Direktur Energi Terbarukan Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Toni Susandy, menyebut potensi energi terbarukan Indonesia yang mencapai lebih dari 3.600 gigawatt (GW), ditambah target porsi EBT sebesar 61% dalam bauran kapasitas pembangkit pada Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, menjadi modal penting untuk mendukung dekarbonisasi industri.
“Transisi energi bukan semata-mata agenda lingkungan, tetapi bagian dari strategi ketahanan dan kemandirian energi nasional. Ketika perusahaan meningkatkan penggunaan energi terbarukannya, mereka tidak hanya mengurangi emisi tetapi juga menciptakan demand yang memberi sinyal positif kepada developer dan investor. Dekarbonisasi industri tidak harus dipandang sebagai cost of doing business, melainkan investasi strategis untuk menjaga daya saing industri di masa depan,” ujar Toni.
Peningkatan permintaan energi hijau juga dinilai dapat membuka peluang investasi baru dalam pengembangan infrastruktur energi terbarukan. Dengan adanya kepastian kebutuhan dari sektor industri, pengembang dan investor memiliki dasar yang lebih kuat untuk mempertimbangkan proyek-proyek energi bersih. Hal ini menjadikan kolaborasi antara penyedia energi dan pelanggan industri sebagai salah satu faktor penting dalam mempercepat transisi energi nasional.
Executive Chairperson Indonesia Energy Transition Implementation Joint Office (IETJO/Rumah PATEN), Edo Mahendra, mengapresiasi pendekatan PLN yang tidak hanya berfokus pada penyediaan energi, tetapi juga memperhatikan kebutuhan pasar dan mengonsolidasikan permintaan listrik hijau dari sektor industri.
“Di negara-negara berkembang, ada logika ekonomi untuk melindungi industri manufaktur nasional. Saya mengapresiasi PLN yang tidak hanya melihat dari sisi supply—yang merupakan cara lama dan tradisional—tetapi melompat melihat demand lalu mengagregasikannya. Selama ada kepastian, kejelasan, dan stabilitas, arus pendanaan akan mengalir masuk,” kata Edo.
Pendekatan yang menghubungkan kebutuhan industri dengan ketersediaan energi bersih tersebut diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang lebih kondusif bagi pertumbuhan investasi hijau.
Bagi industri nasional, akses terhadap solusi listrik hijau yang kredibel dapat menjadi salah satu faktor pendukung untuk menjaga kepercayaan mitra internasional, memenuhi kebutuhan pelaporan keberlanjutan, dan memperkuat daya saing di tengah perubahan standar pasar.
Melalui penguatan layanan REC dan GEAS serta kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, PLN optimistis dapat mendukung industri Indonesia menghadapi tuntutan dekarbonisasi global. Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari langkah mempercepat transisi energi dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi hijau di kawasan regional.
Baca Juga: Electrifying Agriculture PLN Bantu Jaga Produktivitas Petani di Musim Kemarau