Nyeri pinggang yang menjalar hingga ke kaki kerap langsung dianggap sebagai tanda saraf kejepit. Padahal, tidak semua nyeri pinggang disebabkan oleh kondisi tersebut.
Neurolog sekaligus Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr. Yeni Quinta Mondiani, SpN, mengatakan, kasus nyeri pinggang yang benar-benar disebabkan oleh saraf kejepit diperkirakan kurang dari 10 persen.
“Kalau nyeri pinggang bawah itu penyebabnya sangat bervariasi. Sebagian besar sebenarnya adalah mechanical low back pain yang umumnya berkaitan dengan gangguan pada otot atau ligamen,” kata dr. Yeni, sebagaimana Olenka kutip dari laman IPB University, Selasa (29/9/2026).
Istilah saraf kejepit umumnya merujuk pada kondisi ketika bantalan antartulang belakang menekan saraf di sekitarnya. Namun, nyeri pinggang bawah juga dapat dipicu oleh berbagai kondisi lain, mulai dari penyakit degeneratif dan trauma fisik hingga tuberkulosis (TB) tulang dan penyebaran keganasan ke tulang belakang.
Karena penyebabnya beragam, masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa nyeri pinggang yang dialami merupakan saraf kejepit hanya berdasarkan lokasi atau sensasi nyerinya.
Menurut dr. Yeni, saraf memiliki tiga fungsi utama, yaitu sensorik, motorik, dan otonom. Gangguan pada fungsi sensorik dapat menimbulkan keluhan seperti kebas, kesemutan, atau nyeri yang menjalar.
Sementara itu, gangguan motorik dapat menyebabkan kelemahan hingga kelumpuhan. Adapun gangguan fungsi otonom dapat ditandai dengan masalah buang air besar (BAB) maupun buang air kecil (BAK).
Untuk mengetahui penyebab sebenarnya, dokter perlu melakukan serangkaian pemeriksaan. Proses tersebut diawali dengan wawancara medis secara rinci, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik dan saraf serta tes provokasi.
Jika diperlukan, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti sinar-X, CT scan, atau MRI berdasarkan dugaan penyebab yang diperoleh dari pemeriksaan awal.
Baca Juga: Waspada Saraf Kejepit! Dokter Orthopedi Beberkan Gejala, Penyebab, dan Cara Mencegahnya
Pemeriksaan tersebut penting karena nyeri yang dirasakan pasien tidak selalu menggambarkan penyebab sebenarnya. Kondisi inilah yang membuat dr. Yeni mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan melakukan pijat ketika mengalami nyeri yang diduga berasal dari saraf kejepit.
“Kalau teman-teman didiagnosis sebagai saraf kejepit itu tidak boleh dilakukan pijat-memijat. Kecuali memang gerakan-gerakan khusus yang direkomendasikan oleh dokter fisioterapinya,” katanya.
dr. Yeni juga bilang, pijat memang dapat memberikan rasa nyaman pada keluhan yang berkaitan dengan otot.
Namun, jika penyebab nyeri bukan gangguan otot, termasuk apabila memang terjadi penekanan pada saraf, tindakan pijat yang tidak tepat berpotensi memperburuk kondisi. Karena itu, penyebab nyeri perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum menentukan penanganan.
Selain menghindari tindakan sembarangan, masyarakat juga perlu mengenali tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan medis segera. Salah satunya adalah nyeri pinggang yang disertai gangguan BAB atau BAK, serta kebas atau hilangnya sensasi pada area bokong dan kemaluan.
Gejala tersebut dapat mengarah pada cauda equina syndrome (CES), yaitu kondisi akibat kompresi berat pada kumpulan saraf di bagian bawah tulang belakang. Kondisi ini membutuhkan penanganan medis segera karena dapat menimbulkan gangguan saraf yang serius.
Bagi masyarakat yang masih ragu dengan keluhan yang dialami, dr. Yeni menyarankan untuk tidak menunda pemeriksaan dan dapat memulainya dari dokter umum.
“Kalau teman-teman bingung, datang saja dulu ke dokter umum. Sebenarnya dokter umum pun bisa mengenali tanda ini perlu dirujuk atau cukup ditangani,” tandasnya.
Baca Juga: Waspada Doomscrolling Bisa Picu Saraf Kejepit di Usia Muda, Ini Penjelasan Dokter Tirta