O!Save merupakan jaringan minimarket bergaya hard discount asal Filipina yang mulai beroperasi di Indonesia sejak 2023. Mengusung filosofi “value over convenience”, O!Save menawarkan harga kebutuhan pokok yang lebih terjangkau melalui model bisnis sederhana dan efisien. Pendekatan ini membuatnya mulai dilirik sebagai penantang baru bagi pemain ritel mapan seperti Alfamart dan Indomaret.

Sebelum menyoroti kiprah O!Save di Indonesia, menarik untuk menengok lebih dulu kesuksesan brand ini di negara asalnya, Filipina. Capaian tersebut menjadi fondasi penting bagi ekspansi regional O!Save, termasuk ke pasar Indonesia. Model hard discount yang lahir pasca-pandemi di Asia Tenggara ini mencatat pertumbuhan pesat dan menarik perhatian investor besar.

Baca Juga: Deretan Konglomerat Berpengaruh di Sektor Ritel

Kisah Berdirinya O!Save

O!Save didirikan pada 2021 di Filipina sebagai bagian dari Robinsons Retail Holdings, anak usaha konglomerasi JG Summit Holdings milik keluarga John Gokongwei. Pada 2022, Robinsons Retail mengakuisisi saham dari HD Retail Holding asal Singapura, memperkuat kendali atas pengembangan O!Save.

Model hard discount yang diterapkan terinspirasi dari peritel Eropa seperti Aldi dan Lidl, di mana produk dijual langsung dari dus atau palet untuk menekan biaya operasional. Hingga akhir 2025, O!Save telah berkembang pesat dengan sekitar 750 gerai di Filipina, menjadi pijakan kuat sebelum melakukan ekspansi regional.

Baca Juga: Kisah Dominasi Indomaret di Indonesia

Di Indonesia, O!Save beroperasi melalui PT O!Save Indonesia sejak 2023. Perusahaan ini menjalin kemitraan strategis dengan Pos Properti Indonesia, anak usaha Pos Indonesia, untuk membuka gerai di lahan-lahan milik pos mulai 2025. Hingga kini, belum ada informasi publik mengenai pemilik mayoritas lokal, namun situs resmi O!Save menekankan model bisnis berbasis kemitraan sewa dan pemasok.

Pasar dan Strategi Ekspansi

O!Save membidik segmen frugal consumers, yakni konsumen yang sangat sensitif terhadap harga, terutama kelas pekerja dan keluarga muda di kota lapis dua dan tiga. Target ini relevan di tengah perlambatan ekonomi dan meningkatnya kebutuhan berbelanja secara hemat.

Hingga akhir 2025, O!Save telah mengoperasikan sekitar 100 gerai di wilayah DKI Jakarta, utara Banten, dan utara Jawa Barat, dimulai dari gerai percontohan di Bekasi. Strategi ekspansi yang diterapkan bersifat flanking, yakni menghindari lokasi premium dan kompetisi langsung dengan raksasa ritel, demi menjaga efisiensi biaya dan harga jual.

Baca Juga: Deretan Bisnis Milik Djoko Susanto, Jajaran Orang Terkaya Indonesia Pemilik Alfamart

Perbedaan O!Save terlihat jelas dari format tokonya yang lebih kecil, sekitar 100–150 meter persegi, dengan pilihan produk terbatas di kisaran 800–1.000 item kebutuhan pokok. Bandingkan dengan minimarket konvensional yang bisa menjual lebih dari 2.000 item. Harga produk O!Save diklaim rata-rata 20–30 persen lebih murah setiap hari tanpa bergantung pada promo sementara.

Dengan positioning tersebut, O!Save secara spesifik menyasar konsumen hemat di wilayah non-prime. Perusahaan menargetkan 200 toko hingga 2026, dengan fokus utama di Jawa Barat.

Strategi Bisnis dan Tantangan

Filosofi “value over convenience” menjadi inti strategi O!Save. Desain toko dibuat minimalis tanpa dekorasi berlebihan, sementara produk difokuskan pada kebutuhan sehari-hari seperti bahan makanan, perlengkapan rumah tangga, dan perawatan pribadi. Seluruh barang dijual dengan konsep everyday low price, tanpa promosi musiman yang agresif.

Pengamat ritel Yuswohady menyebut O!Save sebagai “smart disruptor” yang berpotensi menjadi pionir model ritel baru di Indonesia, asalkan mampu membangun loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Mengenal Kuncoro Wibowo, Pendiri Kawan Lama Group yang Mengubah Toko Glodok Jadi Gurita Ritel

Meski demikian, tantangan yang dihadapi tidak kecil. O!Save harus membangun kesadaran merek di tengah loyalitas konsumen terhadap Alfamart dan Indomaret.

Selain itu, persoalan logistik—terutama penyimpanan dingin untuk produk segar—serta regulasi ritel asing menjadi hambatan tersendiri.

Di sisi lain, dukungan pemerintah melalui kemitraan dengan Pos Indonesia membuka akses lahan strategis dengan biaya lebih rendah, yang dapat mempercepat ekspansi. Jika mampu mencapai 500 gerai pada 2027, O!Save dinilai memiliki potensi valuasi besar, meniru kesuksesan Robinsons Retail Holdings di Filipina.

Perjalanan O!Save dari Filipina hingga menjadi penantang baru di Indonesia menunjukkan kuatnya daya tarik model hard discount di tengah tekanan ekonomi. Keberhasilan jangka panjangnya akan sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi dengan pasar lokal dan membangun loyalitas konsumen—dua faktor yang dapat mengubah peta ritel modern Tanah Air.