada jam sibuk, sebagian orang lebih mengutamakan kesempatan untuk masuk ke kereta daripada memilih gerbong tertentu.

“Kalau jam sibuk itu orang sudah berpikir yang penting saya bisa masuk,” ujarnya.

Lebih jauh, Rhenald juga mengingatkan bahwa dinamika antar penumpang tidak selalu sederhana, termasuk ketika mereka berada dalam gerbong yang sama. Setiap orang memiliki kebutuhan berbeda, mulai dari pergi bekerja hingga mengantar anak ke sekolah. Dalam situasi padat, kepentingan tersebut dapat saling berbenturan dan memengaruhi kenyamanan bersama.

Di sisi lain, Rhenald menegaskan bahwa persoalan pelecehan seksual tidak boleh diabaikan. Ia mendorong penindakan yang lebih tegas terhadap orang-orang yang melakukan tindakan tersebut agar transportasi publik menjadi ruang yang aman bagi seluruh pengguna.

“Kenapa dibiarin ya? Makin hari makin banyak. Tentu kereta api tidak membiarkan. Tetapi mungkin kita harus lebih berani menghukum mereka yang melakukan perbuatan-perbuatan seperti itu. Ini harus dihentikan,” pungkasnya.

Baca Juga: Kasus Juicy Luicy Ramai Disorot, Ini Pandangan Rhenald Kasali soal Profesionalisme