Publik sempat dihebohkan dengan kabar para petinggi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggalkan jabatan. Satu di antaranya adalah Mirza Adityaswara yang ikut mengundurkan diri dari posisinya sebagai Wakil Ketua Dewan OJK.
Pengunduran diri tersebut disampaikan secara resmi dan dilakukan setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada dua hari perdagangan, 28-29 Januari 2026 lalu.
Pengunduran diri Mirza terjadi setelah tiga pejabat OJK lainnya lebih dulu mundur, yakni Mahendra Siregar, Inarno Djajadi, dan I. B. Aditya Jayaantara dari masing-masing jabatannya.
Terlepas dari informasi berikut telah Olenka rangkum dari berbagai sumber, Kamis (5/2/2026), untuk mengenal lebih lanjut sosok dan perjalanan karier Mirza Adityaswara.
Baca Juga: Profil Sabana Prawirawidjaja, Pebisnis Legendaris Pelopor Susu UHT
Profil Mirza Adityaswara
Dalam laman resmi OJK disebutkan, Mirza Adityaswara, SE, M.App.Fin., merupakan pria kelahiran Surabaya, 9 April 1965.
Berdarah campuran Jawa-Minang-Sunda, beliau merupakan anak kedua di antara empat orang bersaudara dari seorang ahli hukum bisnis terkemuka Indonesia, Sutan Remy Sjahdeini dan Sri Isnainingsih.
Mirza memiliki latar pendidikan yang begitu cemerlang. Beliau berhasil meraih gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Indonesia pada 1992. Kemudian, melanjutkan studinya dan meraih gelar Master of Applied Finance dari Macquarie University, Sydney, Australia pada 1995.
Sebelum menempuh pendidikannya di Negeri Kanguru itu, Mirza sempat bekerja sebagai bankir di Bank Sumitomo Jakarta sejak 1989 hingga 1993, lalu pindah ke Bank PDFCI sampai 1994, dan kemudian melanjutkan pendidikannya hingga menyandang gelar Master.
Terkait kehidupan pribadinya, Mirza sudah menikah dengan seorang perempuan bernama Arulita Handayani. Sang istri diketahui adalah seorang pengusaha dan profesional yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama Pasaraya Nusakarya, anak perusahaan dari ALatief Corporation pimpinan Abdul Latief.
Perjalanan Karier
Mirza Adityaswara memulai kariernya di dunia perbankan sebagai bankir di Bank Sumitomo pada 1989. Setelah sekitar empat tahun bekerja, ia berpindah ke Bank PDFCI dan berkarier di sana hingga 1994. Usai meraih gelar master pada 1995, ia melanjutkan kiprahnya di industri pasar modal dengan bekerja di berbagai perusahaan sekuritas, baik asing maupun nasional.
Pada 2002 hingga Oktober 2005, Mirza menjabat sebagai Director sekaligus Head of Securities Trading & Research di Bahana Securities.
Tak lama kemudian, pada November tahun yang sama, ia dipercaya menjadi Director dan Head of Equity Research & Bank Analysis di Credit Suisse Securities Indonesia. Kariernya terus menanjak. Pada periode 2008–2010, ia menjabat sebagai Managing Director, Head of Capital Market di Mandiri Sekuritas, sekaligus Kepala Ekonom Bank Mandiri Group.
Sebelum masuk ke Bank Indonesia, Mirza terlebih dulu bergabung dengan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai anggota Dewan Komisioner. Sejak April 2012, ia juga merangkap sebagai Kepala Eksekutif LPS. Pada 3 Oktober 2013, berdasarkan keputusan presiden, ia resmi dilantik sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia untuk periode 2013–2014.
Baca Juga: Profil Harry Sanusi, Intip Jejak Perjalanan Karier Bos Kino Indonesia
Masa jabatannya kemudian diperpanjang hingga 2019. Selanjutnya, pada 2015, ia kembali mendapat amanah sebagai anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara ex-officio mewakili Bank Indonesia.
Setelah menyelesaikan masa tugasnya di Bank Indonesia, Mirza melanjutkan karier sebagai Tenaga Ahli Menteri Keuangan pada periode 2020–2022. Di waktu yang sama, ia juga dipercaya memimpin Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) sebagai Direktur Utama.
Pada 2021, Mirza ikut mencalonkan diri sebagai Ketua Dewan Komisioner OJK bersama Mahendra Siregar. Meski tidak terpilih sebagai ketua, ia tetap mendapat kepercayaan untuk menduduki posisi wakil ketua.
Selanjutnya, ia resmi menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK untuk periode 2022–2027. Namun, pada 30 Januari 2026, Mirza memutuskan mundur dari jabatan tersebut menyusul anjloknya IHSG.