Sosok Johannes Suriadjaja bukan nama asing di industri properti. Di tangannya, bisnis keluarga yang sempat terpuruk berhasil bangkit kembali.
Mengambil alih PT Multi Investments Ltd di tengah tantangan berat, ia membawa perusahaan yang berdiri sejak Juni 1971 itu bertransformasi menjadi Surya Semesta Internusa pada 1995. Kini, perusahaan tersebut berkembang sebagai pemain infrastruktur dengan lini usaha pengembangan kawasan industri, properti, konstruksi, hingga perhotelan.
Sebelum menjadi bos Surya Semesta Internusa, Johannes pernah menjadi seorang tenaga pemasaran hingga bankir. Kariernya menjadi seorang bankir pun cukup ciamik hingga mendapat promosi ke luar negeri. Namun, tawaran tersebut ditolak lantaran ingin menyelamatkan bisnis keluarga.
Berikut telah Olenka rangkum dari berbagai sumber, Selasa (27/1/2026), untuk mengenal lebih lanjut sosok dan perjalanan karier Johannes Suriadjaja.
Baca Juga: Profil Yuliot Tanjung dan Jejak Kariernya hingga Jadi Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Profil Johannes Suriadjaja
Johannes Suriadjaja merupakan putra Benjamin Suriadjaja, pendiri SSIA pada 1971 yang juga sekaligus adik dari William Suriadjaja, pendiri Grup Astra.
Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Johannes telah menempuh pendidikan di Amerika Serikat. Ia menetap di sana hingga melanjutkan kuliah di The American College of the Applied Art, Los Angeles, dan lulus pada 1986 dengan jurusan Marketing Management.
Tak banyak informasi pribadi mengenai sosok Johannes Suriadjaja. Hanya saja diketahui, ia adalah ayah dari Christina Suriadjaja yang juga mengikuti jejaknya sebagai pengusaha.
Christina Sudjaja merupakan salah satu pendiri Travelio, sebuah platform penyewaan properti yang mengubah cara orang mencari tempat tinggal dan penginapan. Berkat kesuksesannya dalam mengembangkan industri ini, ia pernah masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 pada 2017.
Perjalanan Karier
Mengutip dari pemberitaan Kontan, setelah menyelesaikan studinya di The American College of the Applied Art, Los Angeles, Johannes memutuskan untuk berkarier di Negeri Paman Sam tersebut.
Johannes mengawali kariernya sebagai sales marketing di Toyota Motor Sales. Namun, karier di pekerjaan pertamanya ini tak berlangsung lama dan memutuskan pulang ke Indonesia pada 1989.
Pada 1990, ia melanjutkan kariernya sebagai seorang bankir dan mendapat posisi Assistant Manager Corporate Banking di Chase Manhattan Bank di Jakarta. Diakui Johannes, ia harus melalui seleksi dan pelatihan ketat selama tiga bulan di Hong Kong untuk bisa diterima di perusahaan tersebut.
Baca Juga: Pelajaran Bisnis dari Perjalanan Sandiaga Uno
Kariernya sebagai bankir pemula terus berkembang. Bahkan, Chase Manhattan Bank berencana mengirim Johannes ke New York AS pada akhir 1991. Namun, dengan berat hati tawaran tersebut ditolak.
Kala itu, Johannes memilih untuk menyelamatkan bisnis keluarganya yang tiba-tiba mengalami krisis. PT Multi Investment Ltd tersangkut krisis keuangan akibat jatuhnya bank penjamin mereka, Bank Summa.
Berbekal pengalaman kerja di Chase Manhattan dan kemampuan manajerial yang diasah saat bekerja di Toyota Amerika Serikat, Johannes akhirnya diminta pulang untuk membantu bisnis keluarga yang sedang kesulitan.
Pada 1992, ia pun dipercaya menangani pengembangan sekaligus penjualan sejumlah proyek properti, seperti Kuningan Residency dan Tanjung Mas Raya.
Di tahun-tahun awal, tugasnya bukan langsung berjualan, melainkan mempelajari kondisi perusahaan secara menyeluruh.
Johannes mencoba menganalisis masalah, mencari celah perbaikan, dan menyusun langkah penyelamatan. Semua itu dijalaninya dengan sukarela, bahkan tanpa menerima gaji. Baginya, membantu keluarga bukan soal uang, melainkan tanggung jawab.
Johannes menyebut masa tersebut sebagai periode pembuktian diri. Hampir dua tahun ia fokus mengevaluasi bisnis, kerja kerasnya pun mulai membuahkan hasil.
Pada 1993, kondisi perusahaan perlahan membaik. Ia pun kembali menerima gaji dan dipercaya naik jabatan menjadi direktur, sambil tetap menjalankan perannya sebagai analis bisnis properti di Multi Investment.
Johannes mengemban amanah sebagai Direktur PT Multi Investment Ltd hingga 1996. Pada 1994, Multi Investment memisahkan diri dari Grup Astra dan berhasil melantai di Bursa Efek Indonesia pada 1997.
Nama perusahaan pun berubah jadi Surya Semesta Internusa (SSI). Seiring berjalannya waktu dan kembali bangkir, perusahaan kembali dihadapkan dengan krisis pada 1998. Setelah bertahap merestrukturisasi utang hingga 2005, perusahaan pun mulai bersiap ekspansi.
Di bawah kepemimpinan Johannes, SSI mulai memperluas bisnisnya ke berbagai sektor. Salah satu langkah awalnya adalah membangun Banyan Tree Ungasan Resort di Bali, yang mulai beroperasi sekitar empat tahun kemudian. Perusahaan juga masuk ke proyek infrastruktur dengan berinvestasi di Jalan Tol Cikopo–Palimanan pada 2012.
Ekspansi berlanjut pada 2014, ketika SSI memperoleh izin pengembangan lahan seluas 2.000 hektar di Subang, Jawa Barat, dengan cadangan lahan sekitar 723 hektar. Di tahun yang sama, perusahaan meluncurkan hotel BATIQA pertamanya di Karawang sebagai bagian dari pengembangan bisnis perhotelan.
Pada 2015, SSI menggandeng Mitsui & Co. dan TICON untuk membentuk perusahaan patungan bernama PT SLP Surya Ticon Internusa yang bergerak di bidang penyewaan gudang. Pada tahun yang sama, Jalan Tol Cikopo–Palimanan resmi beroperasi.
Baca Juga: Cara Unik Bos Snapchat Menghadapi Stres di Tengah Tekanan Dunia Teknologi
Melalui anak usaha perhotelannya, PT Surya Internusa Hotels, SSI juga menambah lima hotel BATIQA baru di Cirebon, Jababeka, Palembang, Pekanbaru, dan Lampung sepanjang 2015 hingga 2016. Setahun kemudian, perusahaan memutuskan melepas investasi di tol tersebut.
Memasuki 2018, SSI mendapat suntikan dana sebesar US$100 juta dari International Finance Corporation (IFC) untuk mendukung pengembangan kawasan industri di Subang. Masih di tahun yang sama, melalui PT Suryacipta Swadaya, perusahaan meresmikan fasilitas pengolahan air limbah baru di Kawasan Industri Suryacipta dengan kapasitas 5.000 meter kubik per hari.
Langkah pengembangan terus berlanjut. Pada 2020, SSI memulai pembangunan kawasan industri bertajuk Subang Smartpolitan, dan pada 2021 jaringan hotel BATIQA kembali bertambah dengan pembukaan hotel baru di Jayapura.
Hingga akhir 2021, perusahaan ini telah memperluas operasinya dengan membawahi sembilan anak usaha yang bergerak di berbagai lini bisnis. Unit-unit tersebut meliputi PT Suryacipta Swadaya, PT Surya Internusa Hotels, PT Batiqa Hotel Manajemen, PT Sitiagung Makmur, PT TCP Internusa, PT Enercon Paradhya International, PT Nusa Raya Cipta Tbk, PT Karsa Sedaya Sejahtera, serta PT Surya Citra Propertindo.