Perkembangan teknologi digital membawa peluang sekaligus tantangan baru bagi anak-anak dan remaja. Akses informasi yang semakin mudah membuka ruang belajar dan berekspresi, tetapi di sisi lain juga meningkatkan risiko kekerasan, eksploitasi, dan berbagai ancaman di ruang digital.
Hal inilah yang menjadi perhatian utama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Dalam sebuah forum diskusi, Plt Deputi Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Indra Gunawan, menekankan pentingnya keterlibatan berbagai pihak untuk memastikan anak-anak tetap aman, baik di dunia nyata maupun di dunia digital.
Menurut Indra, suara anak dan partisipasi mereka dalam berbagai upaya pencegahan kekerasan dan eksploitasi harus mendapat ruang yang lebih besar.
“Kita bicara isu kesehatan reproduksi, bagaimana menghindari eksploitasi seksual di antara anak-anak, bagaimana upaya pencegahan dilakukan. Termasuk juga partisipasi suara anak itu sangat penting untuk didengarkan,” tutur Indra, saat menjadi pembicara di peringatan Safer Internet Day (SID) 2026 yang digelar oleh Yayasın SEJIWA di Golden Ballroom 2, Sultan Hotel & Residence Jakarta, belum lama ini.
Indra menilai, pendekatan komunikasi antar teman sebaya sering kali lebih efektif dalam menyampaikan pesan-pesan perlindungan diri dibandingkan komunikasi formal dari orang dewasa.
Menurutnya, ketika anak atau remaja saling berbagi pengalaman dan pengetahuan, pesan yang disampaikan menjadi lebih mudah diterima.

“Kalau kita mengomunikasikan antara sesama teman, mungkin akan lebih mudah didengarkan. Ngobrolnya juga lebih asik dengan bahasa yang sudah biasa digunakan,” katanya.
Karena itu, ia mendorong agar semakin banyak ruang diskusi dan kegiatan yang memungkinkan anak-anak berbagi pengalaman, berdialog, serta saling mengedukasi tentang berbagai risiko yang mereka hadapi sehari-hari, termasuk di ruang digital.
Lebih lanjut, Indra mengingatkan bahwa kasus kekerasan terhadap anak kini tidak hanya terjadi secara langsung di lingkungan sekitar, tetapi juga melalui platform digital.
Komunikasi di ruang privat, media sosial, hingga aplikasi pesan instan membuka peluang terjadinya eksploitasi atau kekerasan tanpa disadari korban.
“Perkembangan digital sangat cepat dan komunikasi bisa dilakukan di mana saja, bahkan di ruang privat. Karena itu, upaya pendidikan dan perlindungan perlu kita lakukan bersama,” jelasnya.
Ia menekankan pentingnya membuka ruang dialog agar anak-anak berani berbicara ketika mengalami atau melihat situasi yang tidak aman.
Baca Juga: SEJIWA Peringati Safer Internet Day 2026, Perkuat Resiliensi Digital dan Ruang Aman bagi Anak