Pengamat politik Nurul Fatta menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) adalah partai kecil yang dibesar-besarkan hanya karena ada sosok Joko Widodo (Jokowi) di dalam partai berlambang Gajah hitam itu.
Kendati masih menjadi anak bawang, namun PSI berlaga seperti partai besar, padahal kekuatan politik mereka belum ada apa-apanya jika dibandingkan partai politik lain. Kader-kader partai politik besutan Kaesang Pangarep itu kata dia berisik dan berlagak seolah-olah mereka adalah partai besar.
“Tanpa mereka sadari, partai berlogo gajah itu masih berupa gajah yang belum tumbuh. Hanya saja tubuhnya dibesar-besarkan, tapi tenaganya belum sesuai. Besar pasak daripada tiang, gaya melampaui kekuatan,” kata Fatta dilansir Minggu (18/10/2026).
Kader-kader PSI lanjut Fatta kerap membela Gibran Rakabuming Raka secara membabi buta dalam kasus ijazah SMA/SLTA yang menjadi persyaratan pendaftaran di Pilpres 2024 lalu. Sikap PSI yang seperti ini dinilai lebay alias berlebihan sebab pembelaan mereka sama sekali tak mempengaruhi apapun.
“Lihat gelagat PSI. Hampir semua kadernya bersuara membela Gibran. Ya memang harus begitu perannya. Tapi memang betul sejak Jokowi terlibat di dalamnya, partai ini terus membusungkan dada. Termasuk dalam pembelaan Gibran ini,” ujarnya.
Sejak Jokowi secara terbuka menyatakan resmi bergabung ke PSI partai ini memang langsung habis-habisan membela keluarga Presiden ke-7 RI. PSI sendiri sangat yakin jika Jokowi dapat memberi keuntungan politik pada Pemilu 2029 mendatang, kehadirannya diharapkan dapat membawa partai ini melenggang ke Senayan.
“Bagi PSI Jokowi bagaikan dewa penyelamat untuk melenggang ke Senayan dalam mimpinya,” ucapnya.
Fatta menilai, pusat gravitasi politik nasional saat ini telah bergeser kepada Presiden Prabowo Subianto, bukan lagi Jokowi yang sudah tidak menjabat sebagai kepala negara.
Ia menyebut, posisi Jokowi saat ini ditopang oleh PSI yang masih berupaya memperkuat basis politiknya serta Gibran yang menjabat sebagai wakil presiden. Namun, menurutnya, dukungan terhadap Gibran mulai menunjukkan tanda-tanda melemah.
“Episentrum politik saat ini adalah Prabowo, bukan lagi Jokowi,” tegasnya.
Dia menambahkan, pergeseran kekuatan politik tersebut menjadi tantangan bagi PSI dan kelompok pendukung Jokowi. Sebab, menurutnya, Prabowo kini memiliki posisi strategis sebagai presiden sekaligus pusat kekuasaan pemerintahan.
Baca Juga: Jika Pilpres Digelar Hari Ini Prabowo Jadi Ayam Sayur, Dilibas KDM Digilas Gibran Ditekuk AHY!
“Sekali macam-macam, mata penghancur itu tinggal dihunuskan oleh Prabowo,” pungkasnya.