Di tengah perubahan tersebut, Sylvia menegaskan bahwa rebranding Harvest bukan berarti meninggalkan identitas yang telah dibangun selama 22 tahun. Menurutnya, produk celebration dan gifting tetap menjadi bagian dari bisnis Harvest, sementara perusahaan memperluas pilihan agar brand dapat hadir dalam lebih banyak kesempatan.

“Rebranding di sini kami maksud memperluas brand image. Yang tadinya hanya digunakan atau hanya menengahkan produk buat perayaan dan gifting sebagai bisnis utama, kami bawa ke tiap hari. Jadi kami perluas. Tidak berarti kami tidak bikin lagi cake birthday. Tetap ada, kami perluas produknya supaya relevan juga di keseharian,” tegas Sylvia.

Perluasan peran tersebut juga menjadi alasan Harvest mulai mempertimbangkan kehadiran di pusat perbelanjaan alias mal. Dalam enam bulan ke depan, kata dia, perusahaan berencana membuka enam toko baru, termasuk satu gerai di mal yang akan menjadi proyek perdana Harvest di kanal tersebut.

Menurut Sylvia, mal dipilih sebagai salah satu lokasi karena dapat memperkenalkan produk bakery Harvest kepada konsumen secara lebih spontan. Berbeda dengan gerai yang biasanya didatangi pelanggan dengan tujuan tertentu, lokasi di mal memungkinkan konsumen menemukan produk saat sedang beraktivitas atau sekadar berjalan-jalan.

“Kenapa pertimbangan masuk ke mal? Karena kami ingin lebih dikenal bahwa kami punya produk buat keseharian. Salah satunya roti. Jadi kalau roti, tempat untuk memperkenalkan yang lebih tepat adalah di mal,” ujar Sylvia.

Ia menambahkan, kehadiran di mal juga memberikan kesempatan bagi Harvest untuk memperkenalkan kemampuan mereka dalam menghadirkan produk bakery yang dapat dibeli secara impulsif.

Untuk penerapan konsep gerai baru, lanjut Sylvia, Harvest tidak akan melakukan perubahan secara serentak terhadap seluruh outlet. Namun, transformasi akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan karakter dan ukuran masing-masing gerai.

“Kami mulai bertahap. Ada yang fleksibel. Jadi ini center, misalnya di Jakarta Utara ada di sini. Nanti ada di Jakarta Selatan, Jakarta Barat, Depok, Surabaya, Bandung. Jadi perwakilan outlet yang besar-besar. Nanti kami lihat kalau yang lebih kecil, apakah lebih sederhana perubahannya,” jelas Sylvia.

Bagi Harvest, perluasan tersebut pada akhirnya bukan sekadar tentang menambah pilihan produk atau membuka toko baru, melainkan mengubah cara masyarakat melihat hubungan antara produk bakery-patisserie dan momen kebahagiaan.

“Bahagia itu kenapa harus tunggu ulang tahun? Kalau mau menikmati cake yang enak atau roti yang enak, kan bisa kapan saja. Selesai ujian, mau refresh, atau misalnya ketemu teman baru, menyenangkan ajak pergi ke sini. Apa pun kan banyak alasan,” kata Sylvia.

Karena itu, melalui transformasi ini, Harvest ingin mengajak masyarakat menemukan alasan untuk merayakan hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami mengajak masyarakat, yuk kita rayakan kebahagiaan kecil setiap hari,” pungkas Sylvia.

Baca Juga: The Harvest Kingdom 20 Year Sweet Fairytale: Selalu Ada di Setiap Momen Manis Cake Lovers