Nama Perry Warjiyo kini lekat dengan arah kebijakan ekonomi Indonesia. Menjabat sebagai Gubernur Bank Indonesia selama dua periode berturut-turut, 2018–2023 dan 2023–2028, Perry menjadi salah satu figur kunci di balik berbagai perubahan besar, mulai dari penguatan kebijakan moneter hingga percepatan digitalisasi sistem pembayaran.
Di bawah kepemimpinannya, Bank Indonesia memasuki fase transformasi yang berpengaruh langsung pada kehidupan ekonomi masyarakat.
Namun, perjalanan Perry hingga berada di posisi puncak tersebut bukanlah kisah yang instan. Ia tumbuh dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi sederhana sebagai anak keenam dari sembilan bersaudara.
Dalam keterbatasan, orang tuanya menanamkan nilai kerja keras dan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah nasib.
Dari latar belakang inilah karakter dan kepemimpinan Perry terbentuk. Lantas, seperti apa sosok Perry Warjiyo jika dilihat lebih dekat? Dikutip dari berbagai sumber, Kamis (29/1/2026), berikut Olenka ulas profil lengkapnya.
Latar Belakang Keluarga dan Kehidupan Pribadi
Dikutip dari Inilah.com, Perry Warjiyo lahir di Sukoharjo, Jawa Tengah, pada 1959, dari keluarga petani dengan kondisi ekonomi sederhana. Ia merupakan anak keenam dari sembilan bersaudara.
Orang tuanya, meski hidup dalam keterbatasan, menanamkan nilai kerja keras dan pentingnya pendidikan sebagai jalan mengubah masa depan.
Dengan modal pinjaman Rp35.000 dari sang ibu, Perry berangkat dari Solo ke Yogyakarta untuk mendaftar kuliah. Cita-citanya semula ingin menjadi dokter, namun keterbatasan biaya membawanya memilih jurusan ekonomi.
Demi bertahan hidup selama kuliah, ia bahkan sempat bekerja sebagai kernet. Kisah ini pun menjadi fondasi karakter rendah hati dan ulet yang melekat di Perry hingga kini.
Jejak Pendidikan
Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, pendidikan dasar Perry ditempuh di SD Negeri Gawok, SMP Negeri Gatak, dan SMA Negeri 3 Surakarta.
Ia kemudian lulus dari Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1982.
Kecintaannya pada ilmu ekonomi membawanya menempuh studi lanjutan di Iowa State University, Amerika Serikat, hingga meraih gelar Master (1989) dan Ph.D (1991) di bidang ekonomi moneter dan internasional.
Bekal akademik inilah yang menjadi pijakan utama kiprahnya di dunia kebanksentralan.
Perjalanan Karier di Bank Indonesia
Masih dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, Perry Warjiyo mulai bergabung dengan Bank Indonesia pada Januari 1984.
Kariernya terentang panjang di berbagai bidang strategis, mulai dari riset ekonomi, kebijakan moneter, makroprudensial, hingga isu internasional.
Ia pernah menjabat sebagai Kepala Biro Gubernur, Direktur Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan, serta Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial.
Dikutip dari Inilah.com, kariernya terus menanjak hingga dipercaya sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (2013–2018).
Reputasi Perry juga diakui secara global. Ia ditunjuk sebagai Direktur Eksekutif International Monetary Fund (IMF) periode 2007–2009, mewakili 13 negara anggota South-East Asia Voting Group. Pengalaman ini memperkuat perspektif globalnya dalam merumuskan kebijakan moneter nasional.
Menjadi Gubernur Bank Indonesia
Dikutip dari CNBC Indonesia, Perry Warjiyo resmi dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 24 Mei 2018 berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 70/P Tahun 2018, dan kembali dilantik untuk periode kedua 2023–2028 melalui Keppres Nomor 38/P Tahun 2023.
Namun, sebelum mencapai posisi BI-1, ia beberapa kali gagal dalam seleksi jabatan.
“Saya orang desa, orang petani, dari keluarga miskin,” tuturnya, dikutip dari CNBC Indonesia, saat uji kelayakan di DPR.
Baca Juga: Mengenal Sosok Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior BI Periode 2024–2029
Terobosan dan Capaian Strategis
Dikutip dari CNBC Indonesia, selama periode kepemimpinannya, Perry Warjiyo mencatat sejumlah tonggak penting yang menjadi fondasi transformasi sistem keuangan nasional.
Salah satu capaian utama adalah lahirnya Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2025 sebagai peta jalan modernisasi sistem pembayaran.
Di bawah arahannya, Bank Indonesia meluncurkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) pada 17 Agustus 2019, yang menyatukan berbagai metode pembayaran digital dalam satu standar nasional, serta mengimplementasikan BI-FAST pada 2021 untuk menghadirkan layanan transfer antarbank secara real time, 24 jam, dengan biaya rendah.
Selain itu, Perry juga mendorong perluasan kerja sama Local Currency Settlement (LCS) di kawasan ASEAN sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan pada mata uang global.
Dikutip dari Katadata, seluruh kebijakan tersebut berpijak pada visi besar Perry Warjiyo untuk membangun sistem pembayaran lintas negara yang semudah transaksi domestik, dengan ASEAN diproyeksikan menjadi pelopor dan contoh bagi dunia.
Masih dikutip dari CNBC Indonesia, pada masa pandemi Covid-19, Perry bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani menjalankan skema Surat Keputusan Bersama (SKB) I, II, dan III, yang berperan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui pembagian beban pembiayaan negara.
Karya Intelektual dan Hobi
Dikutip dari laman resmi Bank Indonesia, di luar perannya sebagai pembuat kebijakan, Perry Warjiyo dikenal sebagai intelektual yang produktif dan konsisten mengembangkan pemikiran di bidang ekonomi dan kebanksentralan.
Ia telah menulis dan menerbitkan berbagai buku serta jurnal ilmiah yang menjadi rujukan penting, antara lain Kebijakan Moneter di Indonesia yang terbit pada 2003, Kebijakan Bank Sentral: Teori dan Praktik pada 2016, serta Central Bank Policy Mix pada 2020.
Aktivitas menulis dan membaca bukan sekadar bagian dari pekerjaannya, melainkan telah menjadi ‘hobi intelektual’ yang terus ia tekuni sebagai sarana memperdalam gagasan, memperkaya perspektif, dan berkontribusi bagi pengembangan kebijakan ekonomi di Indonesia.
Penghargaan Nasional dan Internasional
Masih dikutip dari laman resmi Bank Indonesia dan berbagai sumber, Perry Warjiyo telah menerima beragam penghargaan bergengsi atas kepemimpinan dan kontribusinya di bidang kebanksentralan serta komunikasi publik.
Ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk penghargaan negara atas jasanya, sebagaimana dikutip dari IDN Times.
Selain itu, ia juga menerima Anugerah Hamengku Buwono IX dari Universitas Gadjah Mada sebagai pengakuan atas dedikasi dan pengabdiannya bagi bangsa.
Di tingkat internasional, Perry dinobatkan sebagai Governor of the Year Asia Pasifik oleh Global Markets serta Central Bank Governor of the Year Asia Pacific oleh Global Capital.
Kemampuannya dalam membangun komunikasi kebijakan yang efektif juga diakui melalui penghargaan PR Indonesia Best Communicator 2018, yang menegaskan reputasinya sebagai pemimpin bank sentral yang kredibel dan komunikatif.
Harta Kekayaan
Berdasarkan LHKPN 2023, Perry Warjiyo memiliki total kekayaan sekitar Rp65,9 miliar.
Aset tersebut meliputi tanah dan bangunan senilai Rp46,4 miliar, kendaraan, surat berharga, harta bergerak, serta kas. Ia tercatat tidak memiliki utang.
Tips Sukses ala Perry Warjiyo
Dikutip dari IDN Times, Perry Warjiyo kerap membagikan kiat suksesnya kepada generasi muda dengan menekankan pentingnya bekerja dengan passion dan rasa cinta terhadap apa yang ditekuni.
Menurutnya, kesuksesan juga menuntut kecintaan pada ilmu pengetahuan serta kemauan untuk terus belajar tanpa henti.
Ia menilai kemampuan berpikir strategis dan memimpin perubahan sebagai kunci penting di tengah dinamika zaman, yang harus dibarengi dengan komitmen kuat dan komunikasi yang meyakinkan dalam mewujudkan cita-cita.
Perry juga menekankan pentingnya ikhtiar secara maksimal, memperluas jejaring pertemanan, serta menjaga keseimbangan dengan mencintai Tuhan dan keluarga sebagai fondasi moral dan spiritual.
“Jangan pernah berhenti berusaha, bermimpi, dan berdoa,” pesan Perry.
Baca Juga: Mengenal Steffano Ridwan, Bankir Kawakan dengan Sederet Pengalaman Mengesankan