Presiden Prabowo Subianto mengakui politik luar negeri di pemerintahannya sekarang ini dibangun lewat cara-cara yang diadopsi dari cara cara Presiden Joko Widodo (Jokowi). Maklum saja sebelum sukses menyabet kursi RI I, Prabowo adalah Menteri Pertahanan di Kabinet Jokowi.
"Dari sejak awal, bahkan sebelum saya resmi dilantik sebagai presiden, saya masih jadi Menteri Pertahanan dalam kabinet yang dipimpin Presiden Joko Widodo," kata Prabowo dilansir Kamis (22/10/2026).
Baca Juga: Hambalang-Solo Pecah Kongsi, Jimly Asshiddiqie Langsung Blak-blakan Soal Hubungan Prabowo-Jokowi
Prabowo mengatakan, politik luar negeri Jokowi adalah mengutamakan hubungan baik dengan negara-negara lain, ia tidak suka mengkonfrontasi pihak lain demi menjaga hubungan baik, cara seperti itu kata Prabowo sedang ia lanjutkan sekarang ini.
"Saya mengikuti juga garis politik Pak Joko Widodo pada saat itu, kita ingin punya hubungan baik dengan semua tetangga kita," ujarnya.
Prabowo mengatakan dirinya aktif menjalin komunikasi dengan negara-negara mitra dan berupaya memenuhi berbagai permintaan kerja sama yang dinilai sesuai dengan kepentingan Indonesia.
"Saya keliling, saya mau kerja sama dengan mereka. Apa yang mereka minta sebagian besar saya ikuti, dan itu yang berusaha kita pegang teguh," kata dia.
Prabowo kemudian menegaskan prinsip yang menjadi landasan kebijakan luar negerinya, yakni memperbanyak kawan dan menghindari permusuhan yang tidak perlu.
"Saya sudah sampaikan, garis politik luar negeri saya adalah: seribu kawan terlalu sedikit, satu musuh terlalu banyak," ucapnya.
Ia menyebut pendekatan tersebut sebagai the good neighbor policy atau kebijakan bertetangga yang baik. Melalui prinsip itu, Prabowo ingin Indonesia menjaga hubungan konstruktif dengan negara lain sekaligus memperluas peluang kerja sama.
Pernyataan tersebut memperlihatkan kesinambungan pendekatan diplomasi Indonesia dari pemerintahan Jokowi ke pemerintahan Prabowo. Namun, Prabowo juga menekankan bahwa hubungan baik dengan negara lain harus tetap berjalan dengan mempertimbangkan kepentingan nasional.
Prinsip merangkul berbagai pihak, menurut Prabowo, tidak hanya berlaku dalam hubungan internasional, tetapi juga dalam politik dalam negeri.
"Demikian juga dalam garis politik saya dalam negeri. Saya mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan kelompok," katanya.
Prabowo menyatakan berupaya merangkul seluruh kekuatan politik karena menilai Indonesia perlu menjaga persatuan di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian.
"Karena itu, saya berusaha untuk merangkul semua kekuatan. Karena kesadaran saya, bahwa kondisi global sekarang penuh kerawanan," ujar Prabowo.
Ia mengaitkan pandangan tersebut dengan pengalamannya yang panjang di bidang keamanan dan politik. Menurut dia, dinamika politik dan ekonomi saling berkaitan sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan dalam menentukan arah kebijakan negara.
"Karena kesadaran saya melalui pengalaman saya yang cukup lama di bidang keamanan, di bidang politik, di mana politik dan ekonomi tidak bisa dipisahkan," tuturnya.
Baca Juga: Skandal Ijazah Bikin Banteng Makin Ganas, Gibran Kena Seruduk, Mas Bowo Ikut Digoyang
Pernyataan Prabowo menempatkan diplomasi yang bersahabat dan konsolidasi politik dalam negeri sebagai dua pendekatan yang saling melengkapi. Di tengah ketidakpastian global, ia menekankan pentingnya memperluas kerja sama, mengurangi potensi konflik, dan menempatkan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok.