Momen Presiden Prabowo Subianto bertemu dua pendahulunya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo (Jokowi) pada perayaan HUT ke-81 TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026) mendadak menjadi perbincangan publik yang penuh tafsir liar.
Banyak pihak beranggapan Prabowo dan Jokowi sudah selesai. Mereka telah pisah jalan karena berbagai alasan. Anggapan itu semakin kuat menggelinding setelah momen Prabowo yang tampak asyik berbincang dengan SBY seraya mencueki Jokowi yang berada di sampingnya viral di media sosial
Baca Juga: Gibran Jatuh, Jokowi Gerak Cepat Siapkan Pengganti!
Deputi Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Ricky Kurniawan, membantah anggapan itu. Ia menilai menilai gestur personal tidak semestinya langsung dianggap sebagai pertanda konflik politik.
“Tidak bersalaman bukan berarti perang. Tidak mencium tangan masa lalu bukan berarti durhaka,” ujar Ricky dikutip dari X, Selasa (6/10/2026).
Ia menilai posisi sebagai Presiden membuat orientasi seseorang tidak lagi sebatas hubungan personal maupun jaringan politik yang pernah mendukung perjalanan menuju kekuasaan. Setelah memperoleh mandat rakyat, seorang Presiden dinilai harus berdiri dengan identitas dan kewenangannya sendiri.
“Ada saatnya seorang Presiden berdiri bukan sebagai ‘orangnya siapa’, tetapi sebagai pemegang mandat rakyat Indonesia,” sambungnya.
Ricky juga mengatakan tanggung jawab Presiden mencakup seluruh rakyat, termasuk mereka yang tidak memilihnya. Menurut dia, tanggung jawab tersebut juga mencakup kelompok politik di luar pemerintahan serta kepentingan bangsa secara keseluruhan.
Karena itu, Ricky berpandangan Prabowo tidak seharusnya ditempatkan dalam perspektif memiliki utang politik kepada pihak tertentu. Ia menekankan bahwa mandat yang diemban Prabowo setelah menjadi Presiden merupakan tanggung jawab kepada rakyat dan konstitusi.
“Prabowo tidak berutang budi kepada siapa pun. Ia berutang kepada rakyat, konstitusi, dan masa depan Indonesia,” tegasnya.