Tak hanya melalui pesan, Jahja juga memberikan perhatian berupa bunga atau kue kecil saat anggota timnya berulang tahun. Menurutnya, gestur sederhana tersebut dapat membuat karyawan merasa dihargai dan diperhatikan oleh pemimpinnya.

“Kemudian saya juga kirimkan bunga, kirimkan kue kecil pada waktu ulang tahun. Itu waduh, kebanggaan mereka itu luar biasa. Mereka merasa diperhatikan, di-wongke,” kata Jahja.

Istilah ‘di-wongke’ yang digunakan Jahja menggambarkan bagaimana seseorang diperlakukan sebagai manusia yang dihargai dan diperhatikan. Baginya, hubungan kerja yang kuat tidak cukup dibangun melalui pembagian tugas dan pencapaian target, tetapi juga melalui kepedulian terhadap orang-orang yang menjalankan pekerjaan tersebut.

Kepedulian itu, menurut Jahja, semakin terasa ketika pandemi Covid-19 melanda. Pada masa tersebut, ia berusaha membantu anggota tim yang membutuhkan pertolongan, termasuk ketika mereka harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.

“Waktu Covid, berapa banyak yang saya tolong masukkan rumah sakit. Saya ada direct line langsung, kalau ada yang sakit atau apa, saya sapa. Itu rasanya luar biasa,” imbuhnya.

Bagi Jahja, pendekatan kepemimpinan seperti ini bukan sesuatu yang semata-mata dipelajari dari buku atau teori manajemen. Ia justru membangun prinsip tersebut dari pengalaman langsung selama memimpin dan berinteraksi dengan timnya.

“Jadi dengan memanage seperti itu, itu enggak ada di textbook. Tetapi saya merasakan sendiri, sehingga kerja sama itu terbentuk dengan seperti itu,” tandas Jahja.

Baca Juga: Jahja Setiaatmadja Ungkap Tantangan Mendelegasikan Tugas kepada Tim